Rabu, 05 Mei 2010

Rindu

Deru kipas angin dan detak jam dinding,
malam telah larut hadir bersama sunyi.
Beberapa mata telah terpejam dalam damai.

Aku tidak ingin tidur.
Malam adalah duniaku.
Dunia yang hening, tanpa celoteh anak-anak.
Tak ada yang bertengkar.
Hanya aku.

Tapi aku tidak ingin sendiri.
Kuingin engkau ada di sini.
Sayang, yang kucemburui telah mendominasi dirimu.
Pekerjaanmu.
Membuatmu sangat lelah dan tertidur lelap.

Lalu rasa rindu menggigiti hatiku.
Teringat lembut dan hangat dirinya dalam pelukku.
Senyumnya, yang seperti mentari menyinari hatiku.
Dirinya, yang selalu ada saat kuinginkan.
Walau cuma kupandang.

Rasa rindu yang mengalirkan air mata.
Perih terasa saat merindukan dirinya.
Rindu yang tak kumengerti.
Rindu yang tak bisa kuhindari.

Rinduku,
Hanya aku yang tahu.
Mungkin engkaupun tak mengerti.
Tak kuharap engkau mengerti.
Ini rasa yang tak sama.
Jadi tak perlu dicurigai.

Kulihat dirinya dimana-mana.
Padahal waktu telah berselang lama.
Tak ada dia.
Tak apa.
Karena aku punya dirimu.
Dirimu, yang takkan kutukarkan dengan apapun.

Rinduku tinggal rindu.
Kutahu mimpi itu.
Engkau pun tahu rasa itu.
Dia yang sama-sama kita sayangi.
Mungkin dengan cara yang berbeda.

Semoga Allah menjaganya.
Semoga Allah melindunginya.
Semoga Allah membahagiakannya.
Semoga.

Tambun, 5 mei 2010.
untukmu dan untuknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar: