Selasa, 11 Mei 2010

BAZAR UB SUMBERJAYA 2004

Bongkar-bongkar, beres-beres, menemukan karya yang telah terlupakan. Ini gambar yang kubuat thn 2004, waktu ada bazar UB sumberjaya.
Tokoh2nya Dewi Sekar Arum, Yudha Adiwijaya dan Bagus Seno Pamungkas.

Saat gambar ini dibuat anak-anak masih kecil. Sekarang melihatnya lagi mereka senang sekali dan meminta ibunya membuat gambar-gambar lagi.

Minggu, 28 Februari 2010

Ketika nyawa (serasa) di ujung tanduk


Biasanya yang menjadi perumpamaan adalah, bagaikan telur diujung tanduk....

Siapa yang bisa menyangkal bahwa nyawa adalah sesuatu yang sangat berharga bagi pemiliknya? Orang bilang kucing punya 9 nyawa, padahal kita tahu sebenarnya ya cuma satu.
Kita cuma punya satu, dan ketika hilang dari raga, tak ada yang bisa menggantikannya. Meninggal. Mati. Titik.

Ketika hari-hari berjalan normal, ketika semua baik-baik saja, mati sepertinya jauh dari kita. Padahal mati itu sangat dekat. Kadang datang tanpa disadari oleh orang yang akan mati dan orang-orang di sekitarnya.

Tetanggaku pergi bekerja seperti biasa, ternyata pulang tanpa nyawa. Ada orang yang tidur dengan tenang, ternyata tidak pernah bangun lagi. Ada juga yang sakit parah, namun karena ajal belum sampai, nggak mati-mati. Malah orang sehat yang merawatnya yang mati duluan. Dan masih banyak lagi contohnya bila kita mau mencermati.

Sebenarnya setiap saat nyawa bagaikan telur di ujung tanduk. seperti telur di ujung tanduk, gampang banget 'pecah'nya. Tapi kadang-kadang hanya saat-saat tertentu kita (sangat) merasakannya.

Seperti yang ku alami.

29 maret 2007, saat melahirkan anak ke 4. Sesar lagi. 3 x sebelumnya sesar juga. Sampai ada yang bilang, kok nggak dikasih resleting aja? Emang celana pakai resleting....
Sesar yang keempat ini rencananya sekalian mengangkat miom atau rahim (tergantung mana yang bisa dilakukan). Padahal kalau dipikir, 3 x sesar kan sudah pengalaman. ya 'gitu-gitu' aja. Tapi tetap saja rasa takut mencengkeram hati. Padahal 3x sebelumnya malah biasa aja rasanya. mungkin karena jaraknya dekat. Dan sesar ke4 ini akan ada penyakit yang diangkat.
Terpikir olehku, inikah akhir dari ceritaku....?

Alhamdulillah dengan izin Allah aku kembali pulang dengan bayi mungil yang lucu, walau seminggu di rumah masih harus memakai kateter karena kandung kemih tergores pisau operasi, dan penyakitnya gagal diatasi.

Lalu lebaran tahun 1429H. Rencana senang-senang mudik lebaran, malah aku dan Sekar harus masuk RS. Sekar asmanya kambuh, aku karena HB rendah. Dunia sudah gelap, suara-suara hanya terdengar seperti dari jauh dan sentuhan terasa menyakitkan. Seperti berada di negeri antah berantah...
Akankah duniaku berakhir? Aduuh... padahal dosaku masih banyak dan malah tambah banyak....
Alhamdulillah walau harus jadi vampir menghisap 2 kantong darah dari pendonor, akhirnya bisa pulang. (thanks mas Dwi Gunawan, yang telah merelakan darahnya mengaliri tubuhku...)
Kemudian tgl 13 juni 2009 , aku menjalani operasi untuk menuntaskan yang tidak bisa dilakukan ketika melahirkan anak ke 4. Aku dioperasi untuk pengangkatan rahim dan ovarium kanan plus kista kanan-kiri. Ovarium kiri ditinggal, hanya dikupas kistanya.
Karena operasinya di tempat yang sama, biusnya juga lokal, jadi seperti sesar yang kelima. (dokter Gatot Prawoto yang mengoperasi aku sempat ngomel, "siapa sih yang bikin sayatan di sini? ini terlalu kebawah. Dokternya pasti penganut model Amerika, kalau sayatannya di sini pakai bikini nggak akan keliahatan...". fyi: dokter yang mensesar utk kelahiran pertama sampai ketiga adalah dr. Lidya Liliana, Sp.Og. Anak keempat dr. Lina Meilina. Sp.Og.. semuanya di RS Mitra Keluarga Bekasi Barat. Karena sesar dilakukan di tempat yang sama, otomatis yang berikutnya akan mengikuti bekas sayatan yang pertama.)
Malam sebelum berangkat ke RS aku tidak bisa tidur. Seperti inikah akhirnya? Apa aku akan kembali pulang ya...?
Ternyata...alhamdulillah Allah masih memberi kesempatan padaku untuk beramal. Alhamdulillah penyakitnya sudah diangkat dan aku sehat. Mudah-mudahan aku tidak menyia-nyiakan kesempatan yang telah dberikanNya. Amin.

Mungkin ada saat-saat lain ketika serasa nyawa bagaikan telur di ujung tanduk. Tapi saat-saat itu yang kuingat. Padahal kalau setiap saat nyawa bisa diambil oleh pemiliknya, berarti nyawa kita selalu bagaikan telur di ujung tanduk.

Untuk masalah dunia, anggaplah nyawa kita berada di tempat yang aman, kita akan hidup 1000th lagi. artinya, apa yang tidak bisa kita kerjakan hari ini, InsyaAllah bisa kerjakan di kemudian hari. Yang gagal hari ini kita sukseskan esok hari.
Untuk masalah akhirat, pikirkan bahwa kita akan mati sebentar lagi. Maksudnya, apa yang menjadi kewajiban kita kepada Allah segeralah lakukan sebelum terlambat. Karena tidak ada remedial atau hidup susulan buat yang kurang beramal.
Nasehat ini khususnya untuk diriku sendiri....

Kadang saat malam tiba dan semua telah terlelap, kupandangi keluargaku dengan rasa syukur yang meneteskan air mata. Alhamdulillah kami masih di sini. Masih diizinkanNya untuk menjalani hidup ini dalam bahagia dan sejahtera bersama-sama, dalam cinta dan hidayahNya. Bila Allah telah menghendaki, bisa saja salah satu dari kami hanya tinggal kenangan yang hidup dalam hati..
Bila itu terjadi, akan seperti apa hidup ini, aku tidak tahu. Yang kutahu, InsyaAllah akan selalu kusyukuri dan kunikmati saat-saat Allah memberi kesempatan kami untuk bersama-sama seperti saat ini. Semoga dengan bersyukur, Allah menambah nikmatNya sehingga kami lebih lama bisa bersama-sama. Amin.


Bekasi, Februari 2010

Minggu, 14 Februari 2010

SENYUM MATAHARIKU


SENYUM MATAHARIKU

Kadangkala kita tidak mendapatkan sesuatu yang kita inginkan. Kadang juga kita mendapatkan apa yang tidak kita inginkan. Kita tidak dapat memilih situasi yang sedang terjadi, namun kita dapat memilih sikap dalam menghadapi apa yang sedang terjadi.

Aku adalah seorang ibu rumah tangga dengan 4 orang anak. Yang sulung Sekar, kelas 6, perempuan. Yang kedua dan ketiga, Yudha kelas 4 dan Bagus kelas 3, laki-laki. Yang bungsu, Alya, 3 tahun, perempuan.


Pagi itu, seperti biasa aku bermaksud mengantarkan Sekar ke sekolah. Inginku jam 6.30 sudah mengantar Sekar ke sekolah. Jam 7.00 gantian mengantar Yudha Bagus. Karena Sekar masuk jam 7.00, sekolahnya agak jauh. Yudha-Bagus masuk jam 7.15 dan tempatnya lebih dekat. Tapi keinginan tinggallah keinginan. Anak-anak bukan mesin terprogram yang bisa selalu tepat waktu.

Pagi itu adalah pagi yang berantakan –begitulah menurutku. Harinya hari Sabtu, tanggalnya lupa (konon orang sanguinis tidak punya kalender di kepala). Anak-anak lelaki tidak mau bangun pagi. Alasannya karena hari itu Sabtu, hanya ekskul jadi malas ke sekolah. Sekar sudah bangun dan bersiap-siap, karena hari Sabtu KBM seperti biasa, tapi dia lupa kalau hari itu harus memakai baju pramuka, jadi kemarin baju pramukanya dimasukkan tempat cucian dan pagi itu masih basah kuyup.

Ha, aku pontang-panting mencari pinjaman baju pramuka. Alhamdulillah, dapat bajunya. Roknya terpaksa beli karena tidak ada yang bisa meminjami. Alhamdulillah ada toko kelontong dekat rumah yang menjual ‘segala macam’ barang dan buka pagi-pagi.

Berangkat ke sekolah sudah mendekati pukul 7.00. Sepertinya sepanjang jalan di kepalaku akan selalu menggantung awan mendung…. Sekar terlambat, anak-anak laki-laki belum bangun. Belum lagi Alya menangis waktu ditinggal mengantar sekolah. Sepulang mengantar Sekar masih harus membangunkan Yudha-Bagus dan mengantar mereka. Terus mau masak apa hari ini ya? Belanja apa? Belum mencuci, belum ini dan belum itu dll… Beginilah setelah aku tidak punya pembantu. Mungkin karena tidak biasa mengerjakan pekerjaan rumah, jadinya terasa sekali repotnya.

Jalanan agak padat. Aku tidak bisa tarik gas (kalau mobil tancap gas ya.. ). Lalu sambil jalan pelan-pelan aku mulai memperhatikan wajah orang-orang yang berpapasan denganku.

Waw! Ternyata banyak ragam ekspresi yang kutangkap. Ada yang terlihat penuh semangat (mungkin hari itu gajian). Ada yang serius (yang ini sepertinya mau presentasi –he, emang seperti suamiku yang serius banget kalau mau presentasi??), ada yang melamun (mungkin terkenang mimpinya semalam). Ada yang masih ngantuk (barangkali semalam kebagian ronda). Ada juga yang cemberut jelek sekali (seperti aku kali ya?). Ada juga yang tertawa-tawa mengobrol dengan temannya (yang ini anak sekolahan dan pegawai pabrikan sepertinya).

Lalu kulihat dia.

Seorang siswi SMP Putradarma. Hampir setiap pagi aku berpapasan dengannya kalau sedang mengantar Sekar. Wajahnya lembut, imut-imut, teduh, polos… apa lagi ya? cantik.


Seingatku setiap pagi yang kulihat sama. Dia naik sepeda, mengayuhnya dengan santai. Wajah lembutnya tidak menunjukkan ekspresi tertentu. Hanya terlihat polos dan damai, tenang tanpa masalah. Enjoy aja…

Melihatnya walau sekilas membuatku berpikir. Sebenarnya… apa masalahku, sampai mengundang mendung di atas kepalaku? Padahal hari ini matahari masih bersinar walau sedikit tertutup mendung tipis. Padahal aku sehat dan motor juga tidak ada masalah jadi bisa mengantar Sekar ke sekolah. Padahal begitu banyak nikmat Allah melingkupiku, sementara banyak orang tidak seberuntung aku.

Sampai di sekolah, Sekar terlambat. Tapi Alhamdulillah tidak apa-apa.

Pulangnya aku mampir beli Koran untuk suamiku, di agen Koran dekat sekolah Sekar. Di sana aku dulu mengambil Koran untuk dijual, bertahun-tahun yang lalu waktu kami buka kios buku.

Si Mpok penjual Koran habis mandi. Bersih dan wangi. Ketika melihatku masuk, dia mengenaliku, tersenyum lebar dengan bibir dan matanya –mungkin tepatnya seluruh dirinya. Sumringah.


Aku terheran-heran ketika menyadari mendung di atas kepalaku mendadak sirna oleh senyumnya. Seperti gelembung sabun yang tiba-tiba pecah.

Setelah membeli Koran dan basa-basi sebentar, aku pulang dengan senyum dan matahari di atas kepalaku. Ternyata dengan senyum, hidup terasa lebih indah.

Aku bisa berpikir, memang kenapa kalau Yudha dan Bagus belum bangun? Kalaupun tidak sekolah hari ini, bukan berarti itu akhir dari dunia. Alya mungkin sekarang sudah asyik bermain dengan ayahnya sementara aku sibuk menghawatirkan tangisnya tadi saat kutinggal. Tetek bengek yang lainnya pun bisa dikerjakan pelan-pelan.

Jadi… So what gitu loh…!! Just keep on smile. Life must go on.

Masalah tetap ada. Tinggal aku mau tersenyum dan bersyukur atau cemberut dan mengeluh.


Alhamdulillah, hari itupun berlangsung dengan baik. Walau perlu perjuangan dan terlambat, Yudha-Bagus akhirnya berangkat sekolah juga. Masakan yang enak dan bergizi juga tersedia. Lain-lainnya juga berjalan cukup baik. Memang sih malam harinya kedua kaki terasa panas dan berdenyut-denyut karena lelah. Tapi aku percaya semua itu tidak sia-sia.

Ketika semua telah terlelap, kupandangi suami dan anak-anakku. Tanpa terasa aku tersenyum, yang anehnya bersamaan dengan itu, air mataku mengalir di pipi. Senyum dan air mata bahagia. Tiba-tiba saja aku menyadarinya: Aku bahagia!

Bahagia itu bukannya tidak pernah mengeluh sama sekali. Bahagia itu bukannya tidak pernah merasa susah atau kekurangan. Kusadari bahagia itu adalah ketika aku menikmati kekinian. Menikmati apa yang tengah terjadi dengan rasa syukur

Begitu banyak karunia Allah yang bisa dan wajib kusyukuri. Itu bisa kumulai dengan bersyukur pada Allah atas pemberianNya yang melekat pada ruhku, mulai ujung rambut sampai ujung kaki. Lalu kebersamaanku dengan orang-orang yang aku cintai, yang kusadari sungguh bila Allah menghendaki, salah satu dari mereka bisa jadi hanya tinggal kenangan yang hidup dalam hati. Akupun harus mensyukuri fasilitas yang kumiliki saat hidup di dunia ini.

Dan yang lebih-lebih aku syukuri adalah hidayah Allah yang menjadikan aku sebagai orang yang beriman. Karena dengan keimanan, hidupku yang hanya sekali ini punya harapan untuk bahagia di akhirat nanti.

Alhamdulillah, sekarang bila hati tergoda untuk bersedih, aku berusaha memikirkan semua nikmat Allah yang telah diberikanNya padaku, dan mensyukurinya. Kufokuskan perhatianku kepada apa yang telah kumiliki, bukan pada apa-apa yang belum kumiliki. Misalnya saat rumahku bocor, bila kulihat orang-orang dengan rumah kokoh dan megah, tentu membuat hatiku lebih merana. Tetapi bila yang kulihat adalah orang-orang yang rumahnya kebanjiran, aku bisa bersyukur karena, apalah artinya rumah bocor bila dibandingkan mereka yang rumahnya tenggelam oleh banjir?


Alhamdulillahirabbil’alamiin, bersyukurlah orang-orang yang bisa bersyukur, karena banyak orang lupa untuk bersyukur dari hati, untuk kemudian diungkapkan dengan ucapan dan perbuatannya.

Bekasi, 10 februari 2010

Jumat, 01 Mei 2009

Mati lampu?

Mati lampu nggak punya lilin?
Asal punya minyak goreng dan potongan kapur, kayu atau kapas (atau apa aja deh yang bisa menyerap minyak,) dan sumber api (bisa korek api atau kompor gas), InsyaAllah, tetap bisa terang…..

Caranya:
Tuangkan minyak goreng secukupnya pada sebuah wadah tahan api.
Masukkan potongan kapur atau kayu, atau kapas ke dalam wadah, lalu bakar. Jadilah lilin hasil karya sendiri. Kalau minyak hampir habis bisa dituangi lagi.
Tapi awas ya, jangan coba-coba pakai minyak tanah… Bisa-bisa..wusss!! Si jago merah jadi musuh deh!

Jumat, 03 April 2009

Untuk sebuah sapaan: Ibu Guru

Tak terasa, PUD Wali Barokah sudah berjalan hampir 3 bulan. (Ee..h baru 3 bulan kurang ya? Perasaan sudah lama….??)
Dari 92 siswa yang terdaftar, kira-kira 85an yang aktif. Bahkan ada 2 yang bukan siswa tapi aktif hadir. Yaitu Alya, anakku, dan Dara, anak Bu Wati. Keduanya belum terdaftar karena saat pendaftaran ditutup usia mereka belum genap 2 thn. Tapi semangat Alya untuk pergi ke PAUD benar menggebu.
Kadang belum pukul 8 pagi saat PAUD dimulai dia sudah ribut mengajak ke PAUD.
“PAUD! PAUD!” katanya sambil menarik-narik aku.
Kadang-kadang malah sore hari, atau malam hari dan hari libur mengajak ke PAUD. Bila kondisi memungkinkan kuajak ke PAUD dan melihat sendiri kalau saat itu tidak ada kelas. Halaman rumah Pak Dwi tidak ada tikar puzzle dan perlengkapan PAUD lainnya.
Sampai di rumah Alya biasanya cukup senang kalau aku menyanyikan lagu “Lonceng Berbunyi”, lagu wajib saat baris untuk “masuk kelas”. Judul aslinya aku tidak tahu. Apalagi pengarangnya.
Kalau aku menyanyikan lagu itu, Alya akan melompat-lompat di kasur dengan gembira, dan menjelang lagu berakhir dia akan berseru, “Lagi! Lonceng lagi!”
Jadi aku terus bernyanyi tanpa peduli orang lain tutup kuping mendengar suaraku yang fals, sampai Alya bosan. Kalau ikut PAUD juga ketika yang lain berbaris rapi Alya akan melompat-lompat di luar barisan.
Aku jadi teringat, waktu kecil aku punya banyak cita-cita, salah satunya guru. Aku nggak mengira kalau sekarang aku benar-benar jadi guru. Guru yang tanpa tanda jasa. Soalnya ya memang benar-benar cuma mengajar, wong nggak ada imbalan materi. Malah seringnya keluar biaya untuk ini dan itu. Tapi hati rasanya senang aja. Senang melihat murid-murid yang imut dan lucu.
Ya tentunya ini karena dukungan penuh dari suami yang Alhamdulillah meridloi dan juga mencukupi. Jadi, terimakasih suamiku, untuk segalanya yang telah engkau limpahkan untukku. Sehingga aku bisa menikmati saat-saat di depan kelas tanpa memikirkan urusan yang lain.
Sungguh senang rasanya kalau sedang berada diantara anak-anak yang imut dan lucu itu, dan mereka memanggilku Ibu Guru. (Jadi sebenarnya tetap ada tanda jasanya ya, yaitu sapaan: Bu Guru...!).
Alya (baju kuning), diantara teman-teman PAUDnya.

Rabu, 18 Februari 2009

Sebuah Pelukan untuk Muridku Sayang

Hari ini tgl 16 February 2009, Alhamdulillah PAUD berjalan lancar meski tidak ada Dwi dan Uya. Keduanya sedang mendaftar kuliah di UT, jurusan PG PAUD. Jadi, aku, Mila dan Bu Marno yang mengajar.
Mengajar anak 2-3 tahun kadang bĂȘte juga. Betenya, anak-anak itu masih suka sibuk sendiri dan nempel sama orangtua atau pengasuhnya. Kalau kita bicara lebih sering dicuekinnya. Jadinya kita lebih sering ngomong sendiri.
Hari ini yang masuk kelas A, yaitu kelompok usia 2-3th yang terbagi menjadi kelas A1 (Jeruk) dan A2 (Apel). Masing-masing mendapat waktu 1jam. Kelas berikutnya C (Anggur), untuk kelompok usia 6 thn. Kelas C kebagian waktu 2 jam karena lebih dipersiapkan untuk masuk SD.
Kelas yang berlangsung di halaman rumah pak Dwi Haryoto ini menyenangkan. Setelah berbaris dan menyanyi anak-anak duduk rapi. Mereka lalu berdoa, dan bermain.
Anak kelas A main donat-donatan, masak-masakan, binatang-binatangan dan bola basket serta bola-bola kecil aneka warna. Setelah lelah bermain, mereka istirahat, makan dan pulang.
Anak kelas C bermain lego. Ada 6 plastik lego yang ukurannya tidak sama. Kutumpahkan saja di depan mereka. Menurutku, anak-anak seusia itu akan dengan sendirinya memilih lego mana yang cocok dengan yang dimainkannya.
Merekapun asyik bermain. Kadang-kadang ada keributan kecil karena berebut, tapi pada umumnya mereka bisa bermain bersama dan saling berbagi.
Usai main lego, anak-anak istirahat. Setelah itu mereka menyanyi satu-satu maju ke depan. Ada yang menyanyikan lagu pelangi, balonku, dan bintang kecil. Alhamdulillah kebanyakan sudah berani.
Menjelang pulang, kami bernyanyi lagu aku dan kamu (judul aslinya apa aku nggak tahu.)
Aku, Aku, Aku, Aku ,Aku….
Kamu, Kamu, Kamu, Kamu….
Aku bertemu kamu
Hadap-hadapan… Salam-salaman….
Anak-anak berdiri sepasang-sepasang saling berhadap-hadapan. Ketika ada satu anak yang mogok tidak mau ikutan, tempatnya kugantikan. Seru juga saling berhadapan dan bersalaman. Salam-salamannya lalu kuganti dengan loncat-loncatan. Setelah itu kuganti dengan peluk-pelukan.
Ketika kata salam-salaman kuganti dengan peluk-pelukan, dan anak yang berpasangan denganku kupeluk, ternyata anak itu sangat suka dan menikmatinya. Teman-temannya pun iri dan minta berpasangan dengan ibu guru supaya kebagian dipeluk.
Ah…ternyata anak-anak itu begitu gembira dengan mendapatkan pelukan dari gurunya….

Kamis, 05 Februari 2009

Nyasar

Pelatihan PAUD di Cikarang Barat
Kemarin 29 Jan 2008, aku menghadiri pelatihan penyelenggara PAUD di Cikarang Barat.
Info pelatihan kudapat dari Ibu X, melalui Bu Wati, bendahara PAUD Wali Barokah.
Infonya: tgl 29-31 Jan ada pelatihan PAUD di telaga Sakinah jam 9.
Aku tanya surat undangannya, nggak ada. Waktu kutanya, alamat lengkapnya mana? Bu Ilham, atau Bu Wati, menjawab, balai PKK depan telaga Sakinah. Sedangkan Bu Toto, atau Bu Eliyati, ketua PAUD, mengatakan ke telaga Sakinah aja, nanti cari tempatnya.
Rencananya aku dan Bu Wati yang berangkat. Tapi karena hari itu Bu Wati harus rapat di SMP anaknya, aku berangkat dengan Mila, salah seorang tutor.
Karena bayanganku pokoknya datang ke telaga Sakinah dan cari di sana, kupikir tempatnya InsyaAllah mudah ditemukan.
Jadilah hari itu jam 8.30 kami berangkat, setelah minta ancer-ancer Pak Wijayanto, suamiku. Katanya. Dari kompas ke kiri terus kira-kira 5 km. Nanti kiri jalan ada plang telaga Sakinah. Kalau sudah sampai terminal Cikarang, berarti kebablasen.
Ternyata memang kami kebablasan karena papan nama telaga Sakina cuma ada rangkanya saja dan papan nama si sebelahnya sudah tidak jelas terbaca.
Setelah bertanya pada orang yang menurutku berpakaian petugas retribusi (Bawah biru tua, atas biru muda banget, mendekati putih) di depan terminal, kami diberitahu ancer-ancernya. Kami harus putar balik, sebelum mesjid yang besar di kanan jalan, belok kanan. Kutelpon Bu Wati katanya sblm RS Karya Medika belok kiri kalau dari tambun.
Akhirnya kami sampai juga di perumahan telaga Sakinah. Di gerbang dihentikan satpam. KTP ditukar kartu tamu. Waktu kutanya tentang pertemuan PAUD, ternyata dia nggak tahu. Aku ditunjukkan jalan ke rumah ketua RW.
Kucari rumahnya, setelah ketemu ternyata beliau tidak ada di tempat.
Mila kelihatan sudah capek, “Kasihan deh kita…” komentarnya.
Kutanggapi dengan senyuman saja. “Segala sesuatu akan ada akhirnya. Apa yang kita lewati adalah qodar Allah, dan apapun itu, Allah pasti menyimpan sesuatu hikmah di baliknya.”

Termasuk kami berdua jadi bola pingpong atas kesembronoanku mengajak pergi orang lain ke suatu alamat yang tidak jelas. Kalau soal kesasar sih sepertinya makanan selingan buatku…hehe. Maksudnya biarpun tidak selalu, aku sering kesasar. Dan sepertinya nggak kapok-kapok. Tapi biasanya aku sendirian. (Don’t follow me, I’m lost too…) Lain ceritanya kalau ngajak orang. Aku jadi merasa bersalah. (Maaf ya Mila…)
Oleh tetangga sebelahnya disarankan ke rumah ketua PKK, nggak jauh dari situ. Kukunjungi rumah yang ditunjuk. Ternyata bukan rumah ketua, tapi rumah sekretaris.
Namanya Ibu Lia, orangnya ramah dan baik hati. Beliau tidak tahu tentang acara PAUD, tapi berbaik hati cari informasi kepada yang dikenalnya by telepon. Hasilnya, nihil. Hari itu gak ada kegiatan apa-apa tentang PAUD atau PKK di Telaga Sakinah. Biasanya juga kalau ada kegiatan apa-apa, beliau ini seksi sibuknya. Beliau mengatakan mungkin di sekolah Darul Fikri, yang letaknya di dekat Telaga Sakinah, karena di sana pernah ada pelatihan PAUD.
Keluar dari rumah Bu Lia, aku dan Mila duduk-duduk di depan warung, minum teh botol sambil nunggu info dari Bu Eli dan Bu Wati tntang alamat yang jelas. Waktu Bu Lia telpon aku juga telpon Bu Eli dan Bu Wati.
Bu Eli telpon, karena tidak bisa menghubungi Ibu X (nggak tau nomor telpnya), info terakhir pelatihan PAUD ada di sekolah SMP di telaga Sakinah. SMP apa tidak jelas, dicari aja…
Dari Bu Wati aku di SMS nomor Ibu X. (Maaf bu Wati, rapatnya sering kuganggu dengan telepon-telepon dan smsku).
Kutelepon Ibu X yang sedang sibuk di kantornya. Kata beliau, pelatihan bukan di telaga sakinahnya, tapi di depannya. Telaga sakinah masih terus, nanti cari UPTD Cikarang Barat. Kalau sudah ketemu UPTD, tanya di mana ITKG atau IGTK atau apa gitu, aku lupa. (sujujurnya sampai sekarang saya belum paham apa itu UPTD. Pernah diberitahu singkatannya tapi nggak nyangkut di kepala. Pokoknya urusan pendidikanlah…:P)
Ya sudah deh, aku dan Mila keluar dari Telaga Sakinah, bermaksud kembali menyusuri jalan kearah terminal cikarang. Tapi aku lalu ingat, kenapa nggak telpon Uya aja, sekertaris PAUD Wali Barokah. Kan Uya sering ‘melanglang buana’, alias pergi-pergi ke mana-mana.
Tadinya Uya bingung juga kutanya. Tapi ketika kusebutkan UPTD, dia ingat kalau di perumahan Taman Aster ada UPTD. Yah, untung-untunganlah, sekalian balik ke rumah, karena perumahan Taman Aster tadi sudah terlewat, agak jauh di belakang Telaga Sakinah. Kalau nggak ketemu, rencananya kami pulang saja.
Sebenarnya, sehari sebelumnya, aku dan anak-anakku –Sekar, Yudha, Bagus, Alya, ke Fedus (Family Education Series, bisa dilihat di website, www.fedus.org). Di sana ada perpustakaan mini. (Kami berlima naik satu motor. Kayak rombongan sirkus…hehe) Ketemu Ibu Hurul , kepala PAUD Bangkit Jaya. Bu Hurul menyinggung masalah pertemuan PAUD hari ini. Beliau mengatakan tempatnya di Aster, tapi belum tahu juga.
Mendengar itu, aku sudah konfirmasi ke Bu Wati dan Bu Toto, mungkinkah tempatnya di Taman Aster dan bukannya Telaga Sakinah. Beliau berdua mengatakan di Telaga Sakinah, bukan Aster. Mungkin penyelenggaranya lain-lain.
Sampai di Taman Aster, pas di pinggir jalan ada papan nama UPTD. Kami masuk dan sampai di tempat parkir kira-kira sudah jam hampir jam setengah 11 siang. Kutanya seorang Bapak berseragam coklat-coklat pemda yang sepertinya baru tiba. Bapak itu malah bilang kalau kantor UPTD ada di cibitung.
Cibitung mak! Innalillahi (Baru saat itu aku ingat untuk istirja’ –payah deh).
Cibitung kan bisa dibilang dekat rumah. Kami sudah jauh-jauh sampai terminal Cikarang, masa balik ke Cibitung.
“Masa sih Pak? Kok plangnya ada di sini?” tanyaku.
“Iya di sini ada plangnya tapi kantornya di Cibitung. Dekat pasar induk.”
Aku nggak percaya. “Kalau IGTK?”
Apa itu IGTK? Aku juga nggak tahu.
Akhirnya Bapak itu nanya perluku apa, dan dia masuk ke dalam tanya sama orang di dalam.
Tak lama kemudian dia keluar dan membawa kabar gembira. Benar ada pelatihan PAUD, tapi tempatnya agak masuk ke dalam arah perumahan Aster. Dia menunjukkan arahnya, nanti ada lapangan belok kiri. Di belakang lapangan itu pelatihannya. Tapi namanya bukan IGTK.
Terserah deh namanya apa. Yang penting tempatnya ketemu.
Sesampainya di sana, banyak ibu-ibu berkumpul. Aku memarkir motor dan kusuruh Mila tanya pada Ibu-ibu yang jaga absen, apa benar disitu tempat pelatihan PAUDnya.
Memang benar.
Alhamdulillah. Aku lega. Apalagi ada beberapa orang juga yang baru datang dan saat absen diberi map plastik berisi makalah, notes dll.
Tapi waktu aku mau absen, ternyata PAUD Wali Barokah nggak ada daftarnya.
Nah lo!
Gimana nih? Boleh masuk nggak?
“Kalau mau masuk, masuk aja Bu.” Kata Petugasnya yang berpakaian hitam-hitam dengan kerudung biru muda. “Dapat ilmunya, tapi nggak dapat apa-apa.” Maksudnya nggak dapat map plastik beserta isinya, nggak dapat snack dan makan dan entah apa lagi.
Aku dan Mila masuk dan Alhamdulillah masih dapat tempat duduk. Gak apa-apalah nggak dapat lain-lain selain ilmu. Toh kami datang juga tujuannya cari ilmu.
Setelah bisa duduk tenang, ku sms yang tadi kuganggu dengan telepon-teleponku.
Alhamdulillah sudah sampai tempat pelatihan. Nyasarnya 2 jam. Sebuah pelajaran: kalau mau pergi ke suatu tempat, harus tahu alamat jelasnya dulu….
Biar waktunya tinggal sedikit, banyak ilmu yang bisa kami dapat. Nabi bersabda, carilah ilmu sampai negeri cina. (Bukan carilah ilmu sampai dapat walau kesasar sampai kemana-mana…huahaha… Aku masih sering menertawakan diri kalau ingat itu…)