Senin, 04 Agustus 2025

Duka



Emak sedang berduka. Dalam dua tahun, orang-orang yang disayanginya telah kembali pada Sang Pencipta.

Ibu yang melahirkannya
Ibu yang melahirkan suaminya
Kakak ipar yang seperti ayahnya karena jarak usia mereka yang 19 tahun.

Perpisahan itu pasti terjadi. Entah ditinggalkan ataupun meninggalkan. Ketika tiba saatnya, tak ada yang bisa mengubahnya.

Emak semakin menghargai waktu bersama orang-orang tercinta. Semakin menyadari bahwa semua milik Alloh dan akan kembali padaNya. Emak juga semakin paham bahwa langkah kakinya dibawa usia menuju kematian tanpa bisa dicegahnya. Semoga bekal Emak nanti cukup untuk menebus kapling di surgaNya dan bisa berkumpul lagi dengan orang-orang tersayang. Aamiin.

Berita Gembira dari Teman Lama



Dulu, ada teman Emak yang sering curhat tentang kehidupan rumah tangganya yang kurang harmonis. Yang inilah yang itulah. Emak hanya mendengarkan dan berusaha hadir, karena Emak tahu dia tidak bisa melakukan apa-apa.

Setelah Emak pindah rumah pun, kadang mereka masih berkomunikasi lewat WA. Emak masih sering kepikiran tentang temannya ini. Maka kalau dia menemukan artikel atau konten yang bagus, masih dia share pada temannya itu. Harapannya tentu agar temannya bisa mengatasi masalah rumah tangganya dan hidup bahagia.

Terakhir, Emak kirim tautan https://www.instagram.com/reel/DM2e8n-Sb_n/?igsh=dmU0cndnYW1rN2lk

Dan temannya menjawab terima kasih. Lalu dia bilang, *aku mau cerita, kalau sekarang aku sudah bahagia nggak seperti dulu. Makasih ya udah peduli padaku.*

Emak bersyukur dan mendoakan semoga temannya itu bahagia selalu. Rasanya ada beban yang terangkat, karena selama bertahun-tahun kepikiran temannya itu. Emak merasa mulai sekarang tidak harus memikirkan temannya itu.

Tiba-tiba Emak kepikiran, bagaimana perasaan anak-anak yang melihat orang tuanya bertengkar, tapi tidak melihat proses mereka berbaikan? Apakah seperti yang Emak rasakan? Kepikiran terus? Cemas terus? Apalagi ini kan orang tua mereka. Tempat menggantungkan rasa percaya dan aman. 

Bisa jadi orang tua sudah tidak bertengkar lagi, sudah mesra lagi. Tapi si anak tidak tahu. Mungkin di hatinya akan dipenuhi rasa takut. Dia selalu memikirkan pertengkaran orang tuanya.

Kalau kalian pernah bertengkar di depan anak, bisa tidak baikannya di depan anak juga? Biar mereka merasa tenang karena masalah sudah selesai, dan mereka belajar bagaimana menyelesaikan konflik.

Sabtu, 02 Agustus 2025

Malu



Teman Emak yang baperan dengan perhatian orang lain tidak mau pergi ke psikolog. Malu katanya.


Padahal di masa sekarang membicarakan kesehatan mental sudah umum.  Meminta bantuan psikolog bukan berarti gila atau membuka aib. Kalau dibiarkan berlarut-larut malah bisa gawat. 


Ibu adalah jantungnya rumah. Kalau ibunya galau, seisi rumah bisa kacau.


Tapi, percuma memaksa orang pergi ke psikolog kalau dia sendiri tidak mau. Jadi Emak menyarankan untuk meminta bantuan suaminya mengatasi masalahnya.


Peran suami sangat penting dalam proses penyembuhan luka inner child istrinya. Ia bisa menjadi "safe place" yang memperkuat rasa aman, diterima, dan dicintai. 

Mungkin supaya istrinya pulih suami bisa:



💑 1. Hadir Sepenuh Hati

Kadang bukan apa yang dikatakan, tapi bagaimana ia hadir yang menyembuhkan.

  • Luangkan waktu untuk benar-benar mendengarkan tanpa menghakimi.
  • Tatap mata istri saat ia bercerita.
  • Letakkan ponsel, dan tunjukkan bahwa ia penting.

💬 2. Validasi Perasaan Istri

Inner child sangat rentan — yang dibutuhkan adalah pengakuan bahwa perasaannya masuk akal, bukan disalahkan.

✅ Contoh kalimat validasi:
“Aku bisa pahami kenapa kamu merasa tersentuh oleh perhatian kecil itu. Mungkin itu bagian dirimu yang dulu sering kesepian.”

❌ Hindari kalimat seperti:
“Kamu lebay.”
“Itu dosa, kamu jangan mikir aneh-aneh.”


🤗 3. Beri Sentuhan dan Perhatian Tulus

Perhatian hangat dari suami bisa menjadi obat langsung untuk luka masa lalu.

  • Peluk tanpa alasan, bukan hanya saat istri sedih.
  • Ucapkan: “Aku bangga sama kamu.” atau “Aku senang kamu ada di hidupku.”
  • Berikan kejutan kecil: secangkir teh, catatan manis, atau pijatan ringan.

🗓 4. Bangun “Waktu Khusus” Berdua

Luka inner child sering muncul karena minimnya quality time. Jadikan momen berdua sebagai ruang pengisian emosional.

  • Jadwalkan waktu 15–30 menit sehari tanpa gangguan, hanya untuk ngobrol atau duduk bersama.
  • Bisa juga “malam kencan sederhana” di rumah: nonton film bareng, ngobrol sambil minum teh.

🙏 5. Minta Maaf Jika Pernah Ikut Menyakiti

Kadang, suami tanpa sadar mengulang pola luka inner child (misalnya cuek atau sering mengkritik). Minta maaf bisa meluruhkan luka.

“Maaf kalau selama ini aku kurang hadir secara emosional. Aku ingin belajar jadi suami yang lebih memahami kamu.”


🧠 6. Terbuka untuk Belajar Bersama

Dukung istri mencari bantuan profesional jika perlu (psikolog/konselor). Bahkan lebih baik kalau suami juga ikut belajar bersama:

  • Baca buku/ikut webinar soal luka batin & inner child.
  • Tonton video bersama lalu diskusikan (misalnya video tentang luka pengabaian emosional masa kecil).

❤️ 7. Jadilah Cermin Cinta Sejati

Jika istri sempat “teralihkan” pada perhatian orang lain, jangan langsung menyalahkan. Ingat: luka itu tidak menyangkut cinta romantis — tapi luka emosional lama.

Suami yang sabar dan mengasihi bisa menjadi jalan istri menemukan kembali dirinya yang utuh.


Apakah ini berhasil?

Semoga saja. Yang penting terus berdoa dan berusaha. Alloh tidak akan menyia-nyiakan hambaNya.

Diri Kecil yang Merindukan Perhatian


*_Apa kabar, Mak? Aku mau curhat_* tulis teman Emak saat SMA.
*_Dia sering baca statusku, dia juga perhatian banget sama aku kalau lagi ngajar ibu-ibu ngaji. Aku jadi deg-degan. Aku takut sama perasaanku sendiri. Kenapa gini? Padahal usianya jauh di bawahku. Kemarin aku bertengkar sama suami gara-gara ini._*

Emak menghela napas, temennya yang satu ini curhatnya itu-itu aja. Ya tapi soal rasa, emang butuh dikeluarkan. Emak jadi ingat, jangan-jangan temennya ini punya luka innerchild yang membuatnya jadi mudah geer ketika ada yang memberi perhatian.

Emak pun mencari info di smartphonenya.

Di situ tertulis: Kemungkinan besar ada kaitannya dengan luka inner child jika perhatian kecil dari seseorang bisa memicu perasaan yang intens seperti "jatuh cinta", apalagi ketika situasi tersebut terjadi pada seseorang yang sudah menikah dan secara sadar tidak sedang mencari hubungan baru.

Penjelasan Psikologis:

Saat seseorang merasa sangat tersentuh hanya karena perhatian kecil, itu bisa menunjukkan bahwa:

1. Ada kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi di masa lalu, seperti:

Kurangnya kasih sayang dari figur ayah atau ibu.

Tidak pernah mendapat validasi bahwa dirinya berharga, dicintai, atau diperhatikan secara tulus.



2. Perhatian dari guru ngaji mungkin menyentuh bagian dalam dirinya yang dulu sangat merindukan pengakuan atau rasa disayangi — ini yang sering disebut "inner child yang terluka".


3. Perasaan “jatuh cinta” ini seringkali bukan cinta romantis sejati, tapi:

Kekaguman yang berlebihan karena orang tersebut memberikan apa yang selama ini tidak ia dapatkan.

Ilusi kedekatan emosional yang ditafsirkan oleh otak sebagai cinta, padahal itu respons terhadap kebutuhan lama yang terbuka kembali (ter-trigger).

Tandanya Inner Child Terluka:

Berikut beberapa tanda umum bahwa seseorang mungkin membawa luka inner child:

Cepat baper atau berlebihan saat mendapat perhatian/kritik.

Merasa kurang cukup, walau sudah punya pasangan yang baik.

Sangat ingin diterima atau disukai oleh figur otoritas (seperti guru).

Emosi sering tidak sesuai dengan logika/realitas saat ini.



---

Apa yang Bisa Dilakukan?

Sampaikan dengan lembut ke temanmu, bahwa perasaannya valid — tapi perlu dibedakan antara kenyataan dan luka masa lalu yang sedang muncul.

Beberapa langkah yang bisa ia ambil:

1. Refleksi diri: "Apa sebenarnya yang aku rasakan dari sikap guru itu? Apakah aku pernah merindukan perhatian seperti itu di masa kecil?"


2. Jurnal inner child: Menuliskan memori atau perasaan yang muncul, bisa jadi terapi awal.


3. Bicara dengan profesional: Psikolog bisa bantu membongkar akar luka tanpa menghakimi.


4. Meningkatkan kedekatan dengan pasangan: Kadang perasaan "jatuh cinta" pada orang lain muncul karena hubungan utama sedang kekurangan keintiman emosional.
------

Emak mengirimkan artikel itu kepada temannya.

*_kalau kasih sayang dari orang tua kayaknya nggak kurang. Tapi dulu aku pingin banget punya kakak_*

Mungkin perlu ditelusuri lebih lanjut. Emak pun menyarankan temannya pergi ke psikolog.

Pelukan yang Dirindukan



Mak, kengen dipeluk
Sebuah WA terpampang pop up di HP Emak. Dari seseibu yang pernah jadi tetangga Emak.

Emak membalasnya dengan stiker pelukan.
🫂

Ada apa gerangan?
Tanya Emak.

Gpp pingin peluk aja
Habis baca artikel, tentang pelukan. Katanya kita butuh empat pelukan sehari untuk bertahan hidup.Kita butuh delapan pelukan sehari untuk mempertahankan diri. Kita butuh dua belas pelukan sehari untuk tumbuh

Dulu Emak sering memeluk kalau ketemu. Aku seneng dipeluk. Tapi sekarang gak ada yang meluk 😓

Emang suamimu kemana? Minta peluk suamilah. Atau anak-anakmu

Suami sibuk kerja, anak-anak punya kegiatan sendiri. Susah dipegang.

Emak jadi kasihan sama temannya itu. Sepertinya bukan hanya temannya, banyak ibu-ibu yang kesepian di rumah karena semua anggota keluarga sibuk sendiri.

Apa kamu termasuk yang seperti itu?

Padahal memeluk itu mudah lo! Juga banyak manfaatnya.

https://www.alodokter.com/manfaat-berpelukan-untuk-kesehatan-dan-kebahagiaan-yang-sayang-dilewatkan

Pilihan

Pilihan

"Apa aku besok gak masuk aja ya?" tanya si Bungsu seperti kepada dirinya sendiri.

"Emang kenapa?" tanya Emak sambil menyimpan hpnya. Sepertinya serius ini.

"Aku gak enak badan," si Bungsu batuk-batuk. "Kurang istirahat. Bangun subuh, jam 6 harus sudah berangkat sekolah. Pulang sore. Magrib sampai jam 9 ngaji. Habis itu masih ngerjain tugas. Pingin gambar, pingin nulis gak ada waktunya."

"Oh, gitu. Ya kalau emang butuh istirahat, istirahat dulu aja," kata Emak.

"Tadi pas ngaji gurunya tanya, kamu sakit ya? Kalau sakit izin aja. Tapi kalau sudah kelas 12 nggak masuk itu kayak fatal gitu ya. Nanti ketinggalan pelajarannya. Aku kadang pengen kayak temen yang bisa cuek aja. Gak ngerjain tugas tapi nyantai. Dimarahin guru ya didengerin aja. Tapi aku nggak bisa!"

Emak mengusap-usap punggung si Bungsu. Konon mengusap punggung akan mengeluarkan hormon kebahagiaan dan membuat orang menjadi tenang.

"Hidup itu emang pilihan. Kalau menurut Emak, kamu itu tangguh dan bertanggung jawab. Insya Alloh yang begitu itu nanti akan sukses saat sudah hidup sendiri. Emak dan Bapak nggak selamanya ada bersamamu. Kalaupun ada, mungkin nggak sekuat sekarang."

Emak tiba-tiba merasa mellow.

"Banyak berita anak-anak sekarang nggak kuat dibawah tekanan. Kerja sebentar resign karena kerjaannya dianggap berat. Dikit-dikit menyalahkan keadaan. Dari sekarang kamu sudah belajar memutuskan mana yang terbaik dan menghadapi konsekuensinya. Itu akan menjadi bekalmu nanti."

Keesokan harinya, saat Emak keluar kamar, si Bungsu sudah rapi dengan seragamnya.

"Tetap sekolah?" tanya Emak.

Si Bungsu mengangguk meskipun terlihat agak lesu.

Emak segera menyiapkan sarapan. Hatinya antara tega dan tak tega. Terharu juga melihat tekad si bungsu.

"Semoga Alloh paring sehat dan aman selamat lancar barokah," doa Emak melepas si Bungsu di gerbang sekolah.

"Aamiin," jawab si Bungsu sambil mencium tangan Emak, lalu berlalu masuk ke sekolah sambil melambaikan tangannya.

#Nggak usah dimarahi dan diceramahi. Didengarkan dulu, validasi perasaannya. Lalu beri remaja kepercayaan setelah diberi pengarahan. Selebihnya, Bismillah laahaula walaa quwwata illa billah.

Mau Peluk Aja





"Ada cerita apa hari ini?" tanya Emak usai sholat Magrib bareng si Bungsu.

Si Bungsu tidak menjawab. Hanya merebahkan kepalanya di pangkuan Emak.

"Kalau mau cerita, Emak mau dengerin. Tapi kalau nggak mau cerita, ya gakpapa juga." Emak membelai kepala si Bungsu.

"Aku mau dipeluk aja," jawab si Bungsu.

"Ya udah sini!" Emak menarik si Bungsu dalam pelukannya. "Bayi Emak udah segede ini!"

Si Bungsu hanya tertawa dan membenamkan diri di pelukan Emak.


Kadang, kita tidak perlu berkata-kata. Cukup pelukan hangat untuk menenangkan hati.