Minggu, 05 September 2021

Masa Iya Sih, Innerchild Bisa Menghambat, Tapi Juga Menghebatkan Masa Dewasa?



Alhamdulillah Emak kembali bisa mengikuti innerchild healing parade Webinar dari Ruangpulih.com pada tanggal 29 Agustus 2021. Kali ini pembicaranya adalah  Dr. Dr. Adi W. Gunawan, ST., Mpd., CCH dan  Drs. Asep Haerul Gani. 

Memberdayakan Innerchild untuk Sukses Masa Depan

Emak mengenal Pak Adi W Gunawan ketika dulu ikut salah satu kelasnya buketu IIDN, Widyanti Yuliandari. Waktu itu Mbak Wid memberikan link audio meditasi bimbingan Pak Adi. Emak sering mengulang-ulang mendengarkannya. Tapi jarang yang sampai selesai, soalnya biasanya Emak sudah ketiduran duluan! 

Pak Adi menyampaikan materinya dengan cara yang menarik. Emak jadi menyadari bahwa di dalam diri kita banyak sekali bagian-bagian diri yang lain. Setidaknya ada tiga bagian yang bisa dikenali.

Coba diamati, sering sekali terjadi pertentangan di dalam diri kita tentang sesuatu. Contohnya saat bangun tidur di pagi hari. Diri  yang satu mengajak segera bangun, diri yang lain merasa ingin lebih lama tidur. Sedangkan diri yang lain lagi adalah bagian yang mengamati pertentangan tersebut dan akhirnya memutuskan, mana yang akan dilakukan.

Salah satu yang lain dari bagian diri kita adalah innerchild. Innerchild yang terluka akan terus mengganggu kita bila tidak disembuhkan. Innerchild butuh diakui keberadaannya dan dia membutuhkan rasa aman. Bila ini tidak terpenuhi dia akan terus mencari perhatian. Uniknya innerchild bisa tinggal di salah satu bagian tubuh dan menyebabkan rasa sakit di sana. 

Pak Adi pernah menangani orang yang innerchildnya tinggal di dalam perutnya. Jadi ketika dia mengalami sesuatu yang mentrigger innerchildnya, bagian perutnya yang terasa sakit. Setelah innerchildnya bisa diatasi, rasa sakit di perutnya tidak muncul lagi. 

Ini pernah Emak alami dulu ketika dia merasa takut untuk pergi ke sekolah, dia selalu merasakan sakit perut. Emak juga sulit buang air besar. Ketika diperiksakan ke dokter, dokter hanya mengatakan kalau Emak kurang olahraga. Tentu saja Emak merasa jengkel, karena dia merasa sakit beneran, tetapi tidak ada yang mengerti dengan keadaannya. Alhamdulillah rasa sakit itu sekarang hampir tidak pernah muncul lagi. 

Tanda bahwa telah sembuh dari luka adalah tidak merasakan emosi yang tidak menyenangkan saat mengingat luka itu. Memaafkan bukan berarti melupakan. Memaafkan adalah menerima dengan ikhlas. Kita bisa sembuh dari luka, menjadi pulih dan berdaya. 

Innerchild Berusaha Melindungi Kita

Alam bawah sadar kita merekam kejadian traumatis yang pernah dialami dan berusaha melindungi kita agar tidak terjadi lagi. Contohnya anak yang melihat orangtuanya bertengkar, dalam pikiran bawah sadarnya menjaga agar anak tersebut tidak mengalami hal yang sama. Bagaimana biar tidak terjadi pertengkaran di antara suami istri, pikiran bawah sadar mengatakan, jangan menikah. Karena itu ada orang yang tidak bisa menikah, bahkan ketika sudah akan ijab kabul, membatalkan pernikahan itu.

Trauma innerchild bisa terjadi sejak masa di dalam kandungan. Ada wanita yang tidak hamil-hamil sekian lama padahal kondisi normal. Setelah diselidiki ternyata ketika dia berusia tiga bulan di dlm kandungan, ibunya pernah berusaha menggugurkannnya. Padahal tidak ada yang menceritakan hal ini. Tetapi janin merekamnya, dan tubuh dewasanya menolak untuk hamil agar dia tidak mengulang kisah ibunya yang ingin menggugurkan kandungan. Setelah diterapi dan sembuh dari traumanya, empat bulan kemudian dia bisa hamil.

Sadari Luka Innerchild

Luka innerchild bisa berlapis-lapis. Seringkali tidak disadari oleh penderitanya. Kita bisa melihat seseorang mempunyai luka innerchild atau tidak, dari tingkah lakunya. Misalkan seorang ayah yang tidak mau mengalah kepada anaknya, kemungkinan masa kecilnya mengalami luka innerchild yang membuatnya enggan mengalah. Seorang tentara yang gagah perkasa dan tidak takut menghadapi senjata, menangis seperti anak kecil ketika disuntik vaksin. Saat menangis ini diri innerchildnya yang menangis, bukan diri dewasanya.

Sangat penting menyembuhkan luka innerchild dan memberinya rasa aman, agar tidak menyabotase perilaku kita ketika dewasa.


Psikodinamika Innerchild Dalam Pernikahan

Dari materi yang disampaikan oleh Pak Asep Haerul Gani, Emak mengerti bahwa masa kecil bisa mempengaruhi tindakan kita di masa dewasa. Innerchild yang terluka dan belum diobati akan mempengaruhi kehidupan di dalam pernikahan. Pertengkaran atau konflik yang terjadi di antara suami istri bisa jadi disebabkan oleh innerchild yang terluka ini. 

