Tampilkan postingan dengan label catatanku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatanku. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Mei 2015

Wanita.. cintailah dirimu

Cintailah diri sendiri

Siang ini 30-1-2008 saya nonton acara oprah winfrey, sayangnya hanya sekilas. Padahal topik yang dibicarakan sangat menarik buat saya. Tapi ya apa daya, tak kuasa menolak panggilan tugas momong si kecil yang sudah punya banyak mau.

Tapi dari yang sekilas itu, beberapa hal dapat saya tangkap, dan Insya Allah bermanfaat buat saya, dan ingin saya bagi dengan semua wanita.

Pada acara itu disebutkan bahwa ternyata banyak wanita yang tidak mengasihi dirinya sendiri. Para wanita itu mencintai anak-anaknya, suaminya, dan keluarga lainnya, tapi kurang mencintai dirinya dan kehidupannya sendiri.

Banyak wanita yang rela berkorban untuk orang lain, tapi tidak untuk dirinya sendiri. Ternyata hal ini berakibat buruk pada anak-anaknya.

Meskipun si anak dicintai, tapi mereka tumbuh dengan tidak bisa mencintai dirinya sendiri. Karena mereka meniru ibu mereka yang tidak mencintai dirinya sendiri.

Ada seorang wanita yang bertemu dengan pria yang dianggapnya sempurna. Ketika wanita itu bertanya, bagaimana dia bisa seperti itu, apakah karena dia dicintai oleh ibunya, si pria menjawab, ibunya mencintai kehidupannya. Maksudnya, karena ibunya mencintai dirinya sendiri dan kehidupannya, ibunya bisa mencintainya dan keluarganya dengan tulus, sehingga bisa berbuat yang terbaik untuk semuanya.

Selama ini entah berapa banyak orang mengagungkan pengorbanan untuk orang lain. Mengasihi diri sendiri (bukan mengasihani diri sendiri) dianggap sebagai suatu sikap yang egois dan tidak terlalu baik. Kita didengung-dengungkan untuk memberi pada orang lain, dan tidak pada diri sendiri. Karena kalau kita mementingkan diri, kesannya kita tamak, serakah, mau menang sendiri dan mungkin akan bertindak korupsi.

Tentu yang dimaksud mengasihi diri sendiri bukan seperti hal di atas. Tapi sebagai salah satu contohnya, ketika kita telah mengantarkan anak-anak atau orang yang kita cintai tidur, bayangkanlah kita yang berada di posisi mereka, -kita ini dicintai, sehingga energi cinta itu juga mengalir kepada diri kita sendiri.

Sayang, hanya itu yang bisa saya tangkap.
Namun bila Anda pernah membaca ‘shadow work’nya Debborah Sue Ford (Debbie Ford), mencintai diri berarti kita bisa menerima dan merangkul semua aspek dalam diri kita, baik yang positif maupun negatif.

Bila kita benci pada seseorang karena kelakuannya, sebenarnya kita sedang mengingkari apa yang ada dalam diri kita namun tidak kita akui. Apa yang kita lihat dan rasakan dari orang tersebut adalah proyeksi diri kita sendiri. Sekali kita bisa merangkul aspek diri tersebut, tidak akan ada rasa benci atau apa yang dilakukan orang tersebut tidak akan mempengaruhi perasaan kita.

Demikian pula bila kita mengagumi seseorang karena suatu hal, sebenarnya itu adalah aspek yang ada dalam diri kita, yang mungkin tidak kita sadari, kita proyeksikan pada orang tersebut.

Menurut Debbie, kita adalah alam semesta, dan alam semesta adalah kita. Kita adalah segalanya. Karena itu bila kita bisa merangkul semua aspek yang selama ini kita ingkari, baik positif ataupun negatif, kita akan menjadi manusia yang utuh dan berbahagia. Kebahagiaan kita adalah anugerah bagi keluarga dan orang-orang di sekitar kita.

Jadi para Ibu dan wanita, cintailah dan kasihilah diri kita, sehingga kita bisa mencintai orang-orang yang kita kasihi dengan tulus.

Sejujurnya, saya bisa menuliskan banyak kata di atas, tapi untuk memulainya saya masih meragukannya. Mulai dari mana?

Mungkin kita bisa memulainya dengan meningkatkan rasa syukur kita pada Allah. Bersyukur karena Allah telah memberi kesempurnaan kepada kita. Bersyukur kepada semua anggota tubuh kita yang telah melakukan banyak hal untuk kita. Dengan menyadari dan mensyukuri betapa banyak nikmat yang telah Allah berikan, sehingga kita tidak dapat menghitungnya, kita bisa lebih mencintai diri kita dan kehidupan yang kita jalani. Semoga dengan begitu, rasa cinta itu bisa terpancar kepada orang-orang di sekitar kita.

Belajar dari mendengar: bersyukur atas segala hal

♧Menunggu Alya di kantin sekolah♧

Alhamdulillah Allah paring begitu banyak kenikmatan padaku. Salah satunya adalah bisa bertemu dengan banyak orang. Setiap org punya keunikan masing2. Dari mereka saya bisa belajar tentang banyak hal. Dari mereka saya bisa melihat begitu banyak keajaiban yang telah diturunkan Allah pada hambaNya.

Suatu hari saya bertemu dengan seorang istri pejabat. Istri seorang camat. Yang mengingatkan saya pada kakak sulung saya. Orangnya baik banget. Dia suka menolang orang. Suka nraktir teman2nya. Tapi suka memerintah oranglain. :-D

Lain hari saya bertemu dengan rombongan ibu-ibu muda yang ngerumpi di kantin sekolah. Yg diomongin dari A-Z. Ngomongin anak, tetangga, diri sendiri, peliharaan, belanjaan atau tempat2 yang mereka kunjungi dan kadang berantem sendiri diantara mereka. Lha ngobrolnya keras2 jd walau nggak bermaksud nguping kedengeran juga. Melihat mereka kadang jd seperti melihat sekumpulan anak2 perempuan bermain pasaran. :-D (kenapa aku merasa begitu ya?)

Di kali yang lain saya bertemu dengan ibu muda yang terlihat labil (emang ngerti labil itu apa? Haha...).
Dia bercerita macam-macam tentang diri dan keluarganya. Kadang ceritanya berubah-ubah. Tdnya bilang A, gak lama kemudian yang tdnya A jd B. Hemmh.. ya tidak apa-apalah. Dia sepertinya ingin didengarkan dan diperhatikan. Kalau saya ada waktu dan bisa mendengarkan dia, ya didengarkan saja, daripada bengong nungguin alya pulang. Tdk perlu menilai, tidak perlu tahu kebenaran ceritanya, tidak perlu terlibat, kecuali diminta. Jadi ya saya dengarkan saja.

Di hari yang lain saya bertemu dengan seorang ibu berputri 1 yang telah ditinggalkan suaminya utk selamanya karena sakit. Dia bercerita tentang anak tunggalnya yg dibanggakannya. Bgmn suaminya meninggal dan bagaimana anaknya yg berusia 7th menghadapi kepergian ayahnya. Anaknya tidak menangis. Orang2 bilang dia tidak menangis karena belum mengerti. Tapi setelah pelayat pulang, malam harinya dia bilang kalau dia sudah mengerti ayahnya pergi tidak akan kembali, tapi dia tidak menangis karena ayahnya pernah bilang orang yang meninggal tidak boleh ditangisi. Setiap kangen ayahnya dia  sebentar2 mengajak ibunya mendoakan ayahnya. MasyaAllah... dengernya jadi merinding.

Di lain hari saya bertemu dengan ibu penjual katering. Mendengarkan bagaimana perjuangannya mengelola katering anak-anak sekolah. Bagaimana dia pernah ditipu karyawan dll.

Kadang-kadang saya ngobrol dengan satpam sekolah. Satpam di dalam perempuan. Salah satu tugasnya 'mengusir' ibu-ibu yang nongkrong di kantin dalam sekolah pas jam anak-anak istirahat. Soalnya kasihan anak-anak tidak dapat tempat duduk dan rebutan memesan makanan dengan emak-emak kurang kerjaan (buktinya bisa nongkrong di sekolah gak mikirin kerjaan rumah dll- haha.. sok tahu. Padahal saya jg di sekolah biarpun sambil mikirin kerjaan rumah hehe..).
Kalau kantin di parkiran gak ada razia satpam. Pas istirahat pun boleh saja duduk di sana.
Bu Satpam biasanya mengucap salam dan mengatakan dengan ramah beberapa menit lagi istirahat jadi ibu-ibu yang sudah selesai di kantin supaya meninggalkan tempat itu. Pindah ke kantin luar atau kemana gitu yang tidak mengganggu anak-anak. Tapi ada juga ibu-ibu yang ngeyel, merasa punya hubungan baik dengan pemilik yayasan dan tidak memperdulikan bu Satpam. Bu Satpam pernah bilang juga kalau ibu-ibu itu sebenarnya yang membuat anak-anak mereka tidak mandiri. Kemana-mana diantar dan selalu dibantu, jadinya anak-anak tergantung sama orangtuanya.

