Selasa, 26 Agustus 2008

pussy4

Kin dan Kuro tumbuh dengan sehat. Mereka gendut-gendut dan lucu-lucu. Pussy kelihatannya sangat menyayangi mereka. Dia selalu menjaga anak-anaknya. Kalau ada kucing lain mendekat, Pussy pasti mengusirnya.
Kalau kamu melihat tingkah Kin dan Kuro, kamu pasti tertawa! Soalnya mereka benar-benar lucu!
Makin lama mereka makin besar. Hampir separuh besar Pussy.
Pussy kelihatannya mulai genit. Dia kembali bikin ulah dengan pipis di sembarang tempat. Belakangan aku tahu dari acara layar satwa di televisi, kalau itu dilakukannya untuk mengundang kucing jantan. Kucing-kucing jantan akan mencium bau pipisnya dan mereka akan tahu kalau Pussy sudah siap kawin dan punya anak lagi.
Pussy mulai galak pada Kin dan Kuro. Dia marah kalau anak-anaknya mendekat.
Nggak lama kemudian, kucing-kucing jantan berdatangan. Kuhitung di halaman rumah ada lima ekor. Ada yang warnanya oranye (kupikir itu bapaknya Kin), ada juga yang hitam (yang ini kukira bapaknya Kuro), ada yang belang-belang juga. Mereka mengeluarkan suara seperti suara bayi. Berisik sekali.
Pussy kubawa masuk rumah, lalu semua pintu dan jendela kututup. Tapi seperti yang sudah-sudah, kucing-kucing jantan itu pantang menyerah. Ada yang berhari-hari menunggu Pussy di halaman rumah. Ada juga beberapa yang naik ke plafon. Mereka berkelahi di sana. Akibatnya, plafon rumah jebol lagi.
Kalau dihitung-hitung sejak ada Pussy sampai sekarang Plafon rumah sudah jebol empat kali.
Pussy juga sering muntah di mana-mana.
Ibu marah lagi.
“Ayo, ucapkan selamat jalan pada Pussy.”
Aku yang sedang mengerkajan PR kaget mendengarnya. Hatiku langsung sedih.
“Ibu mau apa?”
Ibu bilang sudah nggak tahan lagi dengan tingkah kucing-kucing itu. Pussy akan dibuang lagi.
“Ya.. Ibu? Jangan….” Aku dan adik-adikku protes.
Tapi Ibu tetap dengan kemauannya. Pussy pun jadi dibuang. Kali ini di pasar yang lebih jauh tempatnya.
Aku sedih. Sedih sekali. Pussy adalah binatang kesayanganku. Dia sudah lama berada di rumah ini. Sudah pernah dibuang dan bisa kembali lagi. Masa dibuang lagi? Kalau dibuang, apakah bisa kembali lagi?
Aku sungguh berharap Pussy kembali lagi. Kadang-kadang aku membayangkan kalau tiba-tiba Pussy muncul saat kami bermain, atau mengerjakan PR. Tapi hari demi hari berganti, dan Pussy nggak pernah muncul lagi.
Kin dan Kuro semakin besar.
Lalu aku sakit. Aku batuk-batuk terus. Terutama di malam hari dan menjelang pagi. Kalau batuk-batuk, aku sering muntah. Tubuhku yang sudah kurus, makin kurus. Ayah dan Ibu membawaku ke dokter, tapi sampai obatnya habis, sepertinya aku belum sembuh betul.
Aku dan adik-adikku di tes mantoux, yaitu tes untuk mengetahui apakah paru-paru kami terkena penyakit. Caranya dengan menyuntikkan suatu cairan khusus di bawah kulit lenganku. Aduh..!! Sakit sekali waktu disuntik. Soalnya nyuntiknya pelan-pelan, biar obatnya tetap berada di bawah kulit, nggak masuk ke daging atau malah keluar lagi.
Tiga hari kemudian, lengan yang bekas disuntik dilihat lagi. Ternyata Bagus yang positif paru-parunya terganggu. Orang-orang bilang kena vlek. Aku dan Yudha nggak papa. Tapi batukku nggak sembuh-sembuh juga.
Hingga suatu hari, Ibu dan Ayah mengira, bulu-bulu kucinglah penyebabnya. Hal itu dibenarkan oleh dokter yang kami datangi.
“Kucing? Singkirkan!” kata dokter itu.
Oh my God! Akhirnya dengan berat hati aku mengantar Kin dan Kuro pergi.
Kin dan Kuro dimasukkan dalam tas besar yang pernah dipakai membuang Pussy dan Harimau. Dengan naik sepeda motor, Ibu, aku dan Mbak Umi, yang membantu Ibu di rumah, membawa Kin dan Kuro pergi jauh dari rumah, dan melepaskannya di dekat sebuah perumahan.
Aku nggak ingin mereka dibuang seperti itu. Tapi kalau tetap ada kucing di rumah, nanti sakitku nggak sembuh-sembuh.
Selamat jalan Kin dan Kuro. Jaga diri kalian baik-baik ya! Dan jangan lupakan aku!
Sepanjang jalan pulang aku ingin menangis rasanya.
Ayah dan Ibu lalu membelikan aku sepasang Hamster untuk ganti kucing-kucingku. Mereka kuberi nama Cana dan Cini.
Kenapa Hamster? Karena Hamster selalu ada di kandang dan nggak berkeliaran ke mana-mana. Mereka nggak akan tidur di kasurku dan meninggalkan bulu-bulu rontok di situ.
Tapi Hamster itu beda dengan kucing. Waktu aku ingin memegangnya, dia malah menggigit! Aduh sakit sekali! Ibu bahkan digigit sampai berdarah. Hamster bukan hewan jinak yang senang dipegang-pegang dan dimanja.
Sebenarnya aku suka hamster, tapi aku lebih suka kucing….. Aku mau Pussy, Harimau, Kini, Kin dan Kuro……
Hiks! Aku hanya bisa mengenang mereka sekarang……..
Akankah aku bisa bertemu dengan mereka lagi….???

TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar: