Cerita Emak ini hanyalah sedikit dalam keseluruhan jagad raya. Pengalaman Emak hanyalah segelintir dari kisah di luar sana. Emak hanya ingin berbagi cerita. Dengan berbagi kita jadi mengerti banyak hal yang bisa diketahui tanpa harus mengalaminya sendiri. Atau kita jadi tahu ada persamaan yang kita miliki. Semoga cerita Emak ini bermanfaat. Selamat membaca.
Selasa, 24 Agustus 2021
Hei! Lihat Sini! Innerchild Sedang Memanggilmu!
Senin, 23 Agustus 2021
Percaya Nggak, Hidup Ini Misteri? Coba deh Amati, Perjalanan Hidup yang Telah Kita Lalui.
Sabtu, 14 Agustus 2021
Buku Antologi
Suatu malam Emak sedang membuka-buka facebook, ketika sebuah notif messengger muncul. Menandakan ada sebuah permintaan pesan dari orang asing.
Emak bertanya-tanya, siapakah gerangan yang mengiriminya pesan? Ah.. paling sales menawarkan barang. Atau mungkin Emak-Emak sosialita mengajak arisan online. Atau bisa juga orang menawarkan produk pelangsing... bibir Emak mengerucut. Dia sensi kalau ada yang menyinggung masalah berat badan.
Daripada penasaran, lebih baik dibuka saja pesannya.
Si pengirim pesan bernama Reni Sartika Srikandi Banjharan. Hmm...Nama yang panjang. Walau masih kalah panjang sama nama Emak.
Emak membaca pesannya:
"Assalamualaikum mbk. Salam kenal. Kita satu grup d ibu2 doyan menulis. Saya resa dr kab tanah datar Sumatera barat. Saya lagi nyari teman buat nulis antologi bersama2. Nanti kita terbitkan langsung. MBK mau ikutan?"
Alis Emak naik penuh tanya. Tidak ada hujan tidak ada angin..ya memang tidak berhubungan sih sama hujan dan angin, kok tetiba ada orang yang mengajak menulis buku?
Emak memang bergabung di grup FB IIDN -Ibu-ibu Doyan Nulis. Tapi Emak tidak pernah mengirimkan tulisan apa-apa di grup itu. Emak adalah member pasif yang hanya membuka grup sesekali. Itupun hanya sekilas.
Emak memutuskan untuk membalas pesan itu. Emak menyampaikan rasa senangnya karena diajak bergabung menulis buku. Emak juga menyatakan keraguannya, apakah tulisan Emak nanti layak untuk diterbitkan. Resa meyakinkan Emak bahwa teman-teman yang lain juga banyak yang penulis pemula. Harapannya karya perdana ini akan menjadikan semangat untuk menghasilkan karya-karya selanjutnya.
Emak tidak yakin, apakah bisa menulis dengan baik dan layak diterbitkan menjadi buku antologi -buku yang ditulis banyak orang. Tapi menulis adalah hobi Emak, dan diterbitkan menjadi sebuah buku adalah salah satu impian Emak.
Emak pun sebenarnya merasa curiga, jangan-jangan ini sebuah penipuan? Tapi apa yang bisa ditipu dari menerbitkan sebuah buku?
Emak membaca lagi persyaratan ikut bergabung menerbitkan buku itu. Buku antologi ini akan berisi karya dari 25-30 penulis. Masing-masing penulis membuat dua tulisan. Dan biaya penerbitannya adalah 3 juta untuk 50 eksemplar, dan 5 juta untuk 100 eksemplar. Penulis diwajibkan membeli buku itu minimal 2 buah. Uangnya untuk biaya penerbitan.
Hmmm.... jadi berapa harga bukunya ya?
Kalau 5 juta dibagi 30 orang, maka ketemunya adalah 166.666. Jadi setiap penulis akan dikenai biaya sebesar itu. Jumlah yang tidak sedikit buat Emak.
Tapi dipikir-pikir lagi, kapan lagi ada yang mengajak Emak untuk menerbitkan buku? Kalaupun ini sebuah penipuan, kerugian materi yang Emak alami kira-kira ya 167.000 itu. Kerugian non materi, tidak bisa dihitung. Tapi pasti ada manfaat yang bisa diambil. Contohnya pengalaman.
Emak ingat nasehat yang diberikan Bapak kepada anak-anak mereka, "Jangan takut mencoba hal yang baru. Jangan takut gagal. Habiskan jatah gagal kalian, mumpung kalian masih belum punya tanggungan dan ada orangtua sebagai backup. Jangan melulu belajar untuk mendapat nilai yang bagus, tapi ikutlah kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. Ikut organisasi dan menjalin networking. Cobalah pengalaman-pengalaman yang baru." Begitu kata Bapak.
Keesokan harinya Emak meminta pendapat Bapak, bagaimana kalau Emak bergabung dengan Emak-Emak yang lain untuk menerbitkan buku antologi. Kata Bapak,
"Kalau dirasa bermanfaat, ikut saja."
Alhamdulillah Emak jadi lebih mantap hatinya. Dengan mengucap bismillah, Emakpun resmi menyatakan bergabung dengan Emak-Emak hebat yang lain untuk menulis buku antologi.
Karena ini baru buat Emak, maka Emak banyak bertanya kepada Resa tentang detil penulisan bukunya. Termasuk tanpa sungkang Emak menanyakan masalah royalty. Alhamdulillah Resa menjawab dengan sabar.
Saking bawelnya si Emak, Resa mendapuknya menjadi admin grup WA Antologi Emak-Emak Hebat. Alhamdulillah setelah Emak masuk di grup WA dan menjadi adminnya, grup yang kata Resa tadinya krik-krik karena sunyi, jadi ada gregetnya.
Emak juga yang mengusulkan agar dibuat deadline pengiriman tulisan. Karena menurut Emak, kalau tidak diberi deadline, kapan akan terbit bukunya?
Pertanyaan-pertanyaan Emak membuat Resa bercerita kalau dia pernah membuat buku antologi. Ada 2 buku yang telah diterbitkan. Yaitu Melipat Batas, dan Batu Daun Cinta Teman Setia Belajarku.
Emak jadi penasaran. Maka Emak berburu kedua buku itu melalui aplikasi bukalapak. Alhamdulillah ada yang jual. Keduanya dijual dengan harga 25.000. Entah buku ini asli atau bajakan, Emak tidak menanyakan. Emak sudah tidak sabar untuk mendapatkan buku-buku tersebut. Emak ingin tahu, apakah ada nama Reni Sartika di kedua buku itu?
Di grup WA Antologi Emak-Emak Hebat, mulai dilangsungkan perkenalan. Beberapa anggota memperkenalkan diri, nama, tanggal dan tahun lahir, alamat dan jumlah anak. Entah kenapa harus ada jumlah anak. Tapi menarik juga karena harus menuliskannya.
Tidak semua member grup mau menuliskan data diri. Atau lebih tepatnya belum bersedia membuka diri. Emak maklum. Kebanyakan member grup ini memang tidak saling mengenal, jadi mungkin belum timbul rasa percaya untuk saling terbuka.
Alhamdulillah hari ini Emak mendengar suara yang sudah dinanti-nantinya dari depan rumah, "Assalamualikum! Pakeeet!!"
Horeee !! Buku-buku yang ditunggu Emak datang juga. Tanpa menunda-nunda Emak segera unboxing paketnya. Dan Emak senang, karena pada dua buku itu ada nama Reni Sartika, alias Resa. Orang yang mengajaknya membuat buku Antologi.
Pada Buku Melipat Batas, Resa menceritakan pengalamannya menjadi mahasiswa di Amerika. Dan pada buku Batu Daun Cinta Teman Setia Belajarku, Resa menceritakan pengalamannya tentang mengajar.
Hati Emak yang tadinya masih ada keraguan, kini merasa mantap. Emak Yakin, Resa mengajaknya menerbitkan buku, karena memang ingin menerbitkan buku.
Buku yang bisa menginspirasi banyak orang, seperti buku pertama dan keduanya. Bukan untuk menipu atau mencari keuntungan sendiri dengan merugikan orang lain.
Deadline pengiriman naskah masih 2 bulan lagi. Emak optimis dengan izin Alloh, buku antologinya segera terbit dengan memuat karya-karya yang luar biasa dari Emak-Emak Hebat penulisnya.
Ayo Emak-Emak Hebat, kita tunjukkan karya-karya terbaik kita.
Tambun 7 Februari 2020
Rabu, 16 Januari 2019
Cerita Emak episode Kaki
Pagi ini ceritanya Emak pergi ke Tambun. Perginya bareng anak sholgant yang sedang ada urusan bersamaan arah. Karena pergi naik motor, Emak yang selalu tertib pun memakai helm. Dan karena sholgant ada urusan, Emakpun ditinggal sendirian. Helm yang dipakai Emak tetap dibawa sama Emak. Soalnya kalau dicantelin di motor ribet. Secara di motor sudah tercantel helmnya si bungsu.
Pulang dari tambun Emak bisa naik ojol, naik elf atau jalan kaki. Dan Emakpun memilih jalan kaki. Pertimbangannya? Nggak ada pertimbangan apa-apa. Emak pingin aja jalan kaki.
Awalnya helm Emak ditenteng-tenteng. Terus dicantelin di lengan. Tapi karena rasanya ribet, akhirnya Emak pakai saja helmnya. Dengan begitu tangan Emakpun bebas. Dan kepala terlindung dari panas.
Jam 10 pagi menjelang siang. Cuaca cerah ceria.
Ternyata berjalan kaki itu menyenangkan. Berjalan kaki membuat Emak bisa melihat sekeliling dengan leluasa. Bisa berhenti setiap saat kapanpun diinginkan.
Emak jadi memperhatikan ternyata di komplek pertokoan Tambun City ada 7 toko bernuansa Islam. Ada Rabbani, Wardah, dll. (Biar sudah diingat-ingat Emak lupa lagi nama toko-tokonya 🤔).
Jalan kaki membuat seluruh tubuh bergerak dan Emak merasa lebih sehat. Emak jadi lebih bersyukur memiliki kaki yang sempurna, yang begitu hebat, kuat menopang tubuh Emak yang berat ke mana-mana.
Emak jadi ingat postingan dari pak Puja Subrata di grup WA tentang Kaki-kaki.
*KAKI-KAKI*
Karena Kaki lah, Sehingga Juventus rela merogoh kocek 100 juta Euro atau sekitar 1,6 Triliun Rupiah Rupiah untuk mendatangkan CRonaldo7 ke Turin.
Karena Kaki lah, Sehingga Zohri mendapat hadiah umroh, uang 100 juta, renovasi rumah & tawaran pekerjaan tanpa tes serta pujian yang tak henti-hentinya.
Karena Kaki lah, Sehingga Mbappe bisa membawa Prancis mengangkat Piala Dunia untuk ke-2 kalinya serta mendapat gelar pemain muda terbaik pildun 2018.
Karena Kaki jua lah, Sehingga Abdullah bin Mas'ud ditertawakan orang-orang karena memiliki kaki yang kecil, yang tidak proporsional dengan badannya, namun dibela oleh Rasulullah
والذي نفسي بيده، لهما أثقل في الميزان من أُحد
_Demi Zat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya kedua kakinya ini lebih berat dari Gunung Uhud dalam timbangan amal._
(HR. Ahmad)
apa jadinya diri kita ini tanpa kaki?
Sungguh nikmat yang sangat besar bila memiliki sepasang kaki yang sehat, kaki yang bisa berjalan & kaki yang bisa berlari.
Namun pertanyaanya, kaki seperti apakah yang menyelamatkan kita dunia akhirat?
Kaki mahal model CR7 kah?
Atau kaki cepat seperti Zohri kah?
Atau kaki lincah spt Mbappe?
Ataukah seperti kaki mulia Abdullah bin Mas'ud yang mendapat pujian dari Rasulullah?
Sebelum menjawab, ingatlah selalu,
bahwa kaki-kaki kitalah yang kelak akan menjadi saksi setiap langkah-langkah dalam kehidupan ini.
وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
_".... dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan."_
(QS. Yasin : 65)
Maka beruntunglah
kaki-kaki yang langkah-langkahnya adalah menuju kebaikan,
kaki-kaki yang berjalan di jalan Allah,
kaki-kaki yang melangkah berhijrah,
Kaki-kaki yg lebih sering datang ke pengajian Dan Shalat berjamaah di Mesjid.
kaki-kaki yang berlari menuju ketaatan kepada-Nya dan
kaki-kaki yang tak pernah lelah untuk berjalan menuntut ilmu...
Semoga dengannnya, Allah SWT mengizinkan kita utk dapat menginjak Surga-Nya...
Aamiin Ya Rabb 🙏🙏
Tambun 24 juli 2018








Cerita Emak episode Bukber
Ada 2 kenikmatan orang yang puasa. Yg pertama saat berbuka. Yg kedua saat bertemu dengan Tuhannya.
Emak cuma bisa membayangkan bagaimana nikmat bertemu dengan Tuhannya, kalau puasanya berhasil. Maksudnya berhasil, puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tapi juga menahan diri dan lain-lain dan mengepolkan ibadah karena Alloh. Yang dirasa Emak ternyata bukan cuma susah, tapi sussyyeee.....
Terus nggak ada setan buat disalah-salahin, kenapa ibadah terasa berat dan maksiat belum mau tobat...?? Emak Mengehela nafas dan mngelus dada..
Tapi kalau nikmat buka puasa nih, Emak sudah bisa merasakannya. Dari sekian banyaknya makanan minuman buka puasa, ada kolak, es buah, kue gorengan, buah-buahan dll, menurut Emak buka yang paling nikmat saat maghrib tiba adalah minum air hangat yang banyak. Hangat agak panas. Bisa air putih saja, atau diberi irisan lemon, atau dibecek-becekin kurma. Suka-suka Emak aja. Maka Emak akan mandi keringat dan merasa segar. Setelah itu barulah mengisi perut dengan yang lain-lain.
Tapi "ritual" itu berantakan kala bukber tiba. Nggak mungkin kan Emak menghabiskan "bergalon-galon" air hangat di tempat bukber. Selain nggak sopan karena ngabis-ngabisin jatah bukber orang, nggak enak juga kalau keringetan. Kasihan di sebelahnya nanti makan jadi nggak selera 😁
Alhamdulillah di pengajian Emak, tempat Emak menimba ilmu dan menjaga agar pikiran tetap waras, di bulan romadhon ini sudah mengadakan buka bersama sebanyak 4 x. Ini bisa terjadi karena ada yang aqiqoh.
Maklumlah teman-teman pengajian Emak memang kebanyakan mahmud yang masih produktif. Emak merasa dituakan biarpun sebenarnya perasaan Emak nggak pernah tua. Emak agak risih juga kalau ketemu dan salaman ada yang cium tangan, biarpun tidak semua.
Kembali ke bukber. Alhamdulillah teman-teman Emak di sekitaran masjid, bahkan yang jauh juga, semuanya kompak dan bisa kerjasama dengan baik. Maka ketika ada halo-halo di grup WA tentang buka bersama dan mengharapkan ibu-ibu yang longgar hadir jam 15.30 wib untuk membantu membuat es buah dan teh hangat, ibu-ibu yang longgar dan melonggar-longgarkan waktunya pun hadir walaupun sambil membawa anak kecil.
Tak ketinggalan para remaja dan remaji serta bapak-bapak muda hadir juga untuk mempersiapkan tempatnya. Mereka menggelar terpal dan menyiapkan plastik untuk tempat sampah serta memasang lampu penerangan. Alhamdulillah semua kompak.
Acara bukber membuat senang bukan cuma karena makanannya tapi juga kumpul-kumpulnya. Kalau pas pengajian kan tidak bisa ngobrol seperti saat bukber begini. Dan anak-anak kospun merasa senang karena bisa berhemat dan tetap makan makanan yang bergizi. Alhamdulillah dari yang kecil sampai yang besar semua kebagian.
Kalau sudah menjadi rizkinya tidak akan ke mana-mana. Alhamdulillah.


Cerita Emak episode Gowes

Cerita Emak episode nggowes
Jadi ceritanya Emak baru pulang dari membetulkan sandalnya di tukang sol sepatu.
Kali ini Emak tidak naik jupiter mx nya karena jarak tempuh cukup dekat dan sepeda Emak ada keranjang di depan, memudahkan bawa barang.
Di perjalanan Emak berpapasan dengan dua anak perempuan tanggung yang berboncengan naik sepeda. Anak-anak itu, yang kemudian Emak tahu namanya D dan H mendekati Emak dan menyapa,
"Ibu.. boleh tanya nggak?" Tanya D.
Emak berhenti mengayuh sepedanya. Jiwa Emak perinya segera muncul.
"Boleh.. ada apa?" Tanyanya ramah.
"Jalan ke satam ke mana ya?"
"Oh..ke satam ke arah sana." Emak menunjuk arah utara.
"Bukannya ke sini?" D menunjuk arah sebaliknya.
"Bukan. Satam ke sana."
"Lewat sini bisa ga?"
"Bisa tapi muter. Satam arah sana, nanti di prapatan indomaret belok kiri. Terus ikutin jalan. Ketemu lapangan belok kanan."
Mereka berpandangan dengan bingung. Emak memperhatikan di keranjang sepeda mereka ada dua buah map warna merah dan kuning.
"Mau daftar sekolah di satam?"
"Iya.."
Melihat mereka berdua Emak jadi salut. Kedua anak itu mau daftar sekolah ke smp 1 tambun. Mereka tidak tahu mau ke sekolah itu lewat mana. Keduanya berboncengan naik sepeda bergantian mengayuh. Tidak diantar orangtua.
Akhirnya Emak menawarkan mengantar mereka. Sama-sama menggowes. Tapi sepeda Emak lebih besar dan bisa pindah-pindah gigi. Sepeda mereka kecil, berboncengan lagi. Tapi keduanya tetap semangat dn cekikikan sepanjang jalan saat menemui rintangan. Entah tanjakan tidak kuat, atau terkena jeglongan. Kalau Emak lupa diri dan mengayuh terlalu cepat mereka akan berseru "Ibu.. tunggu...!!"
Akhirnya setelah dekat tempat yang dituju, Emak berhenti. Anak-anak itu ketinggalan agak jauh. Emak menunggu sambil memperhatikan mereka yang terlihat capek tapi tidak mau menyerah.
"Capek ya?" Tanya Emak.
"Enggak... cuma pegel-pegel.." kata mereka.
Emak lalu menunjukkan gedung sekolah yang dimaksud. Mereka berterima kasih. Waktu Emak menawarkan mau membelikan mereka minum, anak-anak itu menolak.
"Sudah ada. Sudah persiapan."
"Ooh.. ya sudah. Semoga sukses ya." Kata Emak.
Anak-anak itu berterima kasih lagi dan menyalami Emak. Lalu kembali boncengan lagi menuju satam. Mereka sempat dada dada. Emak jadi terharu..
Emak diam-diam mendoakan semoga mereka bisa melanjutkan sekolah di satam dan semoga mereka selalu mendapat hidayah Alloh dan jadi orang-orang yang sukses. Aamiin.
Emak memutar sepedanya.. dan baru merasa.......
jauhnya jalan pulang... huaaa....😧
Tapi Emak senang karena bisa menunjukkan jalan buat anak-anak yang penuh semangat seperti mereka.
Ayo semangat Mak! Masa nggowes segitu aja mengeluh. Gimana anak-anak tadi yang harus boncengan. Dan mungkin nanti setiap hari mereka akan menempuh jalan panjang ini untuk menimba ilmu.
Cerita Emak episode Ngantri
Manusia zaman now, senengnya yang instant-instant. Pokoknya yang cepat dan praktis. Mi instant. Bubur instant. Bumbu instant. Belanja juga maunya instant. Duduk manis di rumah belanjaan datang sendiri. Bayar listrik, telpon dll bisa pakai smart phone.
Tapi kok ya di zaman yang serba praktis dan online ini, masih ada juga yang ribet dan ngantri luamaaa banget. Padahal antrinya ini bukannya untuk dapat sembako gratisan, tapi mau bayar.
Seperti yang dialami Emak kemarin.
Emak dan si nomor 2 pergi membayar pajak kendaraan bermotor. Biasanya bayar di dekat rumah. Tapi karena grand livina umurnya sudah 5 tahun, jadi harus ganti plat nomor. Harus diurus di tempat yang jauh, di Cikarang.
Pertama datang, Emak menuju bagian pendaftaran. Oleh bagian pendaftaran, diberi kertas untuk menggesek nomer rangka dan nomer mesin oleh petugas. Setelah itu mobil harus pindah parkirnya.
Langkah berikutnya kertas hasil gesekan dikembalikan, nunggu dipanggil agak lama. Setelah dipanggil, lanjut membawa berkas ke dalam ruangan. Diberi formulis untuk diisi. Kemudian diserahkan ke bagian informasi. Dari bagian informasi menuju bagian daftar ulang. Nunggu lama diantara manusia-manusia senasib sepenanggungan yang berdiri menanti tanpa dapat kursi. Kaki Emak sudah mulai pegal. Berat badan sudah berpindah-pindah dibagi sebelah kaki. Akhirnya dapat panggilan dari bagian daftar ulang. Disuruh menyiapkan BPKB untuk diperiksa. Usai BPKB diperiksa (yang mau bayar pajak bukan atas nama sendiri harus menyiapkan KTP juga) diarahkan ke kasir.
Setelah cukup lama, nama Emak pun dipanggil. Jrengg.... disuruh bayar 3.052.000
Setelah itu masih harus ngantri lagi untuk mengambil STNK. Alhamdulillah tidak terlalu lama STNK sudah jadi. Dari bagian STNK, Emak harus ke bagian pengambilan plat nomer. Tidak lama sih di bagian ini. Mungkin sekitar 15 menit, plat nomer Flanker yang baru pun jadi.
Alhamdulillah....
Memang untuk mencapai suatu tujuan itu perlu perjuangan..