Kadang-kadang saya bertemu dengan ibu kantin kampus sebelah. Masih sekolah Putra Darma Islamic School, tapi beda gedung. Anaknya sekelas dengan Alya. Ibu ini punya ide macam-macam. Sebenarnya idenya bagus-bagus. Seperti mengumpulkan uang sukarela untuk menjenguk yang sakit. Atau untuk makan-makan ibu-ibu satu kelas. Yang jadi masalah, dia tidak mau mengerjakannya. Pernah suatu kali saat anak-anak buka puasa bersama romadhon kemarin. Dia punya ide ibu-ibunya urunan untuk buka bersama juga -karena dari sekolah yang dapat makan kan cuma siswa. Ketika itu tiba-tiba dia memberikan uang beberapa puluh ribu ke saya (karena saya korlas) yang tidak tahu apa-apa. Dia cuma bilang, ini uang buat buka bersama ibu-ibu. Karena saya tidak tahu urusannya dan tidak merasa menyanggupi apa-apa jadi saya tolak. Belajar bilang "tidak", walaupun ternyata tidak gampang. Apalagi orangnya maksa..

Sudah ah ceritanya. Pada intinya, ketemu banyak orang itu menyenangkan. Jadi bisa melihat warna warni kebesaran Allah. Jadi bisa lebih bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah berikan padaku. Yang tidak bisa dihitung. Allah juga tidak memerintahkan untuk menghitung. Kita cuma diperintahkan untuk bersyukur. Sudah begitu kalau bersyukur Allah menambahi nikmatNya. Masya Allah..

Alhamdulillahirobbil'alamiin..

Jumat, 24 Mei 2013

Suwe ora jamu

Suwe ora jamu
Jamu godhong telo
Suwe ora ketemu
Ketemu pisan gawe gelo...

Mendadak teringat lagu tersebut ketika membuka blog ini.
My first blog yang telah sekian lama terlantar.
Kalau ini berupa tanah mungkin sudah berupa tanah kering kerontang karena nggak pernah disirami dan di rawat...

Tapi bingung juga blog ini mau diisi apa.
Mungkin diisi tulisan2 karanganku saja...

Selasa, 07 Desember 2010

Selalu ada saat pertama

PERTAMA KALI

Tiba2 sj aku ingat saat2 pertama kali.
saat pertama punya teman sebelum aku sekolah. saat pertama masuk sekolah. saat pertama jatuh cinta. saat pertama mengajar dll.
selalu ada saat pertama kali memulai sesuatu. ada yg sukses ada yg gagal. ada yang menyenangkan, menakutkan atau menyebalkan atau memalukan. tp kalau diingat sekarang semuanya terasa indah... terlalu manis utk dilupakan....
Alhamdulillah...

Selasa, 11 Mei 2010

BAZAR UB SUMBERJAYA 2004

Bongkar-bongkar, beres-beres, menemukan karya yang telah terlupakan. Ini gambar yang kubuat thn 2004, waktu ada bazar UB sumberjaya.
Tokoh2nya Dewi Sekar Arum, Yudha Adiwijaya dan Bagus Seno Pamungkas.

Saat gambar ini dibuat anak-anak masih kecil. Sekarang melihatnya lagi mereka senang sekali dan meminta ibunya membuat gambar-gambar lagi.

Minggu, 28 Februari 2010

Ketika nyawa (serasa) di ujung tanduk


Biasanya yang menjadi perumpamaan adalah, bagaikan telur diujung tanduk....

Siapa yang bisa menyangkal bahwa nyawa adalah sesuatu yang sangat berharga bagi pemiliknya? Orang bilang kucing punya 9 nyawa, padahal kita tahu sebenarnya ya cuma satu.
Kita cuma punya satu, dan ketika hilang dari raga, tak ada yang bisa menggantikannya. Meninggal. Mati. Titik.

Ketika hari-hari berjalan normal, ketika semua baik-baik saja, mati sepertinya jauh dari kita. Padahal mati itu sangat dekat. Kadang datang tanpa disadari oleh orang yang akan mati dan orang-orang di sekitarnya.

Tetanggaku pergi bekerja seperti biasa, ternyata pulang tanpa nyawa. Ada orang yang tidur dengan tenang, ternyata tidak pernah bangun lagi. Ada juga yang sakit parah, namun karena ajal belum sampai, nggak mati-mati. Malah orang sehat yang merawatnya yang mati duluan. Dan masih banyak lagi contohnya bila kita mau mencermati.

Sebenarnya setiap saat nyawa bagaikan telur di ujung tanduk. seperti telur di ujung tanduk, gampang banget 'pecah'nya. Tapi kadang-kadang hanya saat-saat tertentu kita (sangat) merasakannya.

Seperti yang ku alami.

29 maret 2007, saat melahirkan anak ke 4. Sesar lagi. 3 x sebelumnya sesar juga. Sampai ada yang bilang, kok nggak dikasih resleting aja? Emang celana pakai resleting....
Sesar yang keempat ini rencananya sekalian mengangkat miom atau rahim (tergantung mana yang bisa dilakukan). Padahal kalau dipikir, 3 x sesar kan sudah pengalaman. ya 'gitu-gitu' aja. Tapi tetap saja rasa takut mencengkeram hati. Padahal 3x sebelumnya malah biasa aja rasanya. mungkin karena jaraknya dekat. Dan sesar ke4 ini akan ada penyakit yang diangkat.
Terpikir olehku, inikah akhir dari ceritaku....?

Alhamdulillah dengan izin Allah aku kembali pulang dengan bayi mungil yang lucu, walau seminggu di rumah masih harus memakai kateter karena kandung kemih tergores pisau operasi, dan penyakitnya gagal diatasi.

Lalu lebaran tahun 1429H. Rencana senang-senang mudik lebaran, malah aku dan Sekar harus masuk RS. Sekar asmanya kambuh, aku karena HB rendah. Dunia sudah gelap, suara-suara hanya terdengar seperti dari jauh dan sentuhan terasa menyakitkan. Seperti berada di negeri antah berantah...
Akankah duniaku berakhir? Aduuh... padahal dosaku masih banyak dan malah tambah banyak....
Alhamdulillah walau harus jadi vampir menghisap 2 kantong darah dari pendonor, akhirnya bisa pulang. (thanks mas Dwi Gunawan, yang telah merelakan darahnya mengaliri tubuhku...)
Kemudian tgl 13 juni 2009 , aku menjalani operasi untuk menuntaskan yang tidak bisa dilakukan ketika melahirkan anak ke 4. Aku dioperasi untuk pengangkatan rahim dan ovarium kanan plus kista kanan-kiri. Ovarium kiri ditinggal, hanya dikupas kistanya.
Karena operasinya di tempat yang sama, biusnya juga lokal, jadi seperti sesar yang kelima. (dokter Gatot Prawoto yang mengoperasi aku sempat ngomel, "siapa sih yang bikin sayatan di sini? ini terlalu kebawah. Dokternya pasti penganut model Amerika, kalau sayatannya di sini pakai bikini nggak akan keliahatan...". fyi: dokter yang mensesar utk kelahiran pertama sampai ketiga adalah dr. Lidya Liliana, Sp.Og. Anak keempat dr. Lina Meilina. Sp.Og.. semuanya di RS Mitra Keluarga Bekasi Barat. Karena sesar dilakukan di tempat yang sama, otomatis yang berikutnya akan mengikuti bekas sayatan yang pertama.)
Malam sebelum berangkat ke RS aku tidak bisa tidur. Seperti inikah akhirnya? Apa aku akan kembali pulang ya...?
Ternyata...alhamdulillah Allah masih memberi kesempatan padaku untuk beramal. Alhamdulillah penyakitnya sudah diangkat dan aku sehat. Mudah-mudahan aku tidak menyia-nyiakan kesempatan yang telah dberikanNya. Amin.

Mungkin ada saat-saat lain ketika serasa nyawa bagaikan telur di ujung tanduk. Tapi saat-saat itu yang kuingat. Padahal kalau setiap saat nyawa bisa diambil oleh pemiliknya, berarti nyawa kita selalu bagaikan telur di ujung tanduk.

Untuk masalah dunia, anggaplah nyawa kita berada di tempat yang aman, kita akan hidup 1000th lagi. artinya, apa yang tidak bisa kita kerjakan hari ini, InsyaAllah bisa kerjakan di kemudian hari. Yang gagal hari ini kita sukseskan esok hari.
Untuk masalah akhirat, pikirkan bahwa kita akan mati sebentar lagi. Maksudnya, apa yang menjadi kewajiban kita kepada Allah segeralah lakukan sebelum terlambat. Karena tidak ada remedial atau hidup susulan buat yang kurang beramal.
Nasehat ini khususnya untuk diriku sendiri....

Kadang saat malam tiba dan semua telah terlelap, kupandangi keluargaku dengan rasa syukur yang meneteskan air mata. Alhamdulillah kami masih di sini. Masih diizinkanNya untuk menjalani hidup ini dalam bahagia dan sejahtera bersama-sama, dalam cinta dan hidayahNya. Bila Allah telah menghendaki, bisa saja salah satu dari kami hanya tinggal kenangan yang hidup dalam hati..
Bila itu terjadi, akan seperti apa hidup ini, aku tidak tahu. Yang kutahu, InsyaAllah akan selalu kusyukuri dan kunikmati saat-saat Allah memberi kesempatan kami untuk bersama-sama seperti saat ini. Semoga dengan bersyukur, Allah menambah nikmatNya sehingga kami lebih lama bisa bersama-sama. Amin.