Emak pun pernah merasakan hal yang seperti itu. Dulu Emak merasa mudah sekali baper. Hal yang kecil bisa jadi besar karena sebenarnya ketika mengalami suatu kejadian, dia membawa luka innerchild di dalamnya yang membuat sesuatu yang sebenarnya sepele menjadi terlihat besar karena dia melihatnya sebagai seorang anak kecil yang ketakutan. Bahkan sesuatu yang sebenarnya bukan masalah menjadi masalah besar. Tentu saja ini mengganggu relasi dengan Bapak dan anak-anak mereka. 

Ketika luka innerchild telah sembuh, Emak menjadi lebih obyektif dan tidak mudah baper lagi. 


Topeng Dalam Kehidupan

Manusia selalu memakai topeng di depan orang lain. Ketika topeng yang dipakainya tepat waktu dan tempat, maka dia akan bisa diterima oleh orang lain. Tetapi bila memakai topengnya di waktu dan tempat yang salah, akan terjadi konflik. 

Apakah yang dimaksud topeng itu? 

Memakai topeng adalah bagaimana cara kita berperilaku. Saat bersama orang tua, kita memakai topeng anak. Saat bersama istri, kita memakai topeng suami. Saat bersama suami, kita memakai topeng istri. Saat bersama anak kita memakai topeng orang tua. Di kantor kita memakai topeng atasan atau bawahan. Kapan kita tidak memakai topeng dan menjadi diri sendiri? Saat sendirian. 

Yang menjadi masalah adalah ketika kita memakai topeng yang salah di waktu yang salah. Misal saat menghadapi mertua, kita memakai topeng sebagai atasan, tentu terjadi konflik karena sikap kita bisa jadi dianggap kurang ajar. 

Trauma Mungkin Terlupakan, Tetapi Tidak Akan Hilang

Banyak trauma yang terlupakan, namun tidak hilang. Trauma ini muncul bila ada pemicu yang mentriggernya. Contoh ada seorang istri yang selalu merasa terpojok ketika berbicara dengan suaminya. Setelah diselidiki ternyata gerakan tangan suaminya mentrigger masa kecilnya. Saat itu dia pernah masuk ke ruangan kerja ayahnya untuk menunjukkan gambar, tetapi ayahnya marah dan menodongkan pistol ke arahnya. Gerakan tangan suaminya mentrigger ingatan bawah sadarnya tentang tangan ayahnya yang menodongkan pistol padanya. Setelah dia mengenali traumanya dan bisa menyembuhkannya, gerakan tangan suaminya tidak lagi menjadi masalah.

Contoh lainnya ada seorang istri yang selalu histeris ketika didekati suaminya. Ternyata itu disebabkan oleh bau parfume favorit suaminya yang mentrigger pada masa lalunya. 

Pertengkaran Dalam Diri

Di dalam diri kita banyak bagian diri yang lainnya. Dalam kehidupan berumahtangga, seringkali bila suami istri bertengkar, yang bertengkar bukan hanya dua orang itu, tetapi banyak bagian diri yang ikut bertengkar. Bahkan sebelum suami istri bertengkar, di dalam diri mereka sendiri sudah terjadi pertengkaran bagian-bagian dari diri sendiri.

Penyebab Trauma

Banyak kejadian yang bagi orangtua adalah hal yang biasa, tetapi bagi anak-anak menimbulkan luka dan trauma. Contohnya ketika pak Asep didatangi klien yang seorang boss, tetapi setiap akan menjawab pertanyaan selalu meminta persetujuan istrinya dulu. Setelah diselidiki ternyata hal itu disebabkan ketika kecil dulu dia tidak pernah ditanya oleh ibunya, apa keinginannya. Sedangkan kakak dan adiknya ditanya.

Jangan pernah berkata, cuma kayak gitu doang... Karena yang menurutmu cuma kayak gitu, bagi orang lain bisa merupakan trauma yang berakibat panjang.

Kenali Diri, Kenali Pasangan

Dalam pernikahan penting untuk mengenali egostate kita, kemudian mengetahui egostate pasangan. Dengan demikian kita bisa memaklumi apa yang kita dan pasangan rasakan. Penting juga untuk selalu mengingat apa tujuan kita menikah, sehingga kita tidak mudah goyah dalam menghadapi masalah-masalah yang timbul dalam pernikahan. Cintai innerchild kita dan pasangan kita, sehingga bisa sama-sama berproses menjadi lebih baik. 

Selalu ada insight ketika Emak mengikuti webinar dari ruang pulih. Karena itu Emak merasa bersemangat dan tidak ingin ketinggalan di setiap acaranya. 

Ohya apa yang disampaikan oleh Pak Adi dan Pak Asep, juga dipaparkan di buku Luka Performa Bahagia yang ditulis oleh Mbak Intan Maria Lie dan Mas Adi Prayuda. Buku yang sangat menarik dan bermanfaat ini bisa kalian dapatkan dengan harga Rp. 149.000 saja. Selain berisi kisah Mbak Intan kecil, buku ini juga dilengkapi dengan mandala yang bisa diwarnai lho. Kontak Emak bila menginginkan bukunya ya. 



Yogyakarta 5 September 2021

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar: