Kin dan Kuro tumbuh dengan sehat. Mereka gendut-gendut dan lucu-lucu. Pussy kelihatannya sangat menyayangi mereka. Dia selalu menjaga anak-anaknya. Kalau ada kucing lain mendekat, Pussy pasti mengusirnya.
Kalau kamu melihat tingkah Kin dan Kuro, kamu pasti tertawa! Soalnya mereka benar-benar lucu!
Makin lama mereka makin besar. Hampir separuh besar Pussy.
Pussy kelihatannya mulai genit. Dia kembali bikin ulah dengan pipis di sembarang tempat. Belakangan aku tahu dari acara layar satwa di televisi, kalau itu dilakukannya untuk mengundang kucing jantan. Kucing-kucing jantan akan mencium bau pipisnya dan mereka akan tahu kalau Pussy sudah siap kawin dan punya anak lagi.
Pussy mulai galak pada Kin dan Kuro. Dia marah kalau anak-anaknya mendekat.
Nggak lama kemudian, kucing-kucing jantan berdatangan. Kuhitung di halaman rumah ada lima ekor. Ada yang warnanya oranye (kupikir itu bapaknya Kin), ada juga yang hitam (yang ini kukira bapaknya Kuro), ada yang belang-belang juga. Mereka mengeluarkan suara seperti suara bayi. Berisik sekali.
Pussy kubawa masuk rumah, lalu semua pintu dan jendela kututup. Tapi seperti yang sudah-sudah, kucing-kucing jantan itu pantang menyerah. Ada yang berhari-hari menunggu Pussy di halaman rumah. Ada juga beberapa yang naik ke plafon. Mereka berkelahi di sana. Akibatnya, plafon rumah jebol lagi.
Kalau dihitung-hitung sejak ada Pussy sampai sekarang Plafon rumah sudah jebol empat kali.
Pussy juga sering muntah di mana-mana.
Ibu marah lagi.
“Ayo, ucapkan selamat jalan pada Pussy.”
Aku yang sedang mengerkajan PR kaget mendengarnya. Hatiku langsung sedih.
“Ibu mau apa?”
Ibu bilang sudah nggak tahan lagi dengan tingkah kucing-kucing itu. Pussy akan dibuang lagi.
“Ya.. Ibu? Jangan….” Aku dan adik-adikku protes.
Tapi Ibu tetap dengan kemauannya. Pussy pun jadi dibuang. Kali ini di pasar yang lebih jauh tempatnya.
Aku sedih. Sedih sekali. Pussy adalah binatang kesayanganku. Dia sudah lama berada di rumah ini. Sudah pernah dibuang dan bisa kembali lagi. Masa dibuang lagi? Kalau dibuang, apakah bisa kembali lagi?
Aku sungguh berharap Pussy kembali lagi. Kadang-kadang aku membayangkan kalau tiba-tiba Pussy muncul saat kami bermain, atau mengerjakan PR. Tapi hari demi hari berganti, dan Pussy nggak pernah muncul lagi.
Kin dan Kuro semakin besar.
Lalu aku sakit. Aku batuk-batuk terus. Terutama di malam hari dan menjelang pagi. Kalau batuk-batuk, aku sering muntah. Tubuhku yang sudah kurus, makin kurus. Ayah dan Ibu membawaku ke dokter, tapi sampai obatnya habis, sepertinya aku belum sembuh betul.
Aku dan adik-adikku di tes mantoux, yaitu tes untuk mengetahui apakah paru-paru kami terkena penyakit. Caranya dengan menyuntikkan suatu cairan khusus di bawah kulit lenganku. Aduh..!! Sakit sekali waktu disuntik. Soalnya nyuntiknya pelan-pelan, biar obatnya tetap berada di bawah kulit, nggak masuk ke daging atau malah keluar lagi.
Tiga hari kemudian, lengan yang bekas disuntik dilihat lagi. Ternyata Bagus yang positif paru-parunya terganggu. Orang-orang bilang kena vlek. Aku dan Yudha nggak papa. Tapi batukku nggak sembuh-sembuh juga.
Hingga suatu hari, Ibu dan Ayah mengira, bulu-bulu kucinglah penyebabnya. Hal itu dibenarkan oleh dokter yang kami datangi.
“Kucing? Singkirkan!” kata dokter itu.
Oh my God! Akhirnya dengan berat hati aku mengantar Kin dan Kuro pergi.
Kin dan Kuro dimasukkan dalam tas besar yang pernah dipakai membuang Pussy dan Harimau. Dengan naik sepeda motor, Ibu, aku dan Mbak Umi, yang membantu Ibu di rumah, membawa Kin dan Kuro pergi jauh dari rumah, dan melepaskannya di dekat sebuah perumahan.
Aku nggak ingin mereka dibuang seperti itu. Tapi kalau tetap ada kucing di rumah, nanti sakitku nggak sembuh-sembuh.
Selamat jalan Kin dan Kuro. Jaga diri kalian baik-baik ya! Dan jangan lupakan aku!
Sepanjang jalan pulang aku ingin menangis rasanya.
Ayah dan Ibu lalu membelikan aku sepasang Hamster untuk ganti kucing-kucingku. Mereka kuberi nama Cana dan Cini.
Kenapa Hamster? Karena Hamster selalu ada di kandang dan nggak berkeliaran ke mana-mana. Mereka nggak akan tidur di kasurku dan meninggalkan bulu-bulu rontok di situ.
Tapi Hamster itu beda dengan kucing. Waktu aku ingin memegangnya, dia malah menggigit! Aduh sakit sekali! Ibu bahkan digigit sampai berdarah. Hamster bukan hewan jinak yang senang dipegang-pegang dan dimanja.
Sebenarnya aku suka hamster, tapi aku lebih suka kucing….. Aku mau Pussy, Harimau, Kini, Kin dan Kuro……
Hiks! Aku hanya bisa mengenang mereka sekarang……..
Akankah aku bisa bertemu dengan mereka lagi….???
TAMAT
Cerita Emak ini hanyalah sedikit dalam keseluruhan jagad raya. Pengalaman Emak hanyalah segelintir dari kisah di luar sana. Emak hanya ingin berbagi cerita. Dengan berbagi kita jadi mengerti banyak hal yang bisa diketahui tanpa harus mengalaminya sendiri. Atau kita jadi tahu ada persamaan yang kita miliki. Semoga cerita Emak ini bermanfaat. Selamat membaca.
Tampilkan postingan dengan label CERITA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERITA. Tampilkan semua postingan
Selasa, 26 Agustus 2008
pussy3
Belakangan ini aku sangat senang. Adik-adikku juga. Karena Pussy ada diantara kami lagi. Tahu nggak, aku dan adik-adikku punya kebiasaan sendiri-sendiri dalam menyayangi Pussy.
Aku senang mengusap-usap kepala Pussy. Kadang-kadang dia kupangku sambil kuusap-usap kepalanya, kalau aku sedang nonton TV. Pussy akan berbaring manja sambil mengeluarkan suara dengkuran dari lehernya. Kadang-kadang dia tertidur. Kalau nggak dilarang Ibu, aku ingin tidur dengan Pussy.
Yudha, adikku yang pertama, sukanya memegang kaki Pussy. Kalau Pussy tidur dia suka menggenggam kaki depannya sambil bilang, “Pussy nyayang aku.”
Yang paling lucu adalah Bagus. Dia suka sekali dengan ekor Pussy. Biasanya kalau nggak ketahuan Ibu, dia suka mengusap-usapkan ekor Pussy ke pipinya, sambil bilang, “Buntut Unyi! Buntut Unyi.” Sampai-sampai temanku yang bernama Rafly memanggil adikku itu dengan sebutan “Bagus Buntut Unyi.”
Tapi entah kenapa yang namanya KUCING, selalu saja punya masalah. Kali ini Harimau yang bikin masalah. Harimau sudah besar. Karena dia kucing jantan, dia merasa harus menandai daerah kekuasaannya dengan….pipisnya!
Aduh! Rumahku jadi bau pipis kucing. Harimau bukan hanya mengencingi tembok rumah, tapi juga gorden, kursi, pintu, bahkan lemari baju yang lupa ditutup pintunya. Tentu saja baju-baju kami jadi bau pipis kucing. Belum lagi kalau ada kucing jantan lain yang nggak mau kalah dengan Harimau. Ikut-ikutan mengencingi rumah kami. Bahkan tempat Sholat pun pernah dipipisi!
Wah….. Ibu marah lagi. Dan kali ini, Harimau yang dibuang!
Ya… Ibu….
Tapi Ibu bilang, kalau ada Pussy kan nanti Pussy punya anak lagi…
Sebenarnya aku sedih. Tapi karena ada Pussy di rumah, aku nggak terlalu memikirkannya.
Dan ternyata, kata-kata Ibu benar. Nggak lama kemudian Pussy hamil.
Makin lama perutnya makin besar. Kalau perutnya sudah besar, Pussy lebih sering tiduran dan malas-malasan. Sampai akhirnya, tiba waktunya Pussy melahirkan!
Seperti waktu melahirkan Harimau dulu, Ibu menyiapkan keranjang untuk Pussy. Keranjangnya diberi alas karpet kecil. Kami pun menunggi Pussy melahirkan.
Akhirnya, setelah berjuang (walau menurutku Pussy nggak merasa sesakit waktu melahirkan Harimau dulu), anak Pussy lahir. Warnanya oranye seperti Harimau.
Seperti yang dulu juga, Pussy menjilati anaknya, menggigit putus tali plasenta, dan memakannya…. Hoek! Ih, menjijikkan!
Lalu anak kedua Pussy lahir. Yang ini warnanya hitam. Tapi nggak hitam banget seperti kucingnya tukang sihir loh!
Sama seperti yang pertama, kamu sudah tahu, jadi nggak usah kuceritakan lagi apa yang dilakukan Pussy.
Ternyata kali ini cuma dua ekor anak Pussy yang lahir. Kukira lebih, karena perutnya masih besar.
“Perut Ibu juga besar, walaupun nggak ada bayinya.” Kata Ibu sambil tertawa.
Oleh Ibu, Anak-anak Pussy itu diberi nama Kin dan Kuro. Kata Ibu Kin artinya emas, dalam bahasa Jepang. Sedangkan Kuro artinya hitam. Maklum saja, Ibu dulu pernah kuliah di jurusan bahasa Jepang. Tapi sekarang ilmunya banyak yang terlupakan karena nggak pernah diamalkan. Tapi katanya Ibu mau belajar lagi, biar ingat lagi.
Kin dan Kuro lahir di kamarku. Bertepatan dengan hari ulang tahun Yudha, yaitu tanggal 3 desember. Yudha senang sekali. Kami semua merasa senang.
Setelah yakin nggak ada anak lagi yang dilahirkan, Ibu mengganti karpet yang kotor kena darah dan lendir dengan kain yang bersih. Lalu mendorong keranjang berisi Pussy dan anak-anaknya ke kolong meja. Kami nggak boleh membuat Pussy merasa nggak aman. Kalau enggak, bisa-bisa anak Pussy dipindahkan lagi.
Hampir setiap saat kami mengintip anak-anak Pussy. Mereka lucu-lucu, dengan mata yang masih merem kalau nggak tidur atau menyusu, berkeliaran di dalam keranjang. Sepertinya Pussy nggak merasa terganggu. Dia membiarakan saja kalau kami memegang-megang anak-anaknya. Tapi kalau kami memegang terlalu kuat dan Kin atau Kuro berbunyi, Pussy pasti langsung waspada dan menghampiri. Tapi Pussy nggak marah. Dia hanya memandangi kami.
Hingga suatu saat, dipagi hari yang masih gelap, Ibu membangunkanku.
“Sekar…. Sekar…. Anak kucingnya sudah melek!”
Aku segera terbangun.
Benar! Kulihat Kuro membuka matanya yang kecil. Ha ha, lucu sekali!
Rasa ngantukku segera hilang. Kubangunkan adik-adikku. Mereka pun senang melihat Kin dan Kuro sudah membuka matanya.
Semakin hari mereka semakin besar. Lama-lama, ASI Pussy saja nggak cukup. Mereka mulai butuh makan.
Akhirnya, mereka harus keluar dari kamarku. Kalau sudah mulai makan, berarti mereka akan mulai sering membuang kotoran. Jadi sekarang mereka ditaruh di belakang rumah. Tapi lucunya Kin dan Kuro nggak mau lagi tidur di keranjang mereka. Mereka malah memilih tidur di keranjang sepedaku!
Harimau sudah pergi. Tapi sebagai gantinya, aku mendapatkan Kin dan Kuro!
Alhamdulillah!!
Aku senang mengusap-usap kepala Pussy. Kadang-kadang dia kupangku sambil kuusap-usap kepalanya, kalau aku sedang nonton TV. Pussy akan berbaring manja sambil mengeluarkan suara dengkuran dari lehernya. Kadang-kadang dia tertidur. Kalau nggak dilarang Ibu, aku ingin tidur dengan Pussy.
Yudha, adikku yang pertama, sukanya memegang kaki Pussy. Kalau Pussy tidur dia suka menggenggam kaki depannya sambil bilang, “Pussy nyayang aku.”
Yang paling lucu adalah Bagus. Dia suka sekali dengan ekor Pussy. Biasanya kalau nggak ketahuan Ibu, dia suka mengusap-usapkan ekor Pussy ke pipinya, sambil bilang, “Buntut Unyi! Buntut Unyi.” Sampai-sampai temanku yang bernama Rafly memanggil adikku itu dengan sebutan “Bagus Buntut Unyi.”
Tapi entah kenapa yang namanya KUCING, selalu saja punya masalah. Kali ini Harimau yang bikin masalah. Harimau sudah besar. Karena dia kucing jantan, dia merasa harus menandai daerah kekuasaannya dengan….pipisnya!
Aduh! Rumahku jadi bau pipis kucing. Harimau bukan hanya mengencingi tembok rumah, tapi juga gorden, kursi, pintu, bahkan lemari baju yang lupa ditutup pintunya. Tentu saja baju-baju kami jadi bau pipis kucing. Belum lagi kalau ada kucing jantan lain yang nggak mau kalah dengan Harimau. Ikut-ikutan mengencingi rumah kami. Bahkan tempat Sholat pun pernah dipipisi!
Wah….. Ibu marah lagi. Dan kali ini, Harimau yang dibuang!
Ya… Ibu….
Tapi Ibu bilang, kalau ada Pussy kan nanti Pussy punya anak lagi…
Sebenarnya aku sedih. Tapi karena ada Pussy di rumah, aku nggak terlalu memikirkannya.
Dan ternyata, kata-kata Ibu benar. Nggak lama kemudian Pussy hamil.
Makin lama perutnya makin besar. Kalau perutnya sudah besar, Pussy lebih sering tiduran dan malas-malasan. Sampai akhirnya, tiba waktunya Pussy melahirkan!
Seperti waktu melahirkan Harimau dulu, Ibu menyiapkan keranjang untuk Pussy. Keranjangnya diberi alas karpet kecil. Kami pun menunggi Pussy melahirkan.
Akhirnya, setelah berjuang (walau menurutku Pussy nggak merasa sesakit waktu melahirkan Harimau dulu), anak Pussy lahir. Warnanya oranye seperti Harimau.
Seperti yang dulu juga, Pussy menjilati anaknya, menggigit putus tali plasenta, dan memakannya…. Hoek! Ih, menjijikkan!
Lalu anak kedua Pussy lahir. Yang ini warnanya hitam. Tapi nggak hitam banget seperti kucingnya tukang sihir loh!
Sama seperti yang pertama, kamu sudah tahu, jadi nggak usah kuceritakan lagi apa yang dilakukan Pussy.
Ternyata kali ini cuma dua ekor anak Pussy yang lahir. Kukira lebih, karena perutnya masih besar.
“Perut Ibu juga besar, walaupun nggak ada bayinya.” Kata Ibu sambil tertawa.
Oleh Ibu, Anak-anak Pussy itu diberi nama Kin dan Kuro. Kata Ibu Kin artinya emas, dalam bahasa Jepang. Sedangkan Kuro artinya hitam. Maklum saja, Ibu dulu pernah kuliah di jurusan bahasa Jepang. Tapi sekarang ilmunya banyak yang terlupakan karena nggak pernah diamalkan. Tapi katanya Ibu mau belajar lagi, biar ingat lagi.
Kin dan Kuro lahir di kamarku. Bertepatan dengan hari ulang tahun Yudha, yaitu tanggal 3 desember. Yudha senang sekali. Kami semua merasa senang.
Setelah yakin nggak ada anak lagi yang dilahirkan, Ibu mengganti karpet yang kotor kena darah dan lendir dengan kain yang bersih. Lalu mendorong keranjang berisi Pussy dan anak-anaknya ke kolong meja. Kami nggak boleh membuat Pussy merasa nggak aman. Kalau enggak, bisa-bisa anak Pussy dipindahkan lagi.
Hampir setiap saat kami mengintip anak-anak Pussy. Mereka lucu-lucu, dengan mata yang masih merem kalau nggak tidur atau menyusu, berkeliaran di dalam keranjang. Sepertinya Pussy nggak merasa terganggu. Dia membiarakan saja kalau kami memegang-megang anak-anaknya. Tapi kalau kami memegang terlalu kuat dan Kin atau Kuro berbunyi, Pussy pasti langsung waspada dan menghampiri. Tapi Pussy nggak marah. Dia hanya memandangi kami.
Hingga suatu saat, dipagi hari yang masih gelap, Ibu membangunkanku.
“Sekar…. Sekar…. Anak kucingnya sudah melek!”
Aku segera terbangun.
Benar! Kulihat Kuro membuka matanya yang kecil. Ha ha, lucu sekali!
Rasa ngantukku segera hilang. Kubangunkan adik-adikku. Mereka pun senang melihat Kin dan Kuro sudah membuka matanya.
Semakin hari mereka semakin besar. Lama-lama, ASI Pussy saja nggak cukup. Mereka mulai butuh makan.
Akhirnya, mereka harus keluar dari kamarku. Kalau sudah mulai makan, berarti mereka akan mulai sering membuang kotoran. Jadi sekarang mereka ditaruh di belakang rumah. Tapi lucunya Kin dan Kuro nggak mau lagi tidur di keranjang mereka. Mereka malah memilih tidur di keranjang sepedaku!
Harimau sudah pergi. Tapi sebagai gantinya, aku mendapatkan Kin dan Kuro!
Alhamdulillah!!
pussy 2
PUSSY 2
Dua ekor kucing bermalas-malasan di teras rumah. Kelihatan mengantuk. Mereka adalah dua ekor anak Pussy, yang kuberi nama Harimau dan Kini.
Sekarang Harimau dan Kini sudah besar. Pussy nggak mau lagi mereka menyusu. Bahkan kalau mereka mendekat, Pussy akan marah-marah. Kasihan sekali Harimau dan Kini.
Aku sedang asyik memperhatikan kucing-kucingku, tiba-tiba kudengar Ibu marah karena Pussy pipis di dalam rumah, dekat meja makan. Ini bukan pertama kalinya.
Beberapa hari ini Pussy sering pipis di dalam rumah. Padahal biasanya dia pipis di pojok halaman yang sengaja diberi pasir. Dia juga sering muntah, mengotori lantai, kursi, bahkan kasur!
Yang lebih menjengkelkan Ibu, saat ini adalah musim kawin untuk kucing. Pussy yang cantik menjadi rebutan kucing-kucing jantan di komplek perumahan kami. Kucing-kucing jantan itu pantang menyerah. Meskipun Pussy sudah dikurung di dalam rumah, mereka tetap berusaha mendekatinya. Padahal nggak semua kucing jantan itu disukai Pussy.
Nggak jarang kucing-kucing itu naik ke atap rumah. Mereka pipis di mana-mana, membuat rumah bau. Bahkan kemarin, plafon di atas kamar Ibu jebol karena kucing-kucing itu, menimpa Ayah yang sedang tidur. Kebayang kan betapa jengkelnya Ibu?
“Ibu sudah putuskan, Pussy akan Ibu buang!” kata Ibu sambil mengepel lantai yang dipipisi Pussy. Ibu kelihatan capek sekali.
Aku kaget sekali mendengar kata-kata Ibu. Pussy akan dibuang? Oh! Tidak!!!
“Bu… jangan dibuang…..”
Tapi rupanya Ibu nggak bisa dibujuk. Ibu bilang terlalu banyak kucing di rumah ini. Dan yang paling merepotkan adalah Pussy. Ibu hanya membolehkan seekor kucing saja di rumah. Jadi akhirnya aku memilih Harimau, dan merelakan dua ekor kucing lainnya, Pussy dan Kini, dibuang.
Aku sedih sekali ketika Ibu memasukkan Pussy dan Kini ke dalam tas besar dan membawanya pergi. Ibu akan membuangnya ke pasar. Karena menurut Ibu di pasar banyak makanan, jadi Pussy dan Kini nggak akan kelaparan.
Aku hanya bisa memeluk Harimau sambil menangis.
Kenapa, Bu? Kenapa? Padahal mereka begitu manis dan lucu?
Sekarang tinggal Harimau yang ada di rumah. Tapi sepertinya Harimau nggak merasa sedih. Dia tenang-tenang saja walau Ibu dan adiknya nggak ada lagi di rumah. Bahkan mungkin dia merasa senang karena nggak perlu berebut makanan dengan Kini. Harimau juga nggak perlu iri karena sekarang cuma dia yang akan kupeluk dan diajak bermain.
Setiap hari aku teringat Pussy. Sedih rasanya.
Tapi lama-lama, walaupun aku nggak bisa melupakan Pussy, aku nggak terlalu sedih lagi.
* * *
Aku sedang mengambil air minum. Tiba-tiba kurasakan kakiku disentuh bulu-bulu halus. Membuatku geli.
“Harimau! Awas nanti minumnya tumpah!” kataku.
Kuminum air dalam gelas, setelah itu kuletakkan gelas di atas meja.
“Meoong….”
Aku menunduk.
“Pussy!!!” jeritku terkejut. Aku mengucek-ucek mata. Pasti salah lihat!
Tapi tetap saja kucing yang ada di kakiku itu Pussy, bukan Harimau. Tapi Pussy kurus sekali. Dia juga kotor. Entah berapa hari yang diperlukan Pussy untuk mencari jalan kembali ke rumah ini.
Aku menangis karena gembira dan sedih. Aku gembira karena Pussy kembali. Tapi aku sedih karena dia kurus dan kotor. Pasti menderita.
Pussy kumandikan. Lalu kuberi makan dan minum susu. Harimau hanya melihat ketika induknya makan.
Aku lalu bilang pada Ibu kalau Pussy sudah kembali. Tapi sendirian, nggak bersama Kini. Ibu heran karena Pussy bisa kembali lagi.
Aku minta pada Ibu supaya Pussy boleh tinggal di rumah lagi.
Ibu kelihatan serba salah. Tapi akhirnya Ibu mengizinkan Pussy tinggal.
Alhamdulillah.
“Horeeey! Terimakasih Ibu!” kupeluk Ibu, kucium kedua pipinya. Lalu aku berlari ke tempat Pussy.
Pussy! Pussy sayang! Jangan pergi lagi ya!
Dua ekor kucing bermalas-malasan di teras rumah. Kelihatan mengantuk. Mereka adalah dua ekor anak Pussy, yang kuberi nama Harimau dan Kini.
Sekarang Harimau dan Kini sudah besar. Pussy nggak mau lagi mereka menyusu. Bahkan kalau mereka mendekat, Pussy akan marah-marah. Kasihan sekali Harimau dan Kini.
Aku sedang asyik memperhatikan kucing-kucingku, tiba-tiba kudengar Ibu marah karena Pussy pipis di dalam rumah, dekat meja makan. Ini bukan pertama kalinya.
Beberapa hari ini Pussy sering pipis di dalam rumah. Padahal biasanya dia pipis di pojok halaman yang sengaja diberi pasir. Dia juga sering muntah, mengotori lantai, kursi, bahkan kasur!
Yang lebih menjengkelkan Ibu, saat ini adalah musim kawin untuk kucing. Pussy yang cantik menjadi rebutan kucing-kucing jantan di komplek perumahan kami. Kucing-kucing jantan itu pantang menyerah. Meskipun Pussy sudah dikurung di dalam rumah, mereka tetap berusaha mendekatinya. Padahal nggak semua kucing jantan itu disukai Pussy.
Nggak jarang kucing-kucing itu naik ke atap rumah. Mereka pipis di mana-mana, membuat rumah bau. Bahkan kemarin, plafon di atas kamar Ibu jebol karena kucing-kucing itu, menimpa Ayah yang sedang tidur. Kebayang kan betapa jengkelnya Ibu?
“Ibu sudah putuskan, Pussy akan Ibu buang!” kata Ibu sambil mengepel lantai yang dipipisi Pussy. Ibu kelihatan capek sekali.
Aku kaget sekali mendengar kata-kata Ibu. Pussy akan dibuang? Oh! Tidak!!!
“Bu… jangan dibuang…..”
Tapi rupanya Ibu nggak bisa dibujuk. Ibu bilang terlalu banyak kucing di rumah ini. Dan yang paling merepotkan adalah Pussy. Ibu hanya membolehkan seekor kucing saja di rumah. Jadi akhirnya aku memilih Harimau, dan merelakan dua ekor kucing lainnya, Pussy dan Kini, dibuang.
Aku sedih sekali ketika Ibu memasukkan Pussy dan Kini ke dalam tas besar dan membawanya pergi. Ibu akan membuangnya ke pasar. Karena menurut Ibu di pasar banyak makanan, jadi Pussy dan Kini nggak akan kelaparan.
Aku hanya bisa memeluk Harimau sambil menangis.
Kenapa, Bu? Kenapa? Padahal mereka begitu manis dan lucu?
Sekarang tinggal Harimau yang ada di rumah. Tapi sepertinya Harimau nggak merasa sedih. Dia tenang-tenang saja walau Ibu dan adiknya nggak ada lagi di rumah. Bahkan mungkin dia merasa senang karena nggak perlu berebut makanan dengan Kini. Harimau juga nggak perlu iri karena sekarang cuma dia yang akan kupeluk dan diajak bermain.
Setiap hari aku teringat Pussy. Sedih rasanya.
Tapi lama-lama, walaupun aku nggak bisa melupakan Pussy, aku nggak terlalu sedih lagi.
* * *
Aku sedang mengambil air minum. Tiba-tiba kurasakan kakiku disentuh bulu-bulu halus. Membuatku geli.
“Harimau! Awas nanti minumnya tumpah!” kataku.
Kuminum air dalam gelas, setelah itu kuletakkan gelas di atas meja.
“Meoong….”
Aku menunduk.
“Pussy!!!” jeritku terkejut. Aku mengucek-ucek mata. Pasti salah lihat!
Tapi tetap saja kucing yang ada di kakiku itu Pussy, bukan Harimau. Tapi Pussy kurus sekali. Dia juga kotor. Entah berapa hari yang diperlukan Pussy untuk mencari jalan kembali ke rumah ini.
Aku menangis karena gembira dan sedih. Aku gembira karena Pussy kembali. Tapi aku sedih karena dia kurus dan kotor. Pasti menderita.
Pussy kumandikan. Lalu kuberi makan dan minum susu. Harimau hanya melihat ketika induknya makan.
Aku lalu bilang pada Ibu kalau Pussy sudah kembali. Tapi sendirian, nggak bersama Kini. Ibu heran karena Pussy bisa kembali lagi.
Aku minta pada Ibu supaya Pussy boleh tinggal di rumah lagi.
Ibu kelihatan serba salah. Tapi akhirnya Ibu mengizinkan Pussy tinggal.
Alhamdulillah.
“Horeeey! Terimakasih Ibu!” kupeluk Ibu, kucium kedua pipinya. Lalu aku berlari ke tempat Pussy.
Pussy! Pussy sayang! Jangan pergi lagi ya!
pussy
Hallo! Namaku Sekar. Lengkapnya Dewi Sekar Arum. Usiaku delapan tahun. Aku kelas 2A di SD Jaya Suti Abadi, Tambun, Bekasi.
Hobiku membaca. Kalau sedang membaca, aku betah membaca berjam-jam lamanya, sampai-sampai ibuku sering mengingatkan aku untuk istirahat. Yang paling kusuka adalah membaca dongeng seperti Cinderella, Putih Salju, Pangeran Angsa dan semua cerita seperti itu. Tapi kadang-kadang aku juga membaca buku yang tebal seperti cerita Lima Sekawannya Enid Blyton. Kamu tahu cerita Lima Sekawan? Kata ibuku, cerita Lima Sekawan itu sudah lama. Pengarangnya bahkan sudah meninggal dunia ketika ibuku baru mulai membacanya. Ceritanya bagus lho!
Hobiku yang lain adalah menggambar. Aku paling suka menggambar putri dan pangeran. Selain itu, aku juga suka menggambar ikan, kucing dan binatang lainnya.
Aku sangat suka kucing. Kucing adalah binatang kesayanganku.
Aku punya kucing. Kucing cantik dengan belang tiga di tubuhnya. Namanya Pussy. Pussy datang sendiri ke rumah kami. Karena kami sayang dan sering memberinya makan, Pussy jadi betah berada di rumah.
ibuku kurang suka pada kucing. Soalnya kadang-kadang Pussy mengotori rumah dengan pipis dan muntahannya. Kadang-kadang juga mencuri ikan. Padahal Pussy itu lucu.
Tapi Ibu nggak tega kalau Pussy mengeong-ngeong minta makan. Biasanya Ibu akan memberinya makan berupa ikan yang dicampur dengan nasi. Bahkan setiap hari Ibu membeli ikan pindang keranjang, khusus buat Pussy. Kadang aku heran, nggak suka kucing tapi kok telaten memberi makan. Kata Ibu sih, memberi makannya karena ingat kalau kucing itu mahluk Allah juga.
Suatu hari Pussy bunting. Bunting itu hamil. Makin lama perutnya makin besar. Dan ketika tiba waktunya melahirkan, Pussy mendatangi Ibu. Dia mengeong-ngeong. Tadinya Ibu mengira dia minta makan. Tapi Pussy tidak mau makan. Dia hanya mendekam di lantai.
Ibu melihat sebentar-sebentar perut Pussy menegang. Dia juga kelihatan kesakitan. Nafasnya pendek-pendek, seperti kalau kamu habis lari muterin lapangan. Meongnya juga pelan. Saat itu Ibu tahu kalau Pussy akan melahirkan.
Ibu mengambil keranjang dan kain bekas. Kain itu dimasukkan dalam keranjang. Setelah itu Pussy yang dimasukkan dalam keranjang. Ibu menunggui Pussy sambil sebentar-sebentar mengusap perutnya. Perut Pussy, maksudku, bukan perut Ibuku!
Aku ingin tahu, tapi juga takut waktu melihat Pussy melahirkan. Dia kelihatan kesakitan dan bayinya susah keluar. Aku melihat seperti ada bola yang mau keluar dari pantat Pussy. Dia ingin menjilati perutnya. Tapi karena perutnya besar, lidah Pussy tidak bisa mencapainya. Jadinya Pussy berguling-guling nggak karuan di dalam keranjang. Lalu dia ngeden. Tapi bayinya nggak keluar-keluar. Kasihan sekali.
Akhirnya, setelah bersusah payah, dan dengan diberi semangat oleh Ibu, bayi pertama Pussy lahir! Aku merasa sangat lega.
Bayi itu belepotan lendir dan darah. Pussy lalu menjilatinya. Setelah itu dia menggigit putus –apa yang oleh Ibu disebut- plasenta. Plasenta adalah organ khusus yang berfungsi sebagai saluran penerimaan nutrisi dari ibu dan bayi. Menurutku sih itu seperti usus. Setelah plasenta putus, Pussy memakannya.
“Kenapa dimakan?” tanyaku heran.
Ibu juga nggak tahu kenapa. Tapi kata Ibu mungkin karena di dalam plasenta banyak protein dan gizinya. Sayang kalau dibuang…. Ihh!!…. Perutku langsung mual!!
Setelah memakan plasenta, Pussy menjilati bayinya lagi.
Tapi tiba-tiba dia ngeden lagi.
“Bayinya mau keluar lagi.” Kata Ibu.
Haa…? Memangnya di dalam perut Pussy masih ada bayi lagi? Berapa ekor?
Ibu nggak tahu berapa banyaknya. Tapi kucing bisa punya lebih dari satu bayi sekali melahirkan. Bahkan ada yang sampai lima ekor! Lima ekor? Bayangkan! Pasti lucu sekali! Tapi pasti mengurusnya juga susah. Soalnya mengurus aku dan dua orang adikku saja Ibu sudah sering kerepotan. Waktu kukatakan itu pada Ibu, Ibu malah tertawa.
“Mengurus bayi kucing dengan bayi orang beda dong! Bayi kucing nggak perlu dimandikan, dipakaikan popok dan digendong-gendong. Yang penting dia kenyang dan bersih sudah cukup. Oh ya, ada lagi. Bayi kucing harus berada di tempat yang aman. Kalau induknya merasa bayinya nggak aman, dia akan memindahkan anak-anaknya ke tempat aman. Biasanya sih di atas rumah, di gudang atau tempat tersembunyi lainnya.”
Akhirnya bayi kedua Pussy lahir. Lalu di susul bayi yang ketiga.
Seperti yang pertama, setiap bayinya lahir, Pussy menjilati anaknya dan kemudian menggigit putus tali plasentanya. Lalu memakannya. Aduh, perutku masih mual setiap kali mengingat hal itu.
Bayi Pussy yang pertama dan ketiga berwarna oranye. Yang kedua berwarna putih, oranye dan hitam. Mereka lucu-lucu.
Ibu lalu menindahkan kucing-kucing itu ke kardus bekas yang bersih. Di sana anak-anaknya dijilati sampai bersih. Satu anak Pussy, yang kemudian kuberi nama Harimau, menyusu dengan lahap. Tapi dua anak lainnya, masih merangkak ke sana-sini. Ada yang ke belakang kepala induknya, ada masuk di bawah kaki.
Kucoba mengangkat anak-anak kucing itu ke dekat putting susu induknya. Tapi mereka sepertinya nggak tahu, soalnya bukannya menyusu, mereka malah berkeliaran lagi. Mungkin mereka pingin tahu, seperti apa sih, dunia diluar perut induknya? Padahal mereka masih merem. Belum bisa melihat apa-apa.
Aku, adik-adikku dan teman-temanku setiap hari melihat anak-anak Pussy.
Mungkin karena merasa kurang aman, Pussy membawa anak-anaknya pergi. Dia menggendong anaknya dengan cara menggigit tengkuknya.
Yang pertama didatanginya adalah lemari pakaian. Tapi Ibu menutup semua pintu lemari rapat-rapat. Akhirnya Pussy pergi keluar rumah. Aku nggak tahu ke mana. Tapi beberapa saat kemudian Pussy kembali untuk mengambil anaknya yang lain. Sampai akhirnya semua anak Pussy dibawanya pergi.
Sejak itu anak-anak kucing yang lucu itu nggak bisa kami lihat lagi. Kalau Pussy sih, masih tetap di rumah kami. Tidur-tiduran di kursi, meong-meong minta makan. Tapi anaknya entah dimana.
Lalu suatu hari, ketika aku sudah hampir lupa kalau Pussy pernah punya anak, aku melihat dua ekor kucing kecil di dekat Pussy yang sedang tiduran di atas keset di depan rumah. Kucing-kucing itu berwarna oranye. Mereka sedang bermain-main dengan ekor Pussy yang bergoyang kekiri dan kekanan.
“Horee!!! Anak-anak Pussy sudah kembali!!” Sorakku.
Aku senang sekali, walaupun cuma dua ekor anak Pussy yang kembali. Yang seekor lagi, yang warnanya hitam putih, mungkin mati atau hilang. Kami tidak pernah melihatnya lagi.
Anak-anak Pussy takut ketika kudekati. Mereka berlari ke bawah kursi, menegakkan bulu-bulunya sambil menyeringai memperlihatkan taring mereka yang mungil dan mengeluarkan suara yang mungkin menurut mereka menyeramkan. Tapi menurutku, mereka lucu!!
Aku berusaha menggapai mereka. Tapi anak-anak kucing itu mencakarku! Aduh! Sakit! Tanganku sampai berdarah kena cakaran mereka.
Tapi aku nggak kapok. Tiap hari aku tetap mendekati mereka. Kadang-kadang waktu mereka menyusu, aku mendekat dan mengusap-usap bulu lembut mereka. Lama-lama mereka mengenalku dan juga adik-adikku. Mereka nggak takut lagi.
Sekarang mereka tinggal di kolong tempat tidurku. Di situlah mereka menyusu dan tidur.
Sebenarnya Ayah dan Ibu nggak setuju mereka berada di dalam rumah. Apalagi di dalam kamarku. Tapi karena mereka masih kecil, akhirnya Ayah dan Ibu membiarkan saja. Tapi nanti kalau sudah besar, mereka harus tidur di luar rumah.
Kini setiap hari, aku bisa bermain dengan anak-anak Pussy.
Aduh senangnya!!!
Hobiku membaca. Kalau sedang membaca, aku betah membaca berjam-jam lamanya, sampai-sampai ibuku sering mengingatkan aku untuk istirahat. Yang paling kusuka adalah membaca dongeng seperti Cinderella, Putih Salju, Pangeran Angsa dan semua cerita seperti itu. Tapi kadang-kadang aku juga membaca buku yang tebal seperti cerita Lima Sekawannya Enid Blyton. Kamu tahu cerita Lima Sekawan? Kata ibuku, cerita Lima Sekawan itu sudah lama. Pengarangnya bahkan sudah meninggal dunia ketika ibuku baru mulai membacanya. Ceritanya bagus lho!
Hobiku yang lain adalah menggambar. Aku paling suka menggambar putri dan pangeran. Selain itu, aku juga suka menggambar ikan, kucing dan binatang lainnya.
Aku sangat suka kucing. Kucing adalah binatang kesayanganku.
Aku punya kucing. Kucing cantik dengan belang tiga di tubuhnya. Namanya Pussy. Pussy datang sendiri ke rumah kami. Karena kami sayang dan sering memberinya makan, Pussy jadi betah berada di rumah.
ibuku kurang suka pada kucing. Soalnya kadang-kadang Pussy mengotori rumah dengan pipis dan muntahannya. Kadang-kadang juga mencuri ikan. Padahal Pussy itu lucu.
Tapi Ibu nggak tega kalau Pussy mengeong-ngeong minta makan. Biasanya Ibu akan memberinya makan berupa ikan yang dicampur dengan nasi. Bahkan setiap hari Ibu membeli ikan pindang keranjang, khusus buat Pussy. Kadang aku heran, nggak suka kucing tapi kok telaten memberi makan. Kata Ibu sih, memberi makannya karena ingat kalau kucing itu mahluk Allah juga.
Suatu hari Pussy bunting. Bunting itu hamil. Makin lama perutnya makin besar. Dan ketika tiba waktunya melahirkan, Pussy mendatangi Ibu. Dia mengeong-ngeong. Tadinya Ibu mengira dia minta makan. Tapi Pussy tidak mau makan. Dia hanya mendekam di lantai.
Ibu melihat sebentar-sebentar perut Pussy menegang. Dia juga kelihatan kesakitan. Nafasnya pendek-pendek, seperti kalau kamu habis lari muterin lapangan. Meongnya juga pelan. Saat itu Ibu tahu kalau Pussy akan melahirkan.
Ibu mengambil keranjang dan kain bekas. Kain itu dimasukkan dalam keranjang. Setelah itu Pussy yang dimasukkan dalam keranjang. Ibu menunggui Pussy sambil sebentar-sebentar mengusap perutnya. Perut Pussy, maksudku, bukan perut Ibuku!
Aku ingin tahu, tapi juga takut waktu melihat Pussy melahirkan. Dia kelihatan kesakitan dan bayinya susah keluar. Aku melihat seperti ada bola yang mau keluar dari pantat Pussy. Dia ingin menjilati perutnya. Tapi karena perutnya besar, lidah Pussy tidak bisa mencapainya. Jadinya Pussy berguling-guling nggak karuan di dalam keranjang. Lalu dia ngeden. Tapi bayinya nggak keluar-keluar. Kasihan sekali.
Akhirnya, setelah bersusah payah, dan dengan diberi semangat oleh Ibu, bayi pertama Pussy lahir! Aku merasa sangat lega.
Bayi itu belepotan lendir dan darah. Pussy lalu menjilatinya. Setelah itu dia menggigit putus –apa yang oleh Ibu disebut- plasenta. Plasenta adalah organ khusus yang berfungsi sebagai saluran penerimaan nutrisi dari ibu dan bayi. Menurutku sih itu seperti usus. Setelah plasenta putus, Pussy memakannya.
“Kenapa dimakan?” tanyaku heran.
Ibu juga nggak tahu kenapa. Tapi kata Ibu mungkin karena di dalam plasenta banyak protein dan gizinya. Sayang kalau dibuang…. Ihh!!…. Perutku langsung mual!!
Setelah memakan plasenta, Pussy menjilati bayinya lagi.
Tapi tiba-tiba dia ngeden lagi.
“Bayinya mau keluar lagi.” Kata Ibu.
Haa…? Memangnya di dalam perut Pussy masih ada bayi lagi? Berapa ekor?
Ibu nggak tahu berapa banyaknya. Tapi kucing bisa punya lebih dari satu bayi sekali melahirkan. Bahkan ada yang sampai lima ekor! Lima ekor? Bayangkan! Pasti lucu sekali! Tapi pasti mengurusnya juga susah. Soalnya mengurus aku dan dua orang adikku saja Ibu sudah sering kerepotan. Waktu kukatakan itu pada Ibu, Ibu malah tertawa.
“Mengurus bayi kucing dengan bayi orang beda dong! Bayi kucing nggak perlu dimandikan, dipakaikan popok dan digendong-gendong. Yang penting dia kenyang dan bersih sudah cukup. Oh ya, ada lagi. Bayi kucing harus berada di tempat yang aman. Kalau induknya merasa bayinya nggak aman, dia akan memindahkan anak-anaknya ke tempat aman. Biasanya sih di atas rumah, di gudang atau tempat tersembunyi lainnya.”
Akhirnya bayi kedua Pussy lahir. Lalu di susul bayi yang ketiga.
Seperti yang pertama, setiap bayinya lahir, Pussy menjilati anaknya dan kemudian menggigit putus tali plasentanya. Lalu memakannya. Aduh, perutku masih mual setiap kali mengingat hal itu.
Bayi Pussy yang pertama dan ketiga berwarna oranye. Yang kedua berwarna putih, oranye dan hitam. Mereka lucu-lucu.
Ibu lalu menindahkan kucing-kucing itu ke kardus bekas yang bersih. Di sana anak-anaknya dijilati sampai bersih. Satu anak Pussy, yang kemudian kuberi nama Harimau, menyusu dengan lahap. Tapi dua anak lainnya, masih merangkak ke sana-sini. Ada yang ke belakang kepala induknya, ada masuk di bawah kaki.
Kucoba mengangkat anak-anak kucing itu ke dekat putting susu induknya. Tapi mereka sepertinya nggak tahu, soalnya bukannya menyusu, mereka malah berkeliaran lagi. Mungkin mereka pingin tahu, seperti apa sih, dunia diluar perut induknya? Padahal mereka masih merem. Belum bisa melihat apa-apa.
Aku, adik-adikku dan teman-temanku setiap hari melihat anak-anak Pussy.
Mungkin karena merasa kurang aman, Pussy membawa anak-anaknya pergi. Dia menggendong anaknya dengan cara menggigit tengkuknya.
Yang pertama didatanginya adalah lemari pakaian. Tapi Ibu menutup semua pintu lemari rapat-rapat. Akhirnya Pussy pergi keluar rumah. Aku nggak tahu ke mana. Tapi beberapa saat kemudian Pussy kembali untuk mengambil anaknya yang lain. Sampai akhirnya semua anak Pussy dibawanya pergi.
Sejak itu anak-anak kucing yang lucu itu nggak bisa kami lihat lagi. Kalau Pussy sih, masih tetap di rumah kami. Tidur-tiduran di kursi, meong-meong minta makan. Tapi anaknya entah dimana.
Lalu suatu hari, ketika aku sudah hampir lupa kalau Pussy pernah punya anak, aku melihat dua ekor kucing kecil di dekat Pussy yang sedang tiduran di atas keset di depan rumah. Kucing-kucing itu berwarna oranye. Mereka sedang bermain-main dengan ekor Pussy yang bergoyang kekiri dan kekanan.
“Horee!!! Anak-anak Pussy sudah kembali!!” Sorakku.
Aku senang sekali, walaupun cuma dua ekor anak Pussy yang kembali. Yang seekor lagi, yang warnanya hitam putih, mungkin mati atau hilang. Kami tidak pernah melihatnya lagi.
Anak-anak Pussy takut ketika kudekati. Mereka berlari ke bawah kursi, menegakkan bulu-bulunya sambil menyeringai memperlihatkan taring mereka yang mungil dan mengeluarkan suara yang mungkin menurut mereka menyeramkan. Tapi menurutku, mereka lucu!!
Aku berusaha menggapai mereka. Tapi anak-anak kucing itu mencakarku! Aduh! Sakit! Tanganku sampai berdarah kena cakaran mereka.
Tapi aku nggak kapok. Tiap hari aku tetap mendekati mereka. Kadang-kadang waktu mereka menyusu, aku mendekat dan mengusap-usap bulu lembut mereka. Lama-lama mereka mengenalku dan juga adik-adikku. Mereka nggak takut lagi.
Sekarang mereka tinggal di kolong tempat tidurku. Di situlah mereka menyusu dan tidur.
Sebenarnya Ayah dan Ibu nggak setuju mereka berada di dalam rumah. Apalagi di dalam kamarku. Tapi karena mereka masih kecil, akhirnya Ayah dan Ibu membiarkan saja. Tapi nanti kalau sudah besar, mereka harus tidur di luar rumah.
Kini setiap hari, aku bisa bermain dengan anak-anak Pussy.
Aduh senangnya!!!
Senin, 18 Agustus 2008
Nasi Bukhori
Bulan puasa telah berjalan selama beberapa hari. Seperti biasanya bulan puasa, menu buka puasa terdiri dari kolak, es buah dan lain-lainnya.
Bosan dengan masakan di rumah, kamipun memutuskan untuk makan di luar. Setelah sholat maghrib kami berangkat.
Langit Bekasi telah gelap ketika kami menyusuri jalanan dengan isuzu panther kami, yang oleh suamiku lebih sering disebut sebagai ‘antonov’, karena menurutnya ketangguhan dan keberisikan panther kami seperti pesawat antonov buatan rusia yang mampu membawa pesawat ulang-alik di punggungnya –dalam hal ini panther kami mempu mengangkut suamiku, aku, keempat anak kami dan seorang pembantu..hehe.
Lampu-lampu jalan dan kendaraan silih berganti menerangi, kadang-kadang menyilaukan mata. Entah berapa kilometer sudah kami tempuh, ternyata rumah makan, restoran sampai warung-warung tenda yang kami lewati telah penuh oleh orang-orang yang berbuka puasa. Dalam hati aku berpikir, kenapa sih mereka semua buka puasa di luar rumah…?
Segelas kolak yang kusantap saat adzan maghrib tadi tak cukup membuat perutku berhenti keroncongan.
Entah kenapa, tiba-tiba aku ingin sekali makan nasi bukhori. Terbayang di depan mataku nasi berwarna kuning, dengan lauk ayam bakar, cabe hijau besar dan irisan jeruk nipis…. Hemmm… air liurku sulit dibendung.
Aku mengenal Nasi Bukhori ketika pergi berhaji thn 2006. Alhamdulillah ketika itu aku dan suami dapat berangkat ke tanah suci. Padahal aku sedang hamil 6 bulan. Dan alhamdulillah, bersama kami, walau dari daerah dan kloter yang berbeda, berangkat juga 2 orang kakakku. Yang seorang kakak laki-lakiku dari Surabaya, seorang lagi kakak perempuanku dari Jakarta (walau tinggalnya di Bandung), bersama suaminya. Aku dan suami dari Jakarta juga, tapi dengan KBIH plus bernama Wisata Rahmah.
Kami bertemu di Mekkah. Beberapa kali kami janjian makan sama-sama, gantian saling mentraktir (padahal uang yang kami pakai semuanya dari sumber yang sama, yaitu pemberian kakak sulungku, yang berbaik hati nyangoni kami. Waktu itu aku bermaksud menukar uang rupiah ke real kepada kakakku yang bekerja di BRI. Tapi kakakku itu malah memberi cuma-cuma. Aku diberinya 140 real. Entah dengan kakak-kakakku yang lain.Terimakasih Kakak!! :D)
Bersama mereka aku mengenal nasi bukhori dan kebab. Kami juga makan baso dan yang lainnya. Kalau tidak sedang makan bersama mereka, aku dan suami makan makanan yang disediakan oleh penyelenggara haji kami di Sofitel, hotel tempat kami menginap.
Tapi makan nasi bukhori yang paling membekas di hatiku adalah ketika aku dan rombongan haji kami beristirahat di tempat peristirahatan antara Mekah dan Madinah. Sebuah perjalanan panjang yang seolah tiada habisnya, melewati sekian ratus kilometer yang melelahkan, dengan pemandangan yang ‘hanya’ itu-itu saja, yaitu pasir, bebatuan dan sesekali pepohonan mirip semak-semak yang jarang (ada beberapa tempat ditumbuhi pohon cukup rindang mirip hutan kecil yang kontras dengan pasir di sekelilingnya), dan juga beberapa kali kami melihat beberapa ekor unta. Akhirnya kami berhenti juga untuk istirahat, sholat dan makan.
Ketika turun dari bis, rasanya seperti berada di negeri antah berantah.
Di sana, kami wudlu dengan air yang sepertinya diambil dari laut karena rasanya asin. Setelah sholat kamipun makan nasi bukhori.
Aku dan teman-teman wanita (ruang makan pria dan wanita dipisah) memakannya beramai-ramai, sambil bercanda, tertawa dan berbagi suka duka. Ada yang sepiring berdua, ada yang bertiga. Karena porsinya sangat banyak –piringnya mirip tampah kecil- tak mungkin salah satu dari kami menghabiskannya sendirian. Padahal pada saat itu aku yang hamil banyak makan! Rombongan pria menyantapnya sepiring berdua. Tapi kabarnya seporsi itu pas untuk satu orang Arab.
Ingat Nasi bukhori,ingat kami telah berhaji, mengingatkan betapa bersukurnya karena Allah telah mengizinkan kami menapakkan kaki di tanah suciNya. Padahal banyak yang gagal berangkat karena berbagai sebab, termasuk karena hamil. Seperti beberapa orang tetanggaku.
Semakin kusadari betapa ibadah haji itu bukan semata karena harta, tapi lebih karena niat dan doa.
Rengekan anak-anak yang mulai rewel dan kelaparan membawa anganku kembali ke alam nyata. Ini bukan Arab Saudi! Sekarang kami masih di Bekasi dan masih belum berhasil mencari tempat makan….
Kalau karena berdoa aku dan suami bisa pergi haji, berarti mungkin karena lupa berdoa sebelum berangkat tadi, kami jadi kesulitan mencari tempat makan!!
Menyadari hal itu aku segera mengajak semuanya berdoa. Dan Alhamdulillah… tidak lama kemudian kami sudah duduk manis menunggu pesanan makanan kami datang…
Bekasi, 2007
Langganan:
Postingan (Atom)