Bekasi, Februari 2010

Minggu, 14 Februari 2010

SENYUM MATAHARIKU


SENYUM MATAHARIKU

Kadangkala kita tidak mendapatkan sesuatu yang kita inginkan. Kadang juga kita mendapatkan apa yang tidak kita inginkan. Kita tidak dapat memilih situasi yang sedang terjadi, namun kita dapat memilih sikap dalam menghadapi apa yang sedang terjadi.

Aku adalah seorang ibu rumah tangga dengan 4 orang anak. Yang sulung Sekar, kelas 6, perempuan. Yang kedua dan ketiga, Yudha kelas 4 dan Bagus kelas 3, laki-laki. Yang bungsu, Alya, 3 tahun, perempuan.


Pagi itu, seperti biasa aku bermaksud mengantarkan Sekar ke sekolah. Inginku jam 6.30 sudah mengantar Sekar ke sekolah. Jam 7.00 gantian mengantar Yudha Bagus. Karena Sekar masuk jam 7.00, sekolahnya agak jauh. Yudha-Bagus masuk jam 7.15 dan tempatnya lebih dekat. Tapi keinginan tinggallah keinginan. Anak-anak bukan mesin terprogram yang bisa selalu tepat waktu.

Pagi itu adalah pagi yang berantakan –begitulah menurutku. Harinya hari Sabtu, tanggalnya lupa (konon orang sanguinis tidak punya kalender di kepala). Anak-anak lelaki tidak mau bangun pagi. Alasannya karena hari itu Sabtu, hanya ekskul jadi malas ke sekolah. Sekar sudah bangun dan bersiap-siap, karena hari Sabtu KBM seperti biasa, tapi dia lupa kalau hari itu harus memakai baju pramuka, jadi kemarin baju pramukanya dimasukkan tempat cucian dan pagi itu masih basah kuyup.

Ha, aku pontang-panting mencari pinjaman baju pramuka. Alhamdulillah, dapat bajunya. Roknya terpaksa beli karena tidak ada yang bisa meminjami. Alhamdulillah ada toko kelontong dekat rumah yang menjual ‘segala macam’ barang dan buka pagi-pagi.

Berangkat ke sekolah sudah mendekati pukul 7.00. Sepertinya sepanjang jalan di kepalaku akan selalu menggantung awan mendung…. Sekar terlambat, anak-anak laki-laki belum bangun. Belum lagi Alya menangis waktu ditinggal mengantar sekolah. Sepulang mengantar Sekar masih harus membangunkan Yudha-Bagus dan mengantar mereka. Terus mau masak apa hari ini ya? Belanja apa? Belum mencuci, belum ini dan belum itu dll… Beginilah setelah aku tidak punya pembantu. Mungkin karena tidak biasa mengerjakan pekerjaan rumah, jadinya terasa sekali repotnya.

Jalanan agak padat. Aku tidak bisa tarik gas (kalau mobil tancap gas ya.. ). Lalu sambil jalan pelan-pelan aku mulai memperhatikan wajah orang-orang yang berpapasan denganku.

Waw! Ternyata banyak ragam ekspresi yang kutangkap. Ada yang terlihat penuh semangat (mungkin hari itu gajian). Ada yang serius (yang ini sepertinya mau presentasi –he, emang seperti suamiku yang serius banget kalau mau presentasi??), ada yang melamun (mungkin terkenang mimpinya semalam). Ada yang masih ngantuk (barangkali semalam kebagian ronda). Ada juga yang cemberut jelek sekali (seperti aku kali ya?). Ada juga yang tertawa-tawa mengobrol dengan temannya (yang ini anak sekolahan dan pegawai pabrikan sepertinya).

Lalu kulihat dia.

Seorang siswi SMP Putradarma. Hampir setiap pagi aku berpapasan dengannya kalau sedang mengantar Sekar. Wajahnya lembut, imut-imut, teduh, polos… apa lagi ya? cantik.


Seingatku setiap pagi yang kulihat sama. Dia naik sepeda, mengayuhnya dengan santai. Wajah lembutnya tidak menunjukkan ekspresi tertentu. Hanya terlihat polos dan damai, tenang tanpa masalah. Enjoy aja…

Melihatnya walau sekilas membuatku berpikir. Sebenarnya… apa masalahku, sampai mengundang mendung di atas kepalaku? Padahal hari ini matahari masih bersinar walau sedikit tertutup mendung tipis. Padahal aku sehat dan motor juga tidak ada masalah jadi bisa mengantar Sekar ke sekolah. Padahal begitu banyak nikmat Allah melingkupiku, sementara banyak orang tidak seberuntung aku.

Sampai di sekolah, Sekar terlambat. Tapi Alhamdulillah tidak apa-apa.

Pulangnya aku mampir beli Koran untuk suamiku, di agen Koran dekat sekolah Sekar. Di sana aku dulu mengambil Koran untuk dijual, bertahun-tahun yang lalu waktu kami buka kios buku.

Si Mpok penjual Koran habis mandi. Bersih dan wangi. Ketika melihatku masuk, dia mengenaliku, tersenyum lebar dengan bibir dan matanya –mungkin tepatnya seluruh dirinya. Sumringah.


Aku terheran-heran ketika menyadari mendung di atas kepalaku mendadak sirna oleh senyumnya. Seperti gelembung sabun yang tiba-tiba pecah.

Setelah membeli Koran dan basa-basi sebentar, aku pulang dengan senyum dan matahari di atas kepalaku. Ternyata dengan senyum, hidup terasa lebih indah.

Aku bisa berpikir, memang kenapa kalau Yudha dan Bagus belum bangun? Kalaupun tidak sekolah hari ini, bukan berarti itu akhir dari dunia. Alya mungkin sekarang sudah asyik bermain dengan ayahnya sementara aku sibuk menghawatirkan tangisnya tadi saat kutinggal. Tetek bengek yang lainnya pun bisa dikerjakan pelan-pelan.

Jadi… So what gitu loh…!! Just keep on smile. Life must go on.

Masalah tetap ada. Tinggal aku mau tersenyum dan bersyukur atau cemberut dan mengeluh.


Alhamdulillah, hari itupun berlangsung dengan baik. Walau perlu perjuangan dan terlambat, Yudha-Bagus akhirnya berangkat sekolah juga. Masakan yang enak dan bergizi juga tersedia. Lain-lainnya juga berjalan cukup baik. Memang sih malam harinya kedua kaki terasa panas dan berdenyut-denyut karena lelah. Tapi aku percaya semua itu tidak sia-sia.

Ketika semua telah terlelap, kupandangi suami dan anak-anakku. Tanpa terasa aku tersenyum, yang anehnya bersamaan dengan itu, air mataku mengalir di pipi. Senyum dan air mata bahagia. Tiba-tiba saja aku menyadarinya: Aku bahagia!

Bahagia itu bukannya tidak pernah mengeluh sama sekali. Bahagia itu bukannya tidak pernah merasa susah atau kekurangan. Kusadari bahagia itu adalah ketika aku menikmati kekinian. Menikmati apa yang tengah terjadi dengan rasa syukur

Begitu banyak karunia Allah yang bisa dan wajib kusyukuri. Itu bisa kumulai dengan bersyukur pada Allah atas pemberianNya yang melekat pada ruhku, mulai ujung rambut sampai ujung kaki. Lalu kebersamaanku dengan orang-orang yang aku cintai, yang kusadari sungguh bila Allah menghendaki, salah satu dari mereka bisa jadi hanya tinggal kenangan yang hidup dalam hati. Akupun harus mensyukuri fasilitas yang kumiliki saat hidup di dunia ini.

Dan yang lebih-lebih aku syukuri adalah hidayah Allah yang menjadikan aku sebagai orang yang beriman. Karena dengan keimanan, hidupku yang hanya sekali ini punya harapan untuk bahagia di akhirat nanti.

Alhamdulillah, sekarang bila hati tergoda untuk bersedih, aku berusaha memikirkan semua nikmat Allah yang telah diberikanNya padaku, dan mensyukurinya. Kufokuskan perhatianku kepada apa yang telah kumiliki, bukan pada apa-apa yang belum kumiliki. Misalnya saat rumahku bocor, bila kulihat orang-orang dengan rumah kokoh dan megah, tentu membuat hatiku lebih merana. Tetapi bila yang kulihat adalah orang-orang yang rumahnya kebanjiran, aku bisa bersyukur karena, apalah artinya rumah bocor bila dibandingkan mereka yang rumahnya tenggelam oleh banjir?


Alhamdulillahirabbil’alamiin, bersyukurlah orang-orang yang bisa bersyukur, karena banyak orang lupa untuk bersyukur dari hati, untuk kemudian diungkapkan dengan ucapan dan perbuatannya.

Bekasi, 10 februari 2010

Jumat, 03 April 2009

Untuk sebuah sapaan: Ibu Guru

Tak terasa, PUD Wali Barokah sudah berjalan hampir 3 bulan. (Ee..h baru 3 bulan kurang ya? Perasaan sudah lama….??)
Dari 92 siswa yang terdaftar, kira-kira 85an yang aktif. Bahkan ada 2 yang bukan siswa tapi aktif hadir. Yaitu Alya, anakku, dan Dara, anak Bu Wati. Keduanya belum terdaftar karena saat pendaftaran ditutup usia mereka belum genap 2 thn. Tapi semangat Alya untuk pergi ke PAUD benar menggebu.
Kadang belum pukul 8 pagi saat PAUD dimulai dia sudah ribut mengajak ke PAUD.
“PAUD! PAUD!” katanya sambil menarik-narik aku.
Kadang-kadang malah sore hari, atau malam hari dan hari libur mengajak ke PAUD. Bila kondisi memungkinkan kuajak ke PAUD dan melihat sendiri kalau saat itu tidak ada kelas. Halaman rumah Pak Dwi tidak ada tikar puzzle dan perlengkapan PAUD lainnya.
Sampai di rumah Alya biasanya cukup senang kalau aku menyanyikan lagu “Lonceng Berbunyi”, lagu wajib saat baris untuk “masuk kelas”. Judul aslinya aku tidak tahu. Apalagi pengarangnya.
Kalau aku menyanyikan lagu itu, Alya akan melompat-lompat di kasur dengan gembira, dan menjelang lagu berakhir dia akan berseru, “Lagi! Lonceng lagi!”
Jadi aku terus bernyanyi tanpa peduli orang lain tutup kuping mendengar suaraku yang fals, sampai Alya bosan. Kalau ikut PAUD juga ketika yang lain berbaris rapi Alya akan melompat-lompat di luar barisan.
Aku jadi teringat, waktu kecil aku punya banyak cita-cita, salah satunya guru. Aku nggak mengira kalau sekarang aku benar-benar jadi guru. Guru yang tanpa tanda jasa. Soalnya ya memang benar-benar cuma mengajar, wong nggak ada imbalan materi. Malah seringnya keluar biaya untuk ini dan itu. Tapi hati rasanya senang aja. Senang melihat murid-murid yang imut dan lucu.
Ya tentunya ini karena dukungan penuh dari suami yang Alhamdulillah meridloi dan juga mencukupi. Jadi, terimakasih suamiku, untuk segalanya yang telah engkau limpahkan untukku. Sehingga aku bisa menikmati saat-saat di depan kelas tanpa memikirkan urusan yang lain.
Sungguh senang rasanya kalau sedang berada diantara anak-anak yang imut dan lucu itu, dan mereka memanggilku Ibu Guru. (Jadi sebenarnya tetap ada tanda jasanya ya, yaitu sapaan: Bu Guru...!).
Alya (baju kuning), diantara teman-teman PAUDnya.

Rabu, 18 Februari 2009

Sebuah Pelukan untuk Muridku Sayang

Hari ini tgl 16 February 2009, Alhamdulillah PAUD berjalan lancar meski tidak ada Dwi dan Uya. Keduanya sedang mendaftar kuliah di UT, jurusan PG PAUD. Jadi, aku, Mila dan Bu Marno yang mengajar.
Mengajar anak 2-3 tahun kadang bête juga. Betenya, anak-anak itu masih suka sibuk sendiri dan nempel sama orangtua atau pengasuhnya. Kalau kita bicara lebih sering dicuekinnya. Jadinya kita lebih sering ngomong sendiri.
Hari ini yang masuk kelas A, yaitu kelompok usia 2-3th yang terbagi menjadi kelas A1 (Jeruk) dan A2 (Apel). Masing-masing mendapat waktu 1jam. Kelas berikutnya C (Anggur), untuk kelompok usia 6 thn. Kelas C kebagian waktu 2 jam karena lebih dipersiapkan untuk masuk SD.
Kelas yang berlangsung di halaman rumah pak Dwi Haryoto ini menyenangkan. Setelah berbaris dan menyanyi anak-anak duduk rapi. Mereka lalu berdoa, dan bermain.
Anak kelas A main donat-donatan, masak-masakan, binatang-binatangan dan bola basket serta bola-bola kecil aneka warna. Setelah lelah bermain, mereka istirahat, makan dan pulang.
Anak kelas C bermain lego. Ada 6 plastik lego yang ukurannya tidak sama. Kutumpahkan saja di depan mereka. Menurutku, anak-anak seusia itu akan dengan sendirinya memilih lego mana yang cocok dengan yang dimainkannya.
Merekapun asyik bermain. Kadang-kadang ada keributan kecil karena berebut, tapi pada umumnya mereka bisa bermain bersama dan saling berbagi.
Usai main lego, anak-anak istirahat. Setelah itu mereka menyanyi satu-satu maju ke depan. Ada yang menyanyikan lagu pelangi, balonku, dan bintang kecil. Alhamdulillah kebanyakan sudah berani.
Menjelang pulang, kami bernyanyi lagu aku dan kamu (judul aslinya apa aku nggak tahu.)
Aku, Aku, Aku, Aku ,Aku….
Kamu, Kamu, Kamu, Kamu….
Aku bertemu kamu
Hadap-hadapan… Salam-salaman….
Anak-anak berdiri sepasang-sepasang saling berhadap-hadapan. Ketika ada satu anak yang mogok tidak mau ikutan, tempatnya kugantikan. Seru juga saling berhadapan dan bersalaman. Salam-salamannya lalu kuganti dengan loncat-loncatan. Setelah itu kuganti dengan peluk-pelukan.
Ketika kata salam-salaman kuganti dengan peluk-pelukan, dan anak yang berpasangan denganku kupeluk, ternyata anak itu sangat suka dan menikmatinya. Teman-temannya pun iri dan minta berpasangan dengan ibu guru supaya kebagian dipeluk.
Ah…ternyata anak-anak itu begitu gembira dengan mendapatkan pelukan dari gurunya….

Kamis, 05 Februari 2009

Nyasar

Pelatihan PAUD di Cikarang Barat
Kemarin 29 Jan 2008, aku menghadiri pelatihan penyelenggara PAUD di Cikarang Barat.
Info pelatihan kudapat dari Ibu X, melalui Bu Wati, bendahara PAUD Wali Barokah.
Infonya: tgl 29-31 Jan ada pelatihan PAUD di telaga Sakinah jam 9.
Aku tanya surat undangannya, nggak ada. Waktu kutanya, alamat lengkapnya mana? Bu Ilham, atau Bu Wati, menjawab, balai PKK depan telaga Sakinah. Sedangkan Bu Toto, atau Bu Eliyati, ketua PAUD, mengatakan ke telaga Sakinah aja, nanti cari tempatnya.
Rencananya aku dan Bu Wati yang berangkat. Tapi karena hari itu Bu Wati harus rapat di SMP anaknya, aku berangkat dengan Mila, salah seorang tutor.
Karena bayanganku pokoknya datang ke telaga Sakinah dan cari di sana, kupikir tempatnya InsyaAllah mudah ditemukan.
Jadilah hari itu jam 8.30 kami berangkat, setelah minta ancer-ancer Pak Wijayanto, suamiku. Katanya. Dari kompas ke kiri terus kira-kira 5 km. Nanti kiri jalan ada plang telaga Sakinah. Kalau sudah sampai terminal Cikarang, berarti kebablasen.
Ternyata memang kami kebablasan karena papan nama telaga Sakina cuma ada rangkanya saja dan papan nama si sebelahnya sudah tidak jelas terbaca.
Setelah bertanya pada orang yang menurutku berpakaian petugas retribusi (Bawah biru tua, atas biru muda banget, mendekati putih) di depan terminal, kami diberitahu ancer-ancernya. Kami harus putar balik, sebelum mesjid yang besar di kanan jalan, belok kanan. Kutelpon Bu Wati katanya sblm RS Karya Medika belok kiri kalau dari tambun.
Akhirnya kami sampai juga di perumahan telaga Sakinah. Di gerbang dihentikan satpam. KTP ditukar kartu tamu. Waktu kutanya tentang pertemuan PAUD, ternyata dia nggak tahu. Aku ditunjukkan jalan ke rumah ketua RW.
Kucari rumahnya, setelah ketemu ternyata beliau tidak ada di tempat.
Mila kelihatan sudah capek, “Kasihan deh kita…” komentarnya.
Kutanggapi dengan senyuman saja. “Segala sesuatu akan ada akhirnya. Apa yang kita lewati adalah qodar Allah, dan apapun itu, Allah pasti menyimpan sesuatu hikmah di baliknya.”

Termasuk kami berdua jadi bola pingpong atas kesembronoanku mengajak pergi orang lain ke suatu alamat yang tidak jelas. Kalau soal kesasar sih sepertinya makanan selingan buatku…hehe. Maksudnya biarpun tidak selalu, aku sering kesasar. Dan sepertinya nggak kapok-kapok. Tapi biasanya aku sendirian. (Don’t follow me, I’m lost too…) Lain ceritanya kalau ngajak orang. Aku jadi merasa bersalah. (Maaf ya Mila…)
Oleh tetangga sebelahnya disarankan ke rumah ketua PKK, nggak jauh dari situ. Kukunjungi rumah yang ditunjuk. Ternyata bukan rumah ketua, tapi rumah sekretaris.
Namanya Ibu Lia, orangnya ramah dan baik hati. Beliau tidak tahu tentang acara PAUD, tapi berbaik hati cari informasi kepada yang dikenalnya by telepon. Hasilnya, nihil. Hari itu gak ada kegiatan apa-apa tentang PAUD atau PKK di Telaga Sakinah. Biasanya juga kalau ada kegiatan apa-apa, beliau ini seksi sibuknya. Beliau mengatakan mungkin di sekolah Darul Fikri, yang letaknya di dekat Telaga Sakinah, karena di sana pernah ada pelatihan PAUD.
Keluar dari rumah Bu Lia, aku dan Mila duduk-duduk di depan warung, minum teh botol sambil nunggu info dari Bu Eli dan Bu Wati tntang alamat yang jelas. Waktu Bu Lia telpon aku juga telpon Bu Eli dan Bu Wati.
Bu Eli telpon, karena tidak bisa menghubungi Ibu X (nggak tau nomor telpnya), info terakhir pelatihan PAUD ada di sekolah SMP di telaga Sakinah. SMP apa tidak jelas, dicari aja…
Dari Bu Wati aku di SMS nomor Ibu X. (Maaf bu Wati, rapatnya sering kuganggu dengan telepon-telepon dan smsku).
Kutelepon Ibu X yang sedang sibuk di kantornya. Kata beliau, pelatihan bukan di telaga sakinahnya, tapi di depannya. Telaga sakinah masih terus, nanti cari UPTD Cikarang Barat. Kalau sudah ketemu UPTD, tanya di mana ITKG atau IGTK atau apa gitu, aku lupa. (sujujurnya sampai sekarang saya belum paham apa itu UPTD. Pernah diberitahu singkatannya tapi nggak nyangkut di kepala. Pokoknya urusan pendidikanlah…:P)
Ya sudah deh, aku dan Mila keluar dari Telaga Sakinah, bermaksud kembali menyusuri jalan kearah terminal cikarang. Tapi aku lalu ingat, kenapa nggak telpon Uya aja, sekertaris PAUD Wali Barokah. Kan Uya sering ‘melanglang buana’, alias pergi-pergi ke mana-mana.
Tadinya Uya bingung juga kutanya. Tapi ketika kusebutkan UPTD, dia ingat kalau di perumahan Taman Aster ada UPTD. Yah, untung-untunganlah, sekalian balik ke rumah, karena perumahan Taman Aster tadi sudah terlewat, agak jauh di belakang Telaga Sakinah. Kalau nggak ketemu, rencananya kami pulang saja.
Sebenarnya, sehari sebelumnya, aku dan anak-anakku –Sekar, Yudha, Bagus, Alya, ke Fedus (Family Education Series, bisa dilihat di website, www.fedus.org). Di sana ada perpustakaan mini. (Kami berlima naik satu motor. Kayak rombongan sirkus…hehe) Ketemu Ibu Hurul , kepala PAUD Bangkit Jaya. Bu Hurul menyinggung masalah pertemuan PAUD hari ini. Beliau mengatakan tempatnya di Aster, tapi belum tahu juga.
Mendengar itu, aku sudah konfirmasi ke Bu Wati dan Bu Toto, mungkinkah tempatnya di Taman Aster dan bukannya Telaga Sakinah. Beliau berdua mengatakan di Telaga Sakinah, bukan Aster. Mungkin penyelenggaranya lain-lain.
Sampai di Taman Aster, pas di pinggir jalan ada papan nama UPTD. Kami masuk dan sampai di tempat parkir kira-kira sudah jam hampir jam setengah 11 siang. Kutanya seorang Bapak berseragam coklat-coklat pemda yang sepertinya baru tiba. Bapak itu malah bilang kalau kantor UPTD ada di cibitung.
Cibitung mak! Innalillahi (Baru saat itu aku ingat untuk istirja’ –payah deh).
Cibitung kan bisa dibilang dekat rumah. Kami sudah jauh-jauh sampai terminal Cikarang, masa balik ke Cibitung.
“Masa sih Pak? Kok plangnya ada di sini?” tanyaku.
“Iya di sini ada plangnya tapi kantornya di Cibitung. Dekat pasar induk.”
Aku nggak percaya. “Kalau IGTK?”
Apa itu IGTK? Aku juga nggak tahu.
Akhirnya Bapak itu nanya perluku apa, dan dia masuk ke dalam tanya sama orang di dalam.
Tak lama kemudian dia keluar dan membawa kabar gembira. Benar ada pelatihan PAUD, tapi tempatnya agak masuk ke dalam arah perumahan Aster. Dia menunjukkan arahnya, nanti ada lapangan belok kiri. Di belakang lapangan itu pelatihannya. Tapi namanya bukan IGTK.
Terserah deh namanya apa. Yang penting tempatnya ketemu.
Sesampainya di sana, banyak ibu-ibu berkumpul. Aku memarkir motor dan kusuruh Mila tanya pada Ibu-ibu yang jaga absen, apa benar disitu tempat pelatihan PAUDnya.
Memang benar.
Alhamdulillah. Aku lega. Apalagi ada beberapa orang juga yang baru datang dan saat absen diberi map plastik berisi makalah, notes dll.
Tapi waktu aku mau absen, ternyata PAUD Wali Barokah nggak ada daftarnya.
Nah lo!
Gimana nih? Boleh masuk nggak?
“Kalau mau masuk, masuk aja Bu.” Kata Petugasnya yang berpakaian hitam-hitam dengan kerudung biru muda. “Dapat ilmunya, tapi nggak dapat apa-apa.” Maksudnya nggak dapat map plastik beserta isinya, nggak dapat snack dan makan dan entah apa lagi.
Aku dan Mila masuk dan Alhamdulillah masih dapat tempat duduk. Gak apa-apalah nggak dapat lain-lain selain ilmu. Toh kami datang juga tujuannya cari ilmu.
Setelah bisa duduk tenang, ku sms yang tadi kuganggu dengan telepon-teleponku.
Alhamdulillah sudah sampai tempat pelatihan. Nyasarnya 2 jam. Sebuah pelajaran: kalau mau pergi ke suatu tempat, harus tahu alamat jelasnya dulu….
Biar waktunya tinggal sedikit, banyak ilmu yang bisa kami dapat. Nabi bersabda, carilah ilmu sampai negeri cina. (Bukan carilah ilmu sampai dapat walau kesasar sampai kemana-mana…huahaha… Aku masih sering menertawakan diri kalau ingat itu…)

Rabu, 28 Januari 2009

Catatan PAUDku

Kegiatan Belajar Mengajar




Bu Guru Kepanasan...







Makan Bekal dari rumah











Alhamdulillah, hari berikutnya, PAUD lebih lancar. Hari tidak hujan, Anak-anak semua semangat belajar di halaman rumah Pak Dwi Haryoto. Mudah-mudahan aja ada yang baik hati memberikan tempat atau dana, sehingga kegiatan belajar mengajar PAUD dapat lebih lancar dan barokah. Amin.

Selasa, 27 Januari 2009

CATATAN PAUDKU

Hari ini 27 jan 09 untuk pertama kalinya aku masuk di kelas untuk menjadi tutor PAUD. Seharusnya aku yang mengajar di depan. Tapi karena belum pengalaman sama sekali digantikan oleh Dwi Martanti.
Lumayan gak pede. Kadang aku masih banyak bengongnya. Malah perasaan aku jadi murid PAUDnya, bukan tutornya…hehe…
Alhamdulillah semua lancar. Bu Dwi sudah terampil memegang kelas, baik siswanya maupun tutor yang membantunya. Jadi yang ‘bengong’ kena diberdayakannya.
Anak-anak kelompok 2-3 tahun masih culun-culun banget. Lucu-lucu dan ada beberapa yang masih takut/malu sehingga masih didampingi ortu atau kakaknya. Mereka jg masih banyak bengongnya. Segitu banyaknya tutor masih juga bisa bengong…. Haha..
Ohya, tadi Alya ikut di jam pertama. Tapi nggak lama mau main sendirinya. Terus mulai narik-narik ibunya, diajak ambil mainan dll yang belum boleh diambil. Lagian Alya kan belum terdaftar PAUD Wali Barokah karena usianya belum 2 tahun.
Sebenarnya Ugik, yang membantuku di rumah sudah menyusul ke tempat PAUD untuk mengambil Alya, tapi Alyanya malah nangis…
Akhirnya Alya kuantar pulang hujan-hujan. Setelah nenen sebentar, lalu kutinggal.
Untuk anak yang usianya 4-5 thn sudah banyak yang berani dan mengerti perintah. Mereka memperhatikan dan senang belajar.
Alhamdulillah, hari ini berjalan dengan baik.
Semoga besok lebih baik lagi. Amin.

Rabu, 21 Januari 2009

PAUD

Pendidikan Anak Usia Dini sedang menjamur di mana-mana. Ibaratnya ke mana pun tempat kita berkunjung, tulisan PAUD mudah dilihat.
Namun begitu, saya tidak tahu apa-apa tentang PAUD selain yang kelihatannya: Tempat bermain seperti playgroup. Atau lebih kurang ya seperti Taman Kanak-kanak.
Sampai suatu hari, Ibu Hartini Sumarno, Ketua Posyandu di lingkunganku datang berkunjung dengan puterinya yang cantik Aulia Nurma. Yang setelah berbasa-basi meminta kesediaanku untuk menjadi wakil ketua PAUD WALI BAROKAH.
Tepatnya kapan saya tidak ingat. (Menurut Florence Litteur, pengarang “Personality Plus”, seorang ‘sanguinis’ tidak punya kalender-karena tidak ingat akan tanggal) Kalau tidak salah setelah lebaran Idul Fitri 1429H.
Agak tercengang juga saya, karena selama ini selain momong anak-anak di rumah, saya jauh dari dunia pendidikan. Maksudnya, saya bukan guru, bukan pula mubalighot, dan belum pernah berorganisasi. Tapi saya senang dunia anak-anak. Mungkin karena jiwa anak-anak di dalam diri saya masih banyak dibandingkan seharusnya, bila dilihat dari usia :p. Disamping itu, anak saya juga cukup banyak, biarpun masih bisa dihitung dengan sebelah tangan. Masih lebih 1 malah. Alhamdulillah, Allah memberikan 4 anak kepada kami. Wonderful Childrend.
Kembali ke PAUD.
Akhirnya, setelah mendapat izin dari suami, kuputuskan menerima jabatan sebagai wakil ketua. Disamping karena senang dengan dunia anak, juga karena dipandang tidak ada orang lagi. Bukan karena soal pantas atau tidak menjadi wakil ketua, tapi sulit mencari orang yang mau. Sebagai ketua adalah Ibu Dra. Hj. Eliyati Suharto. Sebagai Bendahara, Ibu Rochmawati Ilham Rusdi. Sekretarisnya Aulia Nurma. Pas banget si cantik ini jadi sekretaris, soalnya memang dia yang paling ahli komputer diantara kami semua. Sepertinya, semua orang pas dengan jabatannya. (Kecuali saya).
Ok. Berarti kepengurusan sudah terbentuk. Ada ketua, ada wakil, ada sekretaris dan bendahara. Sekarang tinggal siapa yang menjadi tutornya.
Agak sulit juga mencari siapa yang mau menjadi tutor. Karena PAUD adalah LSM yang notabene tidak bergaji. Walau menurut berita di Koran guru PAUD berhak mendapatkan insentif 100.000 perbulan dari pemerintah, pada kenyataannya kita tahu, entah kapan uang itu akan sampai di tangan yang berhak. Jadi bisa bilang, jangan mengharap apa-apa dari PAUD, bahkan harus siap tombok.
Ketika ditawarkan kepada beberapa orang, bersediakah menjadi tutor PAUD? Umumnya mereka bertanya, dibayar berapa? Karena tidak ada yang bersedia, kami pengurus yang akhirnya jadi tutor juga. Plus,Mbak Karmila, seorang mubalighot yang biasa menangani cabe rawit (maksudnya pengajian anak-anak setara TPA, bukan cabe rawit beneran yang pedas itu!),Ibu Hartini Sumarno dan Ibu Dwi Martini, kakak Uya (Aulia Nurma biasa dipanggil Uya). Ibu Dwi atau Mbak Dwi, -enaknya disapa Mbak, karena masih muda, ini sudah menjadi tutor PAUD di PAUD tetangga. Jadi kepadanya kami meggantungkan harapan. Soalnya, tak satupun dari kami yang paham apa dan bagaimana PAUD itu.
Akhirnya pada tgl 6 Desember 2008, PAUD Wali Barokah (WB) dinyatakan resmi berdiri. Ditandai dengan rapat bersama pengurus PAUD,Kader Posyandu, Ketua RT 01 dan 02, dan para pemuka Masyarakat seperti Ketua Kelompok Pengajian dan juga Mubaligh dan mubalighot.
Resmi berdiri ya. Tapi pelaksanaannya tidak mudah.
Tim PAUD WB mencari tahu tentang serba-serbi PAUD. Membuat formulir pendaftaran dan menyebarkannya, mencari dana untuk sarana dan prasarana dan lain-lain.
Ternyata peminat PAUD diluar dugaan. Tidak kira-kira, ada lebih dari 80 anak yang mendaftar. Kamipun sibuk mendata, membagi siswa berdasarkan golongan usia, lalu membaginya dalam kelas-kelas dan kelompok-kelompok.
Disamping itu, kamipun disibukkan dengan membuat SKH (satuan kegiatan harian) yang membuat pusing tujuh keliling, karena biarpun sudah diberi beberapa contoh, masih juga bikin kepala mumet.
Namun akhirnya, persiapan dan lain-lain bisa berjalan. Insya Allah PAUD WB akan mulai tahun ajaran pertamanya tanggal 26 Januari 2009. Pas tanggal merah. Tapi…siapa takut?
Mohon doanya semoga PAUD WB ini menjadi PAUD yang berhasil. Amin.
Kalau ada yang punya pengalaman atau cerita tentang PAUD, please share ya. Tks.

Senin, 24 November 2008

Kecewa

Kecewa
Itu yang kurasakan saat mengetahui tiket konser rossa telah habis terjual.
Aku tahu ini qodar Allah. Mungkin lebih baik aku di rumah atau ke tempat lain yang bukan konser. Bagaimanapun itu lahan.
Tapi rasa kecewa itu begitu kuat, sampai air mataku tidak berhenti mengalir, bahkan di depan anak-anak.
Sejak dulu, bertahun-tahun yang lalu, sejak beli kaset albumnya rossa aku ingin menonton konsernya. Rasanya menyenangkan ketika berdua dengan mas Wied membicarakannya.
Tapi sekarang, ketika konser itu benar-benar ada, kami tidak bisa nonton karena kehabisan tiket.
Tapi ya sudahlah.
Apa yang bisa dilakukan seorang hamba bila Tuannya punya kehendak?
Mungkin lain kali, Allah memberikan ganti untuk kecewa yang kuikhlaskan hari ini.

Senin, 27 Oktober 2008

Lebaran tahun ini


SELAMAT LEBARAN!
“Taqobalallahu minna wa minkum.. Selamat Idul Fitri 1429 H. Mohon maaf lahir dan batin. Ningrum Wijayanto n kel.”
Itu adalah bunyi sms yang kutuliskan untuk orang-orang yang aku kenal dan kutahu nomor hpnya. Tidak ada kata-kata istimewa atau yang berbunga-bunga. Pokoknya ucapan selamat idul fitri dan permohonan maaf.

Ada yang sampai, ada yang tidak.
Ada yang berbalas, ada juga yang tidak.
Lebaran, dari tahun ketahun selalu istimewa. Dan mau tidak mau (biasanya sih selalu mau), rasanya harus selalu mudik ke rumah orangtua. Pernah kami tidak mudik, dan ketika malam takbiran, mendengar takbir berkumandang, rasanya hati begitu nelangsa. Setelah sholat Ied, keliling ke rumah tetangga yang juga tidak pulang, akhirnya malah jadi bertangis-tangisan. Bukan karena ingat dosa, tapi karena tidak mudik.
Berenam (aku, mas wijay, Bagus, Alya dan 2 orang pembantu -yang seorang pembantu tetangga, nebeng) pulang tanggal 25 september. Sementara Sekar dan Yudha sudah berangkat lebih dulu tanggal 21 september, bareng Pakde Win dan Bude Ninik, kakak sulungku yang tinggal di semarang.
Di Yogya kami sempat jalan-jalan ke ketep, tempat pengamatan gunung merapi dan gunung-gunung yang lainnya bersama kakak-kakakku. Dari sana kami ke candi borobudur. Hebatnya Sekar dan Yudha tetap berpuasa sehari penuh walau kepanasan dan kecapekan.Tahun ini Yudha pol sebulan penuh puasanya. Sekar batal 2 hari karena sakit. Kalau Bagus karena merasa masih kecil, belum mau puasa. Padahal tahun sebelumnya dia berhasil 1 hari puasa sehari penuh.
Yang berbeda dari saat mudik yng lain, kali ini aku bisa bertemu dengan 2 sahabatku sejak kuliah dulu. Tri Wahyuningsih dan Oka Kurniasih. Oka datang ke Yogya, ke rumah mertuanya dari Bangka, setelah mungkin sekitar 10 thn tidak pernah menginjak Yogya. Tri tinggal di Yogya, tapi kami jarang ketemu. Terakhir kami bertemu sebelum ini adalah ketika anak keduanya masih kecil. Sekarang anaknya 4.
Di Yogya kami menikmati lezatnya buka puasa dengan ikan bakar di Pujabantara, restorannya mas Imad, keponakanku, putera mbak Nik dan mas Win. Dan malamnya anak-anak bergembira melihat pawai di dekat pasar kotagede.
Sehari setelah sholat Ied kamipun berangkat ke menjing.Sampai di Menjing, anak-anak segera akrab bermain dengan saudara-saudara mereka.
Kata Sekar, “Kalau di Menjing enak banyak petualangannya. Kalau di Yogya enak bisa malas-malasan (sambil baca buku).”
Yah...begitulah. Bedanya kotagede dan menjing. Di kotagede seolah segalanya serba mudah dan enak. Di menjing segalanya dinamis.Anak-anakpun bergembira karena selama di Menjing mereka bisa mandi di kali, naik-naik ke puncak gunung dan lain-lainnya. Sampai menjelang saat pulang kembali ke alam nyata... eh, ke bekasi.
COBAAN
“Karunia Allah akan terasa nikmat ketika telah meninggalkan kita.”Lebaran kali ini adalah istimewa buat kami.
Kalau biasanya mudik lebaran boleh dibilang berjalan sesuai rencana, kali ini berbeda.
Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, apakah kalian merasa telah beriman pada Allah, sementara kalian tidak mendapat cobaan?” (terjemahan bebas).
Kami yang merasa sebagai orang yang beriman, kali ini mendapat giliran dicoba oleh Allah.
Buatku cobaan ini bukan main-main.
Ketika berangkat ke Semarang, Alya sariawan. Aku sendiri karena salah makan jadi diare. Oleh mas Win aku diantar ke klinik untuk berobat. Alhamdulillah membaik. Setelah sampai di Yogya dan Ugik, asisten pribadiku (cie... maksudnya PRTku) pulang ke rumahnya, hampir semalaman aku tidak tidur menggendong Alya. Padahal saat itu walau telah sembuh dari diare, kondisiku kurang baik karena sedang haid. (Banjir bo! Dan sakitnya minta ampun deh. Soalnya tanpa mengurusi anak sekalipun, mengurusi diri sendiri aja rasanya sudah kelenger karena aku punya miom yang mengakibatkan sakit luar biasa saat haid.) Tapi aku bersyukur -bersyukur banget karena Allah memberiku kekuatan dan keikhlasan walau berderai air mata masih bisa menggendong-gendong Alya. Alhamdulillah setelah minum obat kondisi Alya berangsur baik.
Sesampainya di Menjing, hari kamis, gantian aku yang sakit. Awalnya sih masih tahan. Aku berobat ke bidan, bersama suami yang sakit tenggorokan dan Sekar yang demam. Tapi malam sabtu, kembali aku tidak bisa tidur karena kepalaku berdenyut-denyut, sakit sekali. Aku hanya bisa menangis, tapi alhamdulillah, masih bisa bersyukur. Alhamdulillah aku sakit di sini (di rumah mertua), ada suami dan anak-anak dan saudara-saudara (walau saat itu aku terjaga sendirian, yang lain tidur). Coba kalau aku sakit di jalanan, tanpa tempat tinggal dan sanak-saudara, apa tidak lebih menderita? Dini hari Alya bangun. Alhamdulillah walau ngajak main-main, Alya tidak rewel, dan aku masih bisa menemaninya. Setelah minum susu, dia tidur lagi.
Paginya aku diantar mas Wijayke rumah sakit. Saat itu rasanya aku seperti 'mahluk lain yang setengah menginjak bumi'. Suara-suara terdengar jauh.

Sampai RS turun dari mobil aku duduk di kursi roda di dorong ke UGD. Yang terlintas dalam pikiranku, “Ibu, aku berada di negeri antah-berantah...” (begitu deh kalau sedang sakit yang teringat adalah Ibu.)
Aku di tes darah. Eh, waktu sudah ditusuk jarum suntik di lengan dekat siku, darah nggak keluar. Akhirnya pindah ke dekat pergelangan tangan. Setelah siang aku baru tahu hasilnya, HB-ku drop ke angka 6. Normalnya 12 – 10. Aku harus transfusi minimal 2 kantong. Selain itu tipoidku juga tinggi. 600. Padahal normalnya negatif.
Jadilah orang-orang, terutama Mas Gono, kakak sulung mas Wijay sibuk mencarikan darah buatku karena persediaan darah golongan A di PMI Sragen dan sekitarnya kosong. Mbak Nik, kakakku, di Yogya juga kubuat sibuk. Tapi karena jauh, ya tidak bisa segera ke Sragen, walaupun donornya ada.

Alhamdulillah Mas Gun, kakak Mas Wijay yang lain bersedia mendonor. Lalu yang satu lagi didapat dari teman ngaji mas Slamet, suami Mbak Is, kakak suamiku yang lain lagi.(Enaknya punya keluarga besar... Alhamdulillah)
Aku jadi seperti vampir, mengisap darah dua orang korban (hii...syerem ).
Semalaman darah menetes dari kantong ke dalam tubuhku. Pagi hari, menjelang isi kantong habis, tubuhku merasa sehat. Jadi pagi-pagi aku mandi. Segarnya setelah hampir dua hari tidak mandi... Setelah mandi, kantong darah diganti infus karena darahnya sudah habis. Tidak langsung kantong darah kedua, kata perawat supaya darahnya tidak menggumpal.
Setelah itu gantian suamiku yang mandi. Waktu suamiku di kamar mandi, tiba-tiba aku merasa dingin, semakin dingin, lalu kedinginan dan menggigil.Aduh! Aku bingung. Di RS Sarila Husada Sragen ini, walau kelas 1, tidak ada bel untuk memanggil suster. Yang ada hanya telepon yang letaknya jauh di sebuah meja -itupun sejak aku masuk sudah tidak berfungsi.
Mas Wijay kutunggu-tunggu rasanya lama benget nggak keluar-keluar dari kamar mandi. Akhirnya setelah keluar kupanggil-panggil. Tapi suaraku nggak bisa keras dan menggigilku makin menjadi.
Ya Allah... apa aku mau mati ya....?
Mas Wijay memanggil suster. Dua orang suster datang menolong. Yang seorang tetap tenang, yang seorang lagi kelihatan agak panik. Mungkin itu sebabnya suamiku jadi ikut panik.
Kata suster kadang-kadang setelah transfusi ada yang reaksinya begitu. Kira-kira 15 menit biasanya normal kembali.
Aku disuntik melalui selang infus. Ya Allah, rasanya sakit bukan main! Bukan karena tertusuk jarum (kan yang ditusuk selang infusnya), tapi karena merasakan obatnya mengaliri pembuluh di lenganku. Seingatku selama operasi amandel (kelas 6 SD), usus buntu (kls 1 SMP) dan 4 kali operasi sesar, aku belum pernah berteriak seperti waktu itu ketika disuntik atau yang lainnya. (mungkin nggak ingat aja kali ya…?)

Memang benar kata suster, setelah disuntik dan diberi oksigen menggigilku semakin berkurang dan akhirnya lenyap. Tapi meninggalkan trauma yang cukup dalam.
Betapa lemahnya manusia. Betapa mudahnya Allah mengambil kembali pemberianNya. Ketika itulah baru kusadari, betapa banyak nikmat yang telah diberikanNya, dan betapa banyak yang tidak kusyukuri....Alhamdulillah setelah transfusi kedua segalanya baik-baik saja.

Ketika aku masuk RS, Ugik dipanggil lagi untuk momong Alya. Karena Alya hanya mau dengan Ugik, akhirnya Ugik jatuh sakit juga karena kecapekan.
Hari Senin ketika anak-anak datang menjenguk, Sekar terlihat pucat dan lemas. Dia nggak mau makan dan demam. Setelah diperiksa di UGD, ternyata harus opname juga karena asma!
Innalillahi wa inna ilaihi rojiun... Semakin sayangkah Allah pada kami? Ataukah ini hukuman karena kami telah lalai....?
Tapi aku nggak mau berpikir negatif
Ya Allah... hamba tahu Engkau sedang melihat dan mencintai hamba, menguji apakah hamba pantas mendapat kasih sayang dan surgaMu....
Begitulah, jadinya kami berdua dirawat di RS yang sama, tapi di ruang yang berbeda. Sayangnya tidak bisa disatukan.
Selama di RS, saudara-saudara kami jadi repot dan bolak-balik menjenguk. Ada Pakde Gono dan Bude Niniknya pakde Gono (namanya sama dengan nama kakakku), Bude Is dan Pakde Slamet, juga Ndari dan Hayun, puteri2 mereka. Ada Briyan, putera kedua Mas Gono, juga Mas Gun dan yang lainnya yang tidak bisa kusebutkan satu-satu. Ada juga Ibu Widarni, ibu mertuaku, yang setia membuatkan jamu. Juga Ibuku, Mas Sapto, Imad, Mas Win, Mbak Nik, Mas Yoga, Mbak Lina, Mas Dus dan istri. Kepada semuanya, saya sangat bersyukur. Alhamdulillah jaza kumullahu khoiro. Terimakasih!
Alhamdulillah kondisi kami berangsur baik. Padahal saat masuk RS, Sekar tidak bisa makan, minum dan minum obat. Bicarapun sulit. Jangankan bicara, bernafas saja susah!
Alhamdulillah pada hari rabu aku sudah boleh pulang, walau tes darah terakhir menunjukkan HB-ku 8,5. Hari itu setelah selang infus dicabut, aku bisa ke kamar Sekar. Alhamdulillah kondisinya sudah jauh lebih baik.
Sekar sedang membaca ketika aku datang. Dia juga sudah mau makan dan minum. Obat sirup bisa diminum, tapi obat puyer selalu muntah lagi, jadi dia tidak mau minum.Tapi setelah sirup dan puyer kucampur dalam gelas kecil, dia bisa minum dan tidak muntah lagi. InsyaAllah hari jumat dia sudah boleh pulang.
Waktu pulang dari RS lengan kananku sakit. Kupikir biasa karena habis transfusi. Tapi ternyata semakin bengkak dan sakit.
Hari jumat aku ikut Mas Wijay ke RS, selain menjemput Sekar sekalian periksa. Dokter lalu memberiku salep dan obat penghilang rasa sakit.Hari Sabtu kami nekat pulang dengan disopiri Dik Bayu, saudara misan suamiku. Soalnya hari senin anak-anak sekolah dan suami juga sudah kelamaan nambah cutinya. Ugik belum bisa ikut karena masih sakit.
Di Tambun, ya aku berbuat sebisaku. Lagi-lagi, Allah menunjukkan betapa aku harus sangat bersyukur padaNya. Dengan kondisi tangan bengkak tidak bisa ditekuk, ada mesin cuci yang mencuci pakaian kami. Ada tetangga yang bisa kutitipi anak-anak saat pergi dan pulang sekolah, dan tetangga yang bersedia memasak buat kami.
Alhamdulillah Alya tidak rewel, dan kakak-kakaknya mau membantu momong. Alhamdulillah juga tanganku semakin pulih, bengkak dan sakitnya semakin berkurang. Kukira segalanya akan segera normal kembali.
Tapi.... ternyata qodar Allah tidak begitu. Hari kamis kondisiku drop lagi. Menjelang asar aku muntah2 tanpa henti. Ku sms suamiku. Mas Wijay lalu menelpon tetangga untuk melihatku. Aku sendiri menelpon bu Nanik, tetangga yang rumahnya agak jauh, tapi kuanggap sesepuh di lingkunganku.Alhamdulillah, ada tetangga yang membantu aku melewati saat-saat sulit. Bu Zaenal dan Bu Tamri, yang rumah mereka persis di depanku datang menolong. Aku sudah hampir tidak sadar saat itu. Bu Nanik menyusul datang. Beliau menjaga agar sholatku tidak ketinggalan.
Lalu malam harinya suami mengantarku periksa ke dokter perusahaan. Alhamdulillah setelah itu kondisiku membaik.
Alhamdulillah lagi, pada hari minggu dini hari, Ugik sudah bisa kembali ke tambun bareng Pakde Win. Kami menjemputnya di rest area karawang timur.
Sekarang, Alhamdulillah keadaan kami sudah kembali baik. Kalau kurenungkan, aku sungguh bersyukur mempunyai suami yang begitu baik dan mencintaiku, dan anak-anak juga baik dan menyayangiku, ditambah saudara-saudara dan orangtua yang begitu peduli dan perhatian.
Alhamdulillahirobbilalamin.
Allah mencoba hambanya sesuai dengan kemampuannya. Alhamdulillah kami telah melewati saat-saat itu.

Rabu, 03 September 2008

Bangun pagi

Early to bed, early to rise make a man healthy, wealthy and wise!

Minggu, 31 Agustus 2008

Puasa talah tiba

Malam ini mas Wied, Sekar, Yudha, Bagus dan Ugik ke masjid untuk sholat isya dan tarawih. Tinggallah aku dan Alya di rumah.

Rasa sedih menggelayuti hatiku. Aku tidak bisa menjalankan ibadah seperti mereka karena tamu bulanan datang berkunjung. Tamu yang sebenarnya setengah diharap kehadiran dan ketidakhadirannya.

Pinginnya jangan datang bulan. Tapi kalau bulannya tidak datang, diarep-arep karena biasanya kalau dia tidak datang berarti aku hamil…hehe..

Lidahku terasa ‘gatal’ ingin membaca AlQuran. Surat-surat kesayangan ( bukan berarti yang lain tidak disayang) yang kuusahakan kubaca tiap hari disamping nderes yang biasa, saat ini tidak bisa kubaca.

Surat-surat itu adalah surat Yaasiin, Ar Rahman, Alwakiah dan AlMulk. (aku mendengarkan surst-surat ini dari CD yang diberikan mbak Warih, kakakku. Tapi rasanya lebih enak baca sendiri)

Di tenda Mina, Pak Toyibun, ustad yang membimbing kami saat ibadah haji memangkulkan keutamaan surat Yaasiin. Yaitu, pahalanya sama dengan khatam membaca AlQuran 10 kali.
Sedangkan surat ArRahman, kuusahakan selalu kubaca karena membuatku lebih bersyukur pada Allah. Kalau sedang membaca surat itu hati rasanya gimana gitu.
Surat Alwakiah, karena Allah memberi rizki kepada orang yang membacanya.
Surat AlMulk, karena orang yang rutin membacanya akan terhindar dari siksa kubur.
Waktu hamil Alya enaknya aku bisa dibaca semua setelah sholat subuh, atau sehabis sholat dhuha, pas anak-anak sekolah. Kalau sekarang ya sesempatnya.
Tapi mungkin puasa ini mungkin fokusku ke khatam AlQuran saja, Insya Allah.

Dua tahun kemarin hutang puasaku numpuk.
Waktu hamil Alya aku sering nggak puasa karena lemas. Waktu menyusui sebenarnya hutangnya pas datang bulan aja, tapi nyaurnya beraaatt… Alhamdulillah, hari kamis kemarin sudah bisa lunas semua. Itu semua karena izin Allah. Aku doain terus, mudah-mudahan sebelum Ramadhan tiba hutang puasaku sudah lunas semua…amin. Alhamdulillah Allah mengabulkan doaku.

Kata Mbak Nik, kakak sulungku, “Alhamdulillah. Sekarang hutangnya lunas, besok hutang lagi. Gali lubang utup lubang dong…hehe!”
Ya habis gimana lagi. Wong dipaksain puasa juga nggak ada manfaatnya. Tetep aja hutang….
Semoga aku bisa segera puasa dan mengerjakan amalan lainnya. Semoga niatku benar-benar karena Allah, mengharap surga Allah dan selamat dari nerakaNya. Amin.

Sudut kamar anak-anakku, 31 agustus 2008

Sabtu, 30 Agustus 2008

menunggu

Sekarang aku punya waktu 45 menit sebelum bel di sekolah sekar, anak sulungku berbunyi.
Hari ini hari jumat 29 agustus 2008.
Yudha dan bagus, anak-anak lelakiku nomor 2 dan 3, karena guru-guru mereka ada acara di sekolah, sudah pulang jam 9 tadi. Sekar minta ditengok ke sekolah jam 9.30. Biasanya pulang jam 11. Tapi karena adik2nya yang beda sekolah pulang jam 9, mungkin dia juga pulang lebih awal.

Jadi sekarang di sinilah aku. Di ruang tunggu sekolah sekar.
Sebenarnya aku bisa saja pulang lagi, karena sampai di sekolah tadi belum jam 10. Tapi lumayan juga bolak-balik naik motor . Makanya kuputuskan mengetik saja. Dari rumah aku memang sudah siap-siap bw laptop. Waktu minta dibelikan laptop ke mas wied, suamiku, memang tujuanku untuk mengisi waktu, kalau harus menunggu anak-anak di sekolah aku bisa terus menulis.

Alhamdulillah, kemarin di sekolah yudha sambil nunggu bagus pulang juga aku bisa menulis. Seneng banget rasanya bisa menulis lagi. Ada orang lain yang baca atau enggak, kalau bisa menulis itu senang. (kadang2 kalau dibaca orang malah malu).

Aku sedang senang membuat blog. Rasanya seperti membuat majalah waktu bekerja di Taman Melati dulu (ya Allah, rasanya rindu banget sama suasana di Taman Melati. Mudah2an suatu saat aku bisa menerbitkan majalah sendiri. Amin.Cita-citaku macem-macem tapi belum kesampaian. Bikin taman bacaan juga belum jadi. )

Dengan bikin blog rasanya seperti membuat majalah sendiri. Cuma karena belum mahir, susunan blognya belum bisa seperti yang aku inginkan. (ada yang bisa bantu aku…?)

Untuk menulisnya cukup tersalurkan. Yang belum menggambarnya. Nggak tau nih kelamaan nggak pegang pensil jadi susah untuk menggambar. Ada tetangga pesan digambarkan anaknya belum bisa kulakukan. Padahal seluruh anggota keluarganya (kecuali anaknya yang belakangan lahir) sudah kugambar dan ditempel di dinding rumahnya.

Wah, mulai banyak yang datang menjemput anaknya. Dudukku sudah nggak nyaman untuk mengetik. Bukannya karena ramai atau ada yang ngintip (hehe), tapi kan harus berbagi tempat duduk dengan yang lain. Nggak bisa santai selonjor sambil mikir.

Sudah dua kali selama duduk di sini aku ditelpon yudha. Sudah ah, capek nulisnya